
Happy Reading ❤
Mama menatap Fauzan minta bantuan,
dalam hatinya mama sangat ingin menolak karna tidak bisa membiarkan
Razeta keluar dengan laki-laki yang belum sah menjadi suaminya.
"Ogah! Gue makan salad aja. Maaf
ya, bu, Razeta gak bisa gabung."
Razeta yang baru kembali dari kamar mandi menolak mentah-mentah usul William.
"Ta," Panggil William yang sambil berjalan ke arah sofa yang sedang di duduki oleh Razeta.
"Hmmmm."
"Lo cantik banget pake hijab,"
Puji William terhadap Razeta akan menjawab dengan narsis seperti biasa namun ternyata Razeta hanya melirik males kepadanya.
"Gue mau ngejelasin semuanya, ini gak
seperti apa yang lo pikirin, gue gak ada apa-apa sama Willy."
"Gak ada apa-apa tapi sampe punya
anak? Lo pikir tuh anak bisa jadi cuma
karna lo papasan di jalan trus injek jempol kakinya gitu?"
"Gue minta maaf, gue emang salah. "
Mengakui kesalahan sepertinya lebih baik untuk sekarang, karna Razeta belum bisa menerima penjelasannya.
"Hmmmm."
Mendapat jawaban yang lagi-lagi
hanya sebuah gumaman William menghembuskan nafas panjang, dia berjongkok di sebrang meja penghalang antara Razeta dan William itu.
"Dedek, uminya masih marah yah sama abi? Bilangin dong abi minta maaf."
William yang mencoba berkomunikasi
dengan bayi yang masih di dalam kandungan Razeta kini malah mendapat pelototan sempurna dari perempuan itu.
"GITU CARA LO PERLAKUIN WILLY
WAKTU HAMIL KAN?!"
"Astaghfirullah, salah lagi gue."
"Lo bikin gue bad mood banget tahu !
Males gue sama lo."
"Lo udah seanggun itu, cantik, MasyaAllah kayak bidadari surga,
gak baik lo marah-marah terus. Anak
Kita kasian nanti ikut emosian, gimana coba lo?
" Ya elo si bikin gue emosi mulu."
"Gini, tarik napas, hembuskan. Tarik
napas, hembuskan, huuuuu hwaaaa
tarik lagi, hembuskan...." William dengan seksama mencontohkan tutorial
cara bernafas yang baik pada Razeta agar dia merasakan lebih baik.
Razeta tertawa lepas ketika melihat tingkah laku William, seketika dia lupa
tentang amarah nya itu.
"Lo tambah cantik ketika tertawa seperti itu, bingung gue jadi makin cinta. Nunggu seminggu lagi rasanya lama banget."
"Dasar cowok gombal plus buaya darat. "
"Serah loh deh. Emm, Ta gue mau
ceritain semuanya sebelum pernikahan kita, gue gak mau ada rahasia dan nimbulin kedepannya."
"Enggak!" Jawab William tegas,
Razeta mencari kebohongan dari William
memutuskan untuk percaya.
"Gue percaya sama lo. Lo gak perlu buka kisah lama itu, gue udah mutusin buat nerima buat terima masalalu lo kayak
terima masalalu gue, dan untuk Mita
gue juga bisa terima. Sekarang fokus untuk masa depan kita saja, tolong bantu gue buat jadi lebih baik biar gue pantes untuk lo."
"Gue gak nyangka lo bisa bener gitu
otaknya."
"Williammmmm..."
"Hahahaha. Maaf-maaf, makasih banget
ya lo udah mau bersikap dewasa, gus janji akan berusaha buat lo bersyukur
atas keputusan lo ini." Ucap William tulus.
"Buktiin, kalau cuman janji mah anak kecil juga bisa itu mah."
"Siap, kom-"
"Assalamu'alaikum."
Suara laki-laki menginterupsi
percakapan William dan Razeta
suara yang tidak asing itu membuat jantung Razeta bertebar tak karuankaru,
dengan sekuat tenaga dia mencoba
mengendalikan dirinya agar bisa bersikap biasa.
"Walaikumsalam. Ada apa lo disini? "
William dengan sigap menutupi Razeta dari pandangan Alvin.
Dibalik punggungnya, Razeta sedikit.
gemetar namun dia merasa harus berani menghadapi Alvin sekarang.
"Silahkan bicara," Ucap Razeta yang sudah berdiri disisi William.
Alvin tersenyum "Thanks, Ta." Gue mau minta maaf sama lo, gue bener-bener
dihantui rasa bersalah selama ini.
Please, kasih gue kesempatan untuk memperbaiki semuanya, gue bakal berusaha jadi suami dan ayah yang baik buat lo dan anak kita-"
"Loh udah gila ya!" William sangat tidak bisa menerima ucapan Alvin, bagaimana bisa dia dengan lancang mengatakan hal semacam itu pada Razeta yang jelas akan segera menjadi istri William?"
"Gue pernah salah, tapi gue bisa berubah. Please kasih gue kesempatan,
Ta." Alvin terus memohon seakan tidak mendengar atau melihat bahwa ada William disana. Sementara Razeta mematung tidak menyangka Alvin
akan mengatakan itu.
"Demi anak kita, gue mohon lo harus nikah sama gue, Ta. Gak akan ada yang bisa sayang sama anak kita lebih dari gue, itu darah daging gue, gue bakal ngelakuin apapun untuk dia.
"Wahh udah gila banget ya lo! Ada calon suaminya disini, masa lo gak lihat gue."
"Ta, jawab gue. Gue janji akan memperbaiki semuanya, I'm muslim
right now. Allah udah kasih gue kesempatan kedua, sekarang gue juga mohon sama lo juga, Ta."
Alvin tidak menanggapi William sama sekali, dia hanya ingin bicara dengan Razeta, dia tidak peduli apapun yang dikatakan William.
William menarik napas, dia tidak bisa membiarkan ini lagi " Kalau sekarang lo muslim, lo harus tau bawah haram
hukumnya melamar perempuan yang sudah di lamar oleh laki-laki lain. Pergi dari sini!" Suara William sangat dingin,
tak pernah Razeta mendengar William berbicara seperti itu padanya.
Razeta masih belum bisa mencerna keadaan saat ini, dia dibuat bingung oleh sikap Alvin.
Alvin menatap tajam kepada William,
" Lo selalu ambil segalanya dari gue
juga? Gak puas dengan apa yang udah
lo punya?" Nampak dengan jelas ada persaingan dan dendam di antara kedua lelaki itu.