Razeta

Razeta
Tawaran Gila



"Cukup, Ra! " Tanpa bicara lagi Razeta melepas infusnya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Aurora yang menangis ingin mengejar Razeta namun tertahan dalam pelukan Farzan.


Razeta pergi dengan kecamuk di dadanya, kenyataan dia hamil saja belum bisa diterima sekarang di tambah kenyataan bahwa sahabatnya telah menikah dengan pria yang berhasil membuat dia jatuh cinta dalam sekejap mata. Tuhan tak pernah berhenti mengujinya.


Sudah beberapa hari Aurora mulai kembali datang ke kampus namun tak juga menemukan Razeta, hari ini sudah dia bulatkan tekad untuk menyambangi Razeta ke rumahnya.


Dengan di antarkan Farzan, Aurora tiba di depan gerbang tinggi itu. Setelah mengucap salam Aurora memasuki gerbang meski di lepas dengan berat hati oleh suaminya.


Aurora memasuki kamar Razeta dengan salam yang tak terdengar jawaban, di lihatnya Razeta sedang tertidur pulas, tapi sebenarnya itu hanya kebohongan yang di ciptakan oleh Razeta.


"Gue tau lo gak tidur, bibi bilang lo barusan minta bikinin jus apel.


Jangan bohong sama gue, lo nggak ahli."


Razeta beringsut dari tempat tidurnya, melewati Aurora tanpa menoleh sedikit pun. Dia membuka jendela kamar berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ini pasti akan menyesakkan.


Ternyata benar, pengkhianatan lebih mudah di lakukan oleh orang terdekat, benar juga bahwa seseorang memeluk untuk menancapkan pisau lebih dalam.


Dan Razeta kini nyaris mati, terhunus pisau yang dia asah sendiri.


Dia memang jatuh cinta saat pertama bertemu dengan Farzan, bodohnya dia menceritakan cintanya pada istri lelaki itu sendiri. Entah apa yang dirasakan Aurora saat itu, Razeta tak ingin tahu.


Yang dia tau Aurora begitu jahat dengan membiarkan dia terlena dengan perasaannya sendiri, Aurora membuatnya terlihat bodoh karna berharap pada sesuatu yang sudah jelas jadi miliknya, Aurora jahat karna menyeburkan perasaannya dengan harapan-harapan yang di bangun Aurora.


Saat ini, Razeta terluka. Bukan karna cinta, tapi rasa di khianati oleh sahabatnya sendiri.


Andai Razeta tau laki-laki itu adalah suami sahabatnya, maka mustahil bagi Razeta untuk menyukai bahkan berharap pada lelaki itu. Mustahil dia mencintai pria beristri, Razeta tau perih dikhianati oleh orang yang di cintai. Tapi perasaan yang sudah terlanjur tumbuh subur, mencabut sampai akar juga tak mungkin mudah untuk dilakukan sendiri.


"Kenapa lo gak cerita kalau kak Farzan itu suami lo? " Serak suara Razeta menanyakan alasan kebohongan sahabatnya.


"Karna kami memang sepakat merahasiakan ini dulu."


"Lalu kenapa lo seakan ngasih harapan gue bisa jadi sama kak Farzan?"


"Karna memang semuanya bisa terjadi,


kan?" Jawab Aurora dengan santainya.


"Lo bener-bener udah gila!" Bentak Razeta.


"Setiap orang berhak mendapatkan cintanya, Razeta."


"Tapi mendapatkan cinta gak dengan cara merebut cinta dari orang lain!"


Suara Razeta meninggi, napasnya mulai terengah. Razeta benar-benar tak habis pikir kenapa sahabatnya bisa berfikir seperti itu.


"Gak ada yang merebut, gue sendiri yang mau membaginya."


Razeta terbelalak mendengar ucapan Aurora yang tak pernah terbayangkan olehnya. Bagaimana bisa manusia normal melakukan hal bodoh itu.


"Lebih baik lo pulang, minta anter ke dokter jiwa sama suami lo itu."


"Razeta, gue serius dalam keadaan sadar!" Tegas Aurora.


"Lo tau kan? Gimana gue benci banget sama wanita perebut? Lo tau kan gimana hidup gue menderita karna ulah seorang wanita perebut? Lo tau kan cerita tentang mama gue yang sakit-sakitan lalu meninggal gak lama setelah papa menikah lagi, kan? Lo tau bencinya gue sama papa dan istri barunya itu kan? Dan sekarang lo minta gue jdi sama jahatnya seperti mereka?! " Razeta sudah terisak saat ini, dia tak menyangka Aurora benar-benar tak pernah memahami perasaannya.


"Lo gak ngerebut siapapun, gue yang mau berbagi kebahagiaan sama lo."


"Gue bakal sangat bahagia kalau berbagainya sama lo," Aurora masih saja kekeh dengan keinginannya.


"Gue mana bahagia setelah ngerusak rumah tangga kalian."


"Gak ada yang rusak, semua bakal baik-baik aja kalau lo mau kita baik-baik aja."


"AURORA, CUKUP! Pulang lah, bangun keluarga bahagia lo sendiri. Gue minta maaf dan berdo'a semoga kalian selalu bahagia terlebih sebentar lagi akan mempunyai anak."


"Gimana dengan anak lo? Apa lo udah mikirin buat masa depan dia? Sekali lagi gue tegasin jangan pernah berpikir untuk gugurin kandungan lo, bayi itu suci.


Dia gak tau tentang rasa sakit lo, dia gak minta ada di rahim lo jadi lo gak bisa mempersalahkan dia atas semua kejadian ini! "


"Mulai sekarang jangan ikut campur sama urusan gue lagi! " Bentak Razeta.


"Razeta, lo gak bisa bersikap kayak gini sama gue. Kita ini sahabat dan udah dari lama gue pengen lo jadi sahabat gue juga di rumah kita nanti, biarin Farzan jadi ayah dari anak lo ini," Kata Aurora tegas.


"Lo bener-bener udah gila! Tolong pergi


dan jangan pernah hubungin gue lagi!"


"Gue berusaha buat lo bahagia dengan berbagi kebahagiaan sama lo, kenapa lo gak mau ngerti itu?"


"Kebahagiaan atau kegilaan sebenarnya yang lo maksud? Gue emang bilang jatuh cinta sama Farzan! Iya gue cinta sama suami lo itu! Tapi cinta gak bisa dijadiin kambing hitam atas kejahatan menghancurkan rumah tangga orang lain, Aurora! PERGI!!! " Razeta mendorong Aurora keluar dari kamarnya.


Hari ini Aurora menyerah, dia meninggalkan Razeta yang sedang meringkuk di dalam kamar sendirian.


Benar-benar sendirian. Razeta sudah Aurora dari dalam dirinya.


Ingatan masih begitu kuat saat sama mama meregang nyawa, tanpa papa di sisinya. Bagaimana mama menderita menghadapi sakitnya sendirian sedang


papa menikmati hari-hari dengan istri baru yang mungkin lebih muda dan cantik dari mama. Itu tidak adil!


Cinta bukan sebuah candaan apalagi alat


untuk membunuh jiwa seseorang sebelum raganya menyusul.


Cinta bukan sebuah keegoisan apalagi pengkhianatan.


Razeta sangat tahu perih nya di tinggalkan, perihnya pengkhianatan,


perih hidup sendirian akibat cinta yang salah diartikan, jadi tak mungkin dia akan melakukan hal itu pada sahabatnya sendiri. Terlebih pada anak Aurora kelak.


Aurora adalah satu-satunya orang


yang mau bersahabat dengan Razeta,


Persahabatan yang tulus tanpa iming-iming harga apalagi ketenaran saja. Jika memakai logika mana mungkin


si malaikat bersahabat dengan iblis, kan?


Tapi Aurora bilang dia mencintai Razeta karna Allah. Karna itu juga Razeta begitu menyayangi Aurora dalam hidupnya.


Dia tak punya siapapun yang benar-benar menyayanginya, hanya Aurora yang bisa.


Namun sekarang dia sendiri telah mengakhiri hubungannya mereka. Ini sudah menjadi pilihan terbaik untuk Razeta, namun mustahil jika Razeta baik-baik saja.