
Happy Reading✨
Razeta POV
Udara shubuh yang merasuk
lewat jendela terbuka itu seakan mencakar-cakar kulitku, aku terbangun dengan pakaian yang ku pakai
semalam.
Aku mengingat-ngingat lagi apa yang ku alami adalah mimpi atau sebuah kenyataan? Kejadian tertembaknya
Alvin masih tidak bisa ku masukkan
ke dalam nalar, apalagi saat mereka katakan dia sudah meninggal, tidak mungkin!
Melihat tumpukan hadiah dari Alvin
semalam membuatku semakin yakin
bahwa yang sebelumnya hanya sebuah mimpi akibat kegelisahan ku karna
Willy dan Mita.
Aku bergegas mengambil wudhu
lalu turun untuk sholat berjamaah
karna sekarang aku belum benar-benar
menghafal semua bacaan sholat,
dari pada salah maka sholat berjamaah
adalah solusi terbaik bagiku.
Jujur saja aku terkadang belum bisa percaya jika sekarang aku mulai melaksanakan sholat, bahkan mengenakan hijab. Semua terjadi begitu saja, jika ku bisa putar waktu maka aku akan memilih masjid dan majelis ilmu
sebagai tempat pelarian bukannya tempat terkutuk semacam itu, hanya satu yang tidak ingin ku ingin rubah:
bertemu Alvin.
Harusnya dia bertanggungjawab dan tidak meninggalkan ku tanpa perlu ku menerima khitbah dari William dan lucunya aku mencintai kakaku sendiri,
bodoh tapi menggelitik.
Usai sholat aku buru-buru melepas
mukena dan mempersiapkan diri.
.........
Satu jam terasa begitu singkat, 10 menit lagi waktu akan memasuki pukul 10:12
WIB. Kedua keluarga sudah berada di tempat ijab qobul akan berlangsung.
ekspresinya. Dan berka
Bahkan berkali-kali William menarik nafas dalam dan membuangnya dengan agak berat.
"Bismillah dulu jangan lupa." Ucap Fauzan sembari berdiri ingin menjemput sang adik ke tempat ijab qobul.
"Siapp kakak ipar." Jawab William sembari terkekeh.
"Sodara, William kita mulai acara membaca kan maharnya?" Tanya penghulu.
"InsyaAllah siap." Jawabnya sambil mengangguk.
"Baik, kita mulai ya." Sahut pak penghulu.
William menari nafas panjang dan kembali terdiam membuat wajah tegang seluruh para tamu undangan. Tak lama
William mendekatkan kembali mic ke bibirnya dan mencoba untuk berkonsentrasi pada bacaan yang sudah dia hafalkan itu.
Sampai tedengar lah suara merdunya yang mulai melantunkan surat Al-Kahfi
bertempatan dengan hari jumaat yang berkah ini. Terdengar sangat menyejukkan hati saat dirinya mulai melantunkan ayat tersebut sedikit demi sedikit itu. Di barisan belakang Razeta
yang terharu saat mendengar surat yang dimintanya untuk maharnya sekarang benar-benar dibacakan oleh nya dengan suara yang merdu dan membuat hati yang mendengar nya akan terlihat senang.
Acara Akad telah selesai dan di lanjutkan resepsi sampai malam hari semuanya
berjalan sangat lancar sampai acara lancar.
"Hay Alvin, mungkin kamu melihat ku sudah menikah dengan William. Padahal aku ingin mengundang mu ke acara pernikahan mu, tapi kematian tidak bisa di pungkiri ya. Terimakasih, Maaf juga sudah membenci mu." Ucap Razeta dalam hatinya sambil memegang tangan
Putra William Samuel🤤
Razeta Alsaba Jehan😇
"Gimana nih yang udah sah?" Tanya Aurora sembari memegangi perutnya.
"Gue seneng banget Ra. Lo kenapa memegang mulu perut lo? Apa lo udah waktu nya mau lahiran?"
"Gatau Ta. Perut gue sakit banget sumpah. "
"Astaghfirullah ketuban nya pecah."
Teriak Razeta yang membuat seluruh tamu undangan melihat ke arahnya.
Dan secepatnya kilat William mengendong Aurora menuju mobilnya, dan Razeta mencari kaka kandung nya yang entah berada dimana.