Razeta

Razeta
Undangan Hidayah 2



Sendiri itu sepi. Kata mereka yang tak tau bagaimana nikmatnya bermesraan dengan diri sendiri, memanjakan diri dengan Dia yang maha mengetahui dan mengerti hati.


Razeta mengurung diri dirumah sudah lebih dari seminggu sejak kejadian sakit hatinya pada orang-orang yang dia pikir baik itu. Perasaan di abaikan, tidak diterima, membuatnya berfikir mungkin memang tidak ada lagi tempat untuk orang berdosa di antara mereka yang begitu sholeha dan pandai menjaga.


Apa mungkin sudah takdirnya menjadi orang jahat selamanya?


Seorang muslim itu bukankah


berkewajiban untuk berdakwah? Lalu bagaimana bisa jika muslim itu sendiri justru menutup diri? Begitu susah


hatinya menerima mereka yang belum baik untuk melangkah bersama di jalan Allah. Yang baik memang kebanyakan hanya mau berteman dengan mereka yang juga baik, tidak ada tempat untuk orang-orang yang belum baik. Dengan dalih hadist Rosulullah :


Permisahan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberi minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ( percikan apinya) mengenai pakaian mu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap."


Hai itu bukan serta merta membuat kita menjauhi si bau asap, harusnya dengan yang harum yang kita miliki bisa membantu sedikit menyamarkan bau asap itu, kan?


Jika semua orang baik hanya mau berteman dengan yang baik maka tidaklah mungkin Umar bin Khattab kini makamnya berada di sebelah makam Rasulullah Saw padahal beliau hampir membunuh Rosul sendiri, atau


Khalid bin Walid tak mungkin jadi pedang Allah padahal dulu dia adalah orang yang memerangi agama Allah.


Bukankah itu sudah cukup menjadi tauladan bagi kita? Allah maha pengampun juga menerima taubat dan Rosulullah yang begitu mulia dengan memaafkan. Lalu kita siapa hingga berlaga seperti hakim dan merasa Limited edition? Kita adalah hamba, dia juga, mereka pun sama dan kita bersaudara. Agama yang kita junjung tinggi itu bukankah agama perdamaian? Rahmat bagi seluruh alam? Lalu bagaimana kita bisa berlaku demikian pada saudara seiman? Jangan sampai karna perbuatan kita jadi membuat orang takut kepada islam, memandang islam agama yang keras dan tak toleran sedangkan islam tak pernah mengajarkan hal itu pada kita.


"Permisi Non, ada yang mencari non Razeta di depan," Kats asisten rumah tangga Razeta yang baru saja akan mendapatkan bentakan karna Razeta kaget dia muncul dengan tiba-tiba mengusik Razeta yang sedang melamun diatas ayunan dibelakang rumahnya.


"Siapa mba?" Tanya Razeta cuek


"Gak tau non, pake hijab."


"Aurora?" Tanya Razeta penasaran kalau-kalau sahabatnya itu akan datang seperti biasa saat dia kesepian dan mengurung diri. "Bukan, non."


Jawab asisten rumah tangganya singkat.


Ada rasa penasaran dihati Razeta,


siapakah yang datang kerumahnya


menggunakan jilbab? Setaunya dia tak punya temen berjilbab selain Aurora.


Buru-buru Razeta berjalan ke ruang tamu rumahnya.


Seorang gadis dengan jilbab


Panjang berwarna hitam duduk


memunggunginya, Razeta tau itu


bukan Aurora. Tapi siapa?


"Maaf, lo nyari gue?" Sapa Razeta


yang membuat perempuan itu


berbalik hingga Razeta bisa melihat wajahnya, namun Razeta mendadak tak percaya dengan pengelihatan nya sendiri. "Rita.Rita?" Razeta berusaha meyakinkan dirinya lagi.


"Biasa aja dong lo, haha." Rita tertawa


melihat ekspresi kaget Razeta yang


menurutnya sangat berlebihan. "Gue cantik banget, ya?" Tanyanya bergurau.


"Iya asli lo cantik banget, gue gak nyangka deh. Kok bisa? Cerita dong lo kasih pupuk apaan baju-baju lo mendadak tumbuh besar gini?" Tanya Razeta yang penasaran dengan perubahan Rita yang berlinang sangat singkat bisa semenakjubkan ini. Rok mini dan baju kembennya sudah tumbuh panjang, rambut ombrenya sudah berganti jilbab panjang menutupi bokongnya.


"Nih," Rita menyodorkan sebuah undangan berwarna gold pada Razeta dengan bertuliskan nama Rita dan Umar.


"*****, lo mau nikah???" Razeta


terlihat begitu kaget dan tak percaya Rita yang selama ini hanya main-main bergonta-ganti pasangan benar-benar akan menikah dan itu artinya terikat pada satu lelaki saja? Sulit dipercaya.


"Yups!" Jawab Rita singkat dengan senyum sumringah.


"Kok bisa? Lo hamil ya? Umar siapa? Gebetan lo di club juga?"


Rita menoyor kepala Razeta begitu


saja "yeeeee enak aja lo, boro-boro hamil, pegangan tangan aja belum.


Gue ketemu dia di masjid kampus,


dia cowok ganteng yang sering negur


gue kalau di lingkungan masjid harus pake baju muslimah tapi gue selalu sewot dan malah bilang " Siapa lo


ngatur-ngatur gue? Bapak bukan,


pacar bukan." Eh dia malah jawab


"Gue bukan bapak, apalagi pacar lo.


Tapi kalau boleh gue mau jadi suami lo,


Bapak dari anak-anak lo. " Doi bilang


Mau jagain gue dan ngajakin gue nikah dengan syarat gue harus mau pake baju syar'i. Awalnya gue gak percaya eh malah dia dateng beneran. Terus gue pikir gue juga udah capek sama hidup yang gini-gini doang. Mungkin udah seharusnya gue berubah lebih baik."


Akhir cerita Rita.


"Tapi Rita, berarti lo berubah karna dia bukan karna Allah?"


"Iya, mungkin itu awalnya. Tapi gue sih nikmatin aja, hidayah kan perantarannya


Jadi nggak masalah kan awalnya karna apa gue berubah? Gue cuma gak mau kebanyakan mikir, action yang penting sekarang."


Razeta begitu terpukau oleh


pertanyaan Rita, ratu disko itu kini menjelma jadi calon ratu bidadari


rupanya. Iri. Ya, Razeta iri dengan keberanian Rita memulai langkahnya dengan berlari, jika di tengah


Perjalanan dia lelah setidaknya sudah cukup jauh langkah yang di tempuh hingga bisa berjalan agak santai sambil mengembalikan tenaga untuk kembali lari ke garis akhir, berbeda dengan dirinya yang memulai saja masih takut, bahkan belum mulai dia sudah berfikiran untuk menyerah.


"Ngapain lo ngelamun?" Tanya Rita


aneh melihat tingkah Razeta.


"Enggak, gue kagum sama lo. Bahkan gue udah hampir nyerah sama perubahan yang gue usahain ini padahal belum seberapa."


"Lo cuma butuh temen buat nerusin langkah ini, orang-orang kayak kita ini gak akan kuat kalau mau berubah sendiri. Itu juga salah satu alasan gue nerima ajakan nikah dari doi." Cerita Rita


"Maksud lo? Gue harus nikah juga biar punya temen hijrah?" Tanya Razeta polos.


"Ya bukan gitu juga si, lo bisa cari temen yang bisa ngajakin lo jadi lebih baik. Ngingetin kalau lo salah, dan ngajarin gimana yang bener."


"Susah, gue udah coba dan itu hasilnya nol! Justru yang ada buat gue berfikiran apa gue salah agama?" Razeta menceritakan sakit hatinya pada Rita,


dia merasa sendirian dan Rita pasti mengerti.


"Ra, lo gak selemah itu. Oke lo bilang


gue berubah karna laki-laki, dan gue


ngerasa cukup berhasil. Sekarang tanya diri lo, lo berubah buat apa?


"Buat diri gue sendiri, gue gak punya


siapapun selain Tuhan makanya gue mau balik ke Dia, dan gue takut mati dalam keadaan penuh dosa ini. Gue takut neraka, Rit." Razeta mulai terisak.


"Nah itu poin pentingnya! Surga dan neraka lo nggak bergantung sama siapapun. Mereka nggak berhak buat semangat lo turun, apalagi sampe mempertahankan agama ini. Gue emang belum banyak belajar si tapi gue yakin ini agama yang bener, rasain dengan hati nurani lo, gak perlu banyak berpikir sesuatu yang gak pantes lo pikirin. Ra, ini belum seberapa. Lo bakal dapet ujian yang lebih lagi waktu lo mutusin buat berubah, apalagi kita yang dari club masuk masjid. Godaannya luar biasa, gue bilang gini karna udah ngerasain."


"Dapet ujian saat akan berubah?


Maksud lo? Apa lo juga dapet ujian?


"Gue kira lo tau makanya tadi bilang gitu."


"Bilang apaan? Gue gak tau sama sekali.


Apaan si emang?"


"Lo abis dari mars atau gimana sih?


Heboh banget gosip gue dan lo gak tau?"


"Apaaan Ritaaaa? Cerita dong! Jangan bikin gue kepo deh."


"Gue apload foto pake baju syar'i


langsung di serang netizen cari sensasi karena sudah mulai redup, banyak deh hujatan mereka tapi ya banyak juga yang dukung jadi gue fine aja, terus gue upload langsung rame gosip gue gue hamil di luar nikah, hijrah karna mau nikah doang. Sampe calon suami gue di serang dikatain pansos, banyak banget lah sampe ada unfoll massal dari enam juta followers sekarang cuma ada dua juta doang. Banyak olshop yang batalin kerja sama, dan masih banyak lagi lah. Gue sempet down banget, gue juga ngira ternyata nggak haha."


"Terus kok lo fine fine aja sekarang?"


"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan di biarkan (saja)


Mengatakan, 'kami telah beriman'


sementara mereka tidak di uji lagi?"


Dengan lancar Rita menyampaikan ayat


Ke dua dari surat Al Ankabut itu, ayat pertama yang di ajarkan oleh calon suaminya itu.


"Gue gak ngerti, yang jelas dong." Keluh Razeta.


"Kalau lo ngaku beriman ya lo harus siap dapet ujian. Lo harus lolos dulu dari ujian ini baru Allah percaya sama taubat lo. Dan ujian setiap orang berbeda-beda tergantung kadar kemampuannya, jadi waktu lo dapet ujian berarti lo udah pasti bisa lulus cuma butuh kesabaran aja si menurut gue," Ucap Rita serius.


"Apa kita dengan pake jilbab kita mendadak bisa kayak ustadzah?" Tanya Razeta polos.


"Haha gue cuma nyampein apa yang gue rasain aja sih, kita kan sama jadi gue pikir mungkin ini bisa bermanfaat buat lo."


"Jujur ya Rit, gue mulai ragu sama agama ini. Aneh aja gitu, gue kira mereka yang ngerti agama itu pasti orang baik ternyata lebih mengerikan. Bener apa yang beredar kalau islam itu gak toleran, jangankan sama yang non muslim, gue yang muslim aja di perlakuan kaya begitu." Keluh Razeta.


"Yaelah bocah banget cara pikir lo,


orang-orang yang dateng ke club itu semua orang bakal mikir dia gak bener.


Mabuk, zina dan sebagainya kan? Lo hampir tiap malem ada di sana, tapi apa lo minum-minuman keras? Atau lo sex bebas? Enggak kan? Masih ada orang bener di antara orang yang nggak, begitu juga sebaliknya. Setiap kita liat muslim yang berhijab lebar dan bersorban pasti kita bakal mikir semua mereka pasti baik, tapi kan belum tentu. Kalau ketemu sama mereka yang kurang baik lo bisa ragu sama islam itu sendiri."


Jelas Rita panjang lebar.


"Entahlah Rit, gue belum bisa berpikir jernih. Mungkin nanti gue bisa


mencerna ucapan lo. Btw, selamat untuk pernikahan lo, gue ikut bahagia."


"Thankyou, gue tunggu kehadiran lo.


Gua balik dulu ya." Pamit Rita.