Razeta

Razeta
Memaafkan



Ganteng: Lama cinta sama lo


Untuk itu lo terima cinta gue, Ra


Terima kasih udah tersenyum pagi


ini, semoga calon anak gue selalu sehat dan bahagia di dalam perut ibunya.


FYI : Bunga ini gue beli, bukan metik


Kalau coklat gue beli ditoko depan rumah sakit ini. Jadi lo makan coklat sambil cium bunga itu ya!!❤


Benar memang, Razeta sudah tersenyum


baru membaca dua baris pertama tulisan tangan yang rapih.


"Dasar gila."


Tidak bisa dia pungkiri, William datang


sebagai penawar dari dahaganya.


Entah bagaimana laki-laki itu bisa hadir


dan menunjukkan cinta pada Razeta,


tiba-tiba William mengajaknya untuk


menikah, yang awalnya Razeta pikir


sebagai candaan sekarang William mulai membuktikan keseriusannya dengan masuk islam dan berbicara langsung


pada Fauzan, meski menurut Razeta


itu gila, tapi tetap saja sebagai perempuan dia merasa tersanjung dengan sikap William.


"Lo ngapain masih pagi udah senyum-senyum aja?" Tanya Aurora


yang membuat Razeta gelagapan.


"Kepo!" Jawab Razeta sambil mencium bunga mawar yang di berikan William.


"Gue mau coklat silverqueen itu, kayanya enak banget gitu." Tanya Aurora yang membuat Razeta mengambil satu bucket coklat itu dan di sembunyikan di belakang punggung nya.


"Minta sama suami lo lah! Ini punya gue"


Bentak Razeta.


"Eh bentar deh, itu beneran dari


William? Terus lo bisa senyum-senyum gitu? Kemarin lo coba belain dia di depan mas Fauzan?


"Apaan sih, Ra. Eh, gue jadi


pulang hari ini kan?" Razeta mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tunggu pagi ini dokter visit. Lo suka William?" Cecar Aurora tidak


ingin berganti topik.


"Enggak!" Bantah Razeta


"Tapi gue perhatiin lo beda banget. Atau nggak lo udah suka sama dia ya?"


"Biasa aja, karna dia lucu orangnya


jadi suka bikin gue ketawa. Selain lo ya nggak ada yang bisa bikin gue bahagia."


"Emang dia pelawak? Pelawak aja di gaji ya dia kaga di gaji sama lo."


"Bukan sih, Ra, William emang baik cuman gue gak baik sama dia. Gue belum ada rasa suka sama dia. Dan juga


Gue masih kesel sama papa dan gue nggak mau ketemu papa dalam waktu dekat apalagi karna pernikahan."


"Lo masih marah sama papa?"


"Enggak!"


"Terus kenapa lo gak mau ketemu


Papa lagi?"


"Gue belum sanggup aja."


"Mau kapan lagi? Lo yakin masih punya waktu? Jangan sampe lo nyesel


nantinya."


"Gak tau, ngebayangin buat ketemu dan


minta maaf sama dia aja rasanya aneh banget. Gue gak pernah ngebayangin


itu sebelumnya." Jujur Razeta.


"Ta, papa diluar. Setiap hari Dateng kesini buat jenguk lo tapi papa udah gak berani masuk takut nyakitin lo, kalau lo udah ngerasa udah bisa maafin papa mana gue bakal bantu panggilin papa sekarang juga."


"Gu-gue gue takut."


"Innallaha ma ana." Aurora berusaha. menenangkan sahabatnya.


"Apaan lagi tuh artinya, mana gue


ngerti lo ngomong apaan." Keluh


Razeta.


"Allah bersama kita, Ta." Kalimat


Aurora berputar-putar di kepala


Razeta dan papanya sama-sama terdiam, Razeta bingung harus mulai dari mana sementara papanya takut bicara menyakiti Razeta lagi, dia belum bisa


memahami anak perempuannya itu.


"Pa.... " Panggil Razeta pelan. Papanya


yang sejak tadi mematung kini jalan mendekati Razeta. Razeta meraih tangan sang papa, diciumnya dengan hikmat.


Tangan ini yang dulu selalu dia tunggu


di teras rumah untuk menggendongnya,


tangan yang menghapus air mata saat dia menangis karena terjatuh, tangan yang gemar menyentuh kepala Razeta


dengan penuh kasih sayang.


"Razeta minta maaf," Lanjut Razeta


yang disambut peluk oleh papanya.


Laki-laki yang terlihat tegar kini


sudah menangis dalam pelukan kecil putrinya.


"Papa yang minta maaf, nak. Papa yang gagal, tapi papa janji akan perbaiki semuanya, maafin papa, nak."


Razeta tidak menjawab lagi, dia meredam semua emosinya, memaafkan dirinya sendiri adalah hal penting yang harus dia lakukan sekarang.


Dalam pelukan ini dia mendapatkan ketenangan, jika dia tau lebih awal bahwa dengan memaafkan dia bisa kembali mendapatkan peluk papanya maka Razeta ingin memutar waktu,


berdamai dengan dirinya sejak dulu.


..........


Razeta sudah diizinkan untuk pulang,


dengan syarat harus banyak istrahat,


tidak boleh melakukan hal berat, tidak boleh stres, dan banyak makan eskrim.


Bagian terakhir membuat Razeta jengsh,


dia mendadak tidak suka manis akhir-akhir ini, yang dia inginkan hanya makanan pedas yang panas, kecuali bakso. Entah kenapa membayangkan bakso saja dia sudah ingin muntah sekarang.


"Huweekkkk," Razeta, Aurora, danFauzan


sedang dimobil sekarang, mualnya Razeta sangat mengganggu Aurora.


"Lo jangan mual sekarang dong, bisa ikutan muntah gue," Ujar Aurora agak kesel karna sekarang kepalanya mulai terasa pusing.


"Apaan sih lo? Emang gue bisa ngatur


kapan harus dimulai dan kapan harus dilarang? Lagian udah gak jadi juga muntahnya."


Fauzan hanya geleng-geleng tak menanggapi keributan dua ibu hamil .


itu.


"Mas Fauzan, aku mau kerumah mas Fauzan mau ketemu mamanya mas Fauzan," Pintar Razeta setelah dia selesai dengan mualnya.


"Gak perlu."


"Kenapa gitu?"


"Mama dan papa akan datang ke rumah


kamu jika kamu mengizinkan.


Malam ini juga keluarga William akan datang ke sini untuk merayakan keberhasilannya."


"Keberhasilan apa?"


" Dia sudah bisa membaca Iqro. Kapan


ko Razeta baru tahu ya mas?"


"Ibunya yang bilang ke mas dan papa,


dan tadi sudah nelfon juga dan bilang


mau kerumah kamu malem ini." Ujar Fauzan menjelaskan.


"Mas, tapi aku belum siap untuk


menikah." Suara Razeta terdengar lirih,


Fauzan pura-pura tidak mendengar,


melajukaj mobil tanpa berbicara sampai ke halaman rumah Razeta.


Razeta dan Aurora masuk lebih dulu,


sementara Fauzan memikirkan mobil


di garasi, karna ini memang mobilnya Razeta dia hanya menggunakan untuk menjemput sangat adik.


Fauzan memasuki kamar Razeta yang terbuka, dua wanita hamil itu sedang menyesap jus. Razeta dengan jus strawberry dan Aurora mengengem jus alpukat. Dua buah yang mereka percaya kaya akan asam folat, berhubung Razeta


kurang suka alpukat maka kecut nya


strawberry jadi pilihan tepat.


"Pertemuan malam ini akan mas batalkan, jika memang kamu


tidak mau, " Ujar Fauzan tanpa bertanya


apa-apa lagi.