
Setelah dibuat lebih patah hati oleh kenyataan Razeta tak tau lagi harus melakukan apa.
Ingin tak bisa di tanpilkan bahwa saat ini
Razeta membutuhkan seorang teman berbagi, namun tak seorang pun yang dia miliki, namun rindu tak mampu mengalahkan ego.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!" Teriak
Razeta meleburkan sesaknya.
Entah kenapa dia harus mengalami semua ini, baru saja Razeta ingin belajar menjadi ta'at namun kenapa Tuhan
memberikan ujian-ujian ini padanya? Jika
Tuhan memang ada kenapa biarkan mama menyakiti istri pertama papa, lalu
kenapa mama dibiarkan tersiksa oleh perilaku papa? Kenapa Tuhan aku ada padahal tak ada cinta untukku? Pertanyaan-pertanyaan dalam benak nya
menghadirkan keraguan, benarkah Tuhan itu ada? Apakah Razeta salah menyembah Tuhan?
Tuhan tak pernah adil atas hidupnya
lalu untuk apa repot-repot menta'ati
Dia yang tak terasa adanya.
Razeta berteriak pada dirinya sendiri.
Di tariknya lengan kemeja yang dia pakai hingga terkoyak. Bayangan bahwa dia adalah anak haram begitu menghantui dirinya, perasaan hina dan kesedihan
mendalam tak bisa lagi di bendung.
Tapi saat kemudian dia menghapus air mata lalu mencoba tersenyum menatao kaca besar yang ada di kamarnya.
Razeta mengganti pakaiannya,
dia akan pergi ketempat dimana ia akan lebih tenang dan akan melupakan semua ini.
.........
Dress berwarna putih sejengkal di atas lutut yang melekat erat ditubuh Razeta
membuatnya tampak sangat mengagumkan, tubuh molek anugrah yang diberikan oleh Tuhan dia pamerkab pada para ****** yang haus akan azab Tuhan. Perutnya masih rata dan tidak akan Razeta biarkan membesar, anak ini tidak boleh hidup hanya menanggung
penderitaan.
Dentuman musik membuat Razeta bergerak sedemikian rupa mengikutinya,
beberapa pria mulai berjoget mendekatinya mencoba menarik perhatian Razeta berharap keberuntungan malam itu ada salah satu
dari mereka. Mulai dari yang gagah perkasa sampai yang nampak tua namun kaya raya tapi belum ada yang bisa menarik perhatiannya.
Cukup lelah Razeta kembali kemejanya,
malam ini dia tak ingin memesan jus jeruk seperti biasanya.
Razeta ingin masuk ke dunia berbeda,
dia ingin lupa malang
Razeta tak hafal nama
Minuman-minuman aneh itu, dia memesan apa yang biasa dia dengar
untuk di pesan oleh teman-temannya.
Bertender mengantarkan segelas kecil pesanannya, Razeta mengernyit menatap gelas itu. Mana bisa menghilangkan haus, pikirnya.
Baru saja Razeta akan meminum segelas air yang warnanya nyaris seperti air senin itu saat seorang pria dengan postur tinggi tegap dan atletis meminta izin untuk bergabung di mejanya.
"Boleh gabung?" Tak di respon oleh Razeta namun pria itu tetap duduk.
Razeta menatap pria itu tanpa ekspresi, a
Lelaki dengan jambang yang tipis di bawah dagu, mengenakan setelan jas lengkap.
Razeta menafsirkan usianya sekitar 25-29 tahun, cukup tampan namun terlihat menyedihkan dengan Keseduriannya.
"Ada apa?"Tanya pria itu karna sadar tatapan Razeta mengintimidasinya .
"Tidak, " Jawab singkat lalu meneguk minuman yang sejak tadi hanya dia pegang gelasnya.
Tenggorokannya terasa panas, Razeta mengambil gelas yang di gengaman genggaman pria itu yang berwarna hitam pekat dan kembali meneguknya, namun sama saja. Kepalanya mulai terasah
seperti di pukul bertubi-tubi dan pandangan yang burem. Orang sekeitarnya tak ada yang peduli, dengan dunianya sendiri-sendiri.
Terkadang kita lupa, atau Pura-pura amnesia bahwa banyak nikmat yang sudah di karuniakan-Nya untuk si hamba
yang selalu durhaka, mempertanyakan
keadilan tapi lupa hakikat ke imanann.
Razeta terbangun, kepalanya begitu
sakit dan rasa mual yang tak tertahankan, begitu saja dia muntah di sebelah tempat tidur. Dia benar-benar tak pernah merasakan ini sebelumnya,
sekujur tubuhnya pun ikut terasa remuk dan redam.
Razeta merasakan ada suatu hal yang tidak beres, dengan susah payah dia
memaksakan membuka mata. Yang
pertama dia sadari bahwa ini bukanlah kamarnya.
Razeta memutar otaknya mencoba mengingat ******** mana yang sudah membawanya ketempat ini namun kosong, dia tak mengingat apapun.
Dengan tertatih Razeta bangkit dari tempat tidur.
"Brengsek! Dimana lo!" Razeta terus
saja berteriak mencari yang dia sendiri tak tau siapa. Di kamar ini tidak ada orang selain dirinya, Razeta menangis
tersedu menyadari pakaian yang dia kenakan ini tak seharusnya. Kain hitam
yang tak sempurna menutupi dada hingga paha namun dia tak punya pilihan lain, Razeta akan bergegas pulang mengenakan pakaian ini.
"Udah bangun lo?" Sapa seseorang yang baru masuk ke kamar itu dengan santai