
Sinar matahari memasuki dari jendela seorang gadis yang berada di atas kasur
berwarna putih dengan kamar bernuansa putih hitam. Azzura membuka matanya perlahan ia terdiam saat merasa asing dengan kamar yang ia tiduri.
Ohh Iyhh Azka!
Azzura menoleh saat suara pintu kamar
mandi terbuka. Azka berdiri dengan
celana rumahan dan tidak memakai atasan membuat Azzura membulatkan matanya. Azzura memekik membuat Azka menoleh.
"Astaghfirullah Azka pake bajunya." Teriak Azzura.
"Iyaa sayang Azka mau pake bajunya."
Jawab Azka sembari melangkah ke tempat yang menyimpan pakaian nya itu.
"K-kemarin-"
"Mereka lagi di cari," ucap Azka memotong ucapan Azzura. Azzura terdiam. Dicari? Berarti mereka ada disekitar dirinya? Azzura memajamkam matanya, tangan nya meremas selimut
yang menutupi tubuhnya.
"Mereka siapa?" Azzura mendongak
menatap Azka yang berada di samping ranjang. Azka menunduk untuk melihat wajah gadis yang tidak seperti biasanya.
"Anak buah Aryan."
"Aryan?"
"Aryan Putra Pratama. Lelaki yang nonjok muka si kulkas."
"Apaa urusannya sama gue? Yang punya urusan kan abang sama dia?"
"Lo gak usah tahu."
............ ...
Flashback on
"Tunggu di sini."
Putri berlari dari dalam kelas dengan tergesa-gesa sesekali meringis kesakitan saat melihat beberapa siswa
berada di tanah dengan darah di wajah mereka.
"Permisi!!!"
Putri menggeser beberapa tubuh para cowok yang sedang berkumpul membuat sebagian dari mereka langsung minggir karna terkejut.
Putri berhenti berlari dengan nafas yang tergesa-gesa. Ia memandang satu
persatu cowok yang sedang duduk di hadapannya.
"Azka, Azzam!!!"
"Kenapa?"
Putri memukul dadanya yang tersakiti sesak karena berlari terlalu jauh. Ia meremas rok nya sebentar kemudian kembali bersikap biasa membuat ke emam cowok yang berada di hadapannya bingung.
"Kenapa sih?!" bentak Azzam. Putri menoleh dengan tatapan terkejut. Sialan gue jadi takut tiba-tiba. Putri memejamkan mata sejenak.
"Putri, kenapa?" tanya Azka dengan suara lembutnya. Putri menunjuk ke arah sekolah yang tidak begitu jauh dari
warung kecil ini.
"SMA Nusantara masuk sekolah!
Terus mukulin beberapa siswa yang baru mau pulang," jelas Putri.
Putri menelan salivanya begitu merasakan aura yang tidak ia inginkan.
Putri mengigit bibir bawahnya karena gugup setengah mati ketika melihat tatapan tajam dari anggota Randa yang mendengar.
"Lo kenapa masih di sekolah?" tanya Noval kalem. Putri menoleh dan terdiam
karena tidak pernah melihat wajah Noval sedatar itu, walaupun suara cowok itu biasa saja tapi Putri sudah mengetahui bahwa Noval sedang menahan emosinya.
"Gue baru selesai ngerjain tugas sama Azzura, Vina, dan Lia," balas Putri dengan sedikit bergetar. Putri bersumpah jika tidak penting, ia tidak akan masuk ke dalam kandang Randa.
Putri menepuk kening nya membuat anggota Randa menatap nya dengan bingung ke arah dirinya. Putri kenalan salivanya dengan susah payah.
ucap Putri. Beberapa anggota Randa menatap Azka dan Azzam, begitu juga dengan Putri yang menatap Azzam yang sedang menahan emosi nya.
Azzam bangkit dari posisi membuat
Putri menggeser tubuhnya, ia membuangnya nafas lega. Putri menduduki bokongnya tepat dimana Azzam duduk tadi. Gadis itu memejamkan matanya karena angin sore mengenai wajahnya.
"Lo mau kemana kulkas? Diem di markas gue sama yang lain bakal ke tempat Aryan," ucap Azka sembari berdiri dan menuju ke arah motornya.
"Gak dia adik gue, gue yang harus jaga dia."
"Iyaaa asal lo harus ada di belakang gue."
Azka kembali menyalakan motor nya
diikuti dengan anggota lain. Azka 30 menit lebih berkeliling tetapi dia belum mendapatkan info di mana Zura berada.
"Lapangan tengah."
Azka menoleh saat Firman berada di sampingnya. Azka mengangguk dan
langsung menarik gas ke tempat dimana Zura berada.
Seperti orang kesetenan, mungkin itu pantas untuk Azka saat ini. Ia langsung turun diikuti yang lainnya. Seluruh anggota Randa mengikuti sang ketua.
Azka membuka pintu sebuah gudang yang berada di pinggir lapangan.
"Dimana Azzura?" tanya Azzam begitu
masuk ke dalam. Noval dan Firman berdiri di samping Azzam dan Azka, sedangkan anggota Randa berada di belakangnya.
Suara tepuk tangan dari pintu
membuat mereka menoleh bersamaan.
Azka mempertajam pengelihatan ketika seorang gadis keluar bersama laki-laki tersebut.
Azka mengeraskan rahangnya
begitu melihat luka goresan di tangan
Azzura. Tanpa aba-aba Azka langsung
memukul musuhnya itu, begitupula
dengan yang lain.
Azzura hanya diam di ikuti air mata
yang terus mengalir dari matanya. Zura terjatuh di tanah ketika laki-laki yang memegangi dirinya mendorongnya kebawah. Zura merasakan bokongnya yang menyentuh tanah.
Azzam mengahampiri sang adik yang terduduk di tanah, ia memberikan jaket
miliknya. Zura menatap Azzam yang membuat Azzam menunduk.
"Maafin abang nggak bisa jaga kamu."
"Bukan salah abang, abang please jangan bilang ke mama ya."
Bugh
Bugh
Bugh
Zura mengalihkan pandangan begitu terdengar suara pukulan. Zura memejamkan mata sejenak melihat adegan di depannya, tubuh nya bergetar hebat membuat Azzam menunduk kembali. Azzam langsung menutup ke dua mata Zura dengan tangannya.
Azka memukuli lawannya membuat Noval dan Firman menarik Azka secara paksa. Jika Azka terus-terusan memukuli lawannya, bisa mati hari ini juga.
Azka menunduk. "Maaf," ucap Azka.
Untuk pertama kali nya seorang Azka Pratama meminta maaf kepada seorang gadis selain mamanya.
"Azka."
"Makasih udah nolongin gue."
Azka tersenyum tipis.
Flashback off