
Setelah sejam lebih menunggu antrian
akhirnya giliran Razeta yang di panggil,
dengan perasaan takut dia mengenggam
erat jari tangan kanan Aurora, sementara tangan kiri wanita itu menarik suami nya yang sejak tadi bergeming untuk ikut masuk, Fauzan pun menuruti itu.
Razeta dituntun perawat ke
brangkar untuk USG.
"Maaf ya pak, bu, saya periksa dulu."
Ucap dokter itu dengan sopan karena hendak meletakkan alat di atas perut
Razeta yang sudah di berikan gel.
"Apa ibu ada keluhan?"
"Ti-tidak dok, tapi semalem saya
mabok, jawab Razeta jujur. Dokter
sempat menahan napas sejenak
saat menoleh pada Razeta, namun cepat mengendalikan diri agar tidak merespon berlebihan.
"Apa sebelumnya ibu seorang pemambuk?"
"Enggak, dok baru pertama
saya lakukan."
Dokter terus menggerak-gerakkan alat di atas perut Razeta. "Sejauh ini semua baik-baik saja, pertumbuhan janin normal sesuai usia."
"Alhamdulillah." Ucap Razeta, Aurora
dan Fauzan secara bersamaan.
"Kedepan akan kami pantau terus perkembangannya. Alkohol itu sangat berbahaya untuk orang yang sedang mengandung, apalagi untuk janin, saya harap ibu tidak melakukan hal seperti itu lagi karna akan beresiko sangat tinggi pada janin
ibu baik saat masih dalam kandungan ataupun sudah lahir nanti."
"Ibu hamil itu tidak boleh stres, fisik dan psikis harus benar-benar di jaga.
Sudah tugas bapak sebagai suami menjaga istrinya." Sambung dokter Hanna yang membuat Razeta dan Aurora serempak melirik ke arah Fauzan yang sejak tadi fokus pada layar USG.
"Oh pasti kalau itu, dok, " Jawab Fauzan
santai sembari menarik Aurora ke dalam rangkulannya, sontak dokter menunjukkan ekspresi bingung, Fauzan pun bingung.
"Bu Razeta ini istri bapak, kan?" Tanya dokter memastikan. Kedua alis Fauzan menyatu.
"Bu-bukan, dok," Potong Razeta
cepat. "Ini-ini kakak saya, " Sambung Razeta agak ragu dan takut. Fauzan menatap Razeta tak percaya dengan apa yang Ia dengar, jujur hatinya berdesir mendengar perkataan Razeta tadi.
Sejak lama Fauzan kesepian sebagai anak tunggal, dia sangat ingin mempunyai adik tapi Allah belum izinkan
dan sekarang do'a setelah bertahun-tahun baru dikabulkan. Hatinya sangat tersentuh, sampai ada sedetik bening
diujung mata namun buru-buru dia hapus.
"Ooo, intinya jaga kesehatan karna sekarang Bu Razeta tidak hanya hidup untuk diri sendiri namun juga untuk bayi ini."
Setelah banyak hal yang Razeta
tanyakan seputar apa yang boleh dan tidak akhirnya dokter menuliskan resep
beberapa jenis vitamin. Mulai dari penambah darah, kalsium, dan beberapa jenis obat lain.
Mereka bertiga duduk menunggu
antrian apotik, suasana agak canggung diantara ketiganya.
"Gue ke toilet sebentar," Kata Razeta
yang hendak berdiri meninggalkan keduanya yang di jawab anggukan Fauzan.
"Mau gue temenin?" Tanya Aurora
"Gak usah, sendiri saja."
"Oke."
menyisakan Fauzan yang mengenggam
erat tangan Aurora, dan pandangan aneh dari orang-orang sekitar mereka,
entah apa yang mereka pikirkan Fauzan tidak peduli.
"Asalamualaikum, Fauzan, ngapain lo
disini?" Sapa seorang lelaki dengan perawakan tinggi, mata tajam nya akan berhasil menarik siapa saja untuk terus memandangnya.
"Eh bro, nemenin adik periksa. Kamu ngapain?"
"Biasa, nemenin nyokap cuci darah."
Jawab lelaki itu berlaga santai padahal banyak derita yang dia simpan.
"Eh, mas ini yang waktu itu donor
darah buat teman saya, kan?" Tebak
Aurora sembari terus mengingat-ingat
kejadian saat Razeta kritis.
"Eh?-iya, " Jawab pria itu gelagapan
seperti tertangkap maling.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya
Fauzan ke mereka berdua.
"Itu loh, mas yang aku ceritain ada
yang dateng nawarin darahnya buat
Razeta." Cerita Aurora membuat
suaminya mengangguk-angguk
"Kenalin, bro, ini Aurora istriku.
Makasih ya kamu udah mau donorin
darah buat adikku." Mendengar ucapan
Fauzan pria itu sangat kaget, Razeta
adalah adik dari temannya dan dia tidak pernah tau selama ini.
"Sejak kapan lo punya adik?"
"Panjang ceritanya, kamu gak lagi
buru-buru kan? Tunggu bentar ya
aku kenalin kamu sama Razeta."
Nampak jelas pria itu gelisah, "gue buru-buru nyokap udah nungguin, lain kali aja ya, "
"Eh itu Razeta!" Seru Aurora yang
membuat pria itu tak berkutik, dia menunduk dalam tak berani jika
Razeta akan kembali menatapnya penuh dengan kebenciannya.
"Ta, ini cowok cakep yang gue pernah ceritain waktu itu donorin darahnya
buat lo," bisik Aurora. Mereka berdua
masih menghadap punggung pria
jangkung itu.
"Kenalin, ini Razeta adikku," Ucap
Fauzan santai, tanpa tau dua manusia
itu saling tatap penuh ketegangan,
jantung Razeta kini bertalu-talu, air mata siap luruh dengan sekali kedipan.
"Alvin..."