Razeta

Razeta
Keridhoan Razeta



"Pertemuan malam ini akan mas batalkan, jika memang kamu


tidak mau, " Ujar Fauzan tanpa bertanya


apa-apa lagi.


Aurora sontak berdiri karena kaget


dengan keputusan suaminya yang sepihak itu.


"Mas, gak bisa begitu dong. Ini bisa kita bicarakan baik-baik dulu. Ta, lo kenapa ga siap? Gue rasa mustahil kalau lo


gak suka sama William. Iya kan? Lo masih kurang bukti cintanya? Dia rela masuk islam demi lo. Todong Aurora.


Razeta bingung harus menjawab apa,


dia pasang mata menatap intens ke arahnya.


"Ayo jawab, Ta!" Desak Aurora


tak sabar.


"Gue ngerasa gak pantes buat dia, dia laki-laki baik, keluarganya juga baik, sedangkan gue cuman aib buat mereka, gue gak bisa."


"Terus lo mau yang gimana? Yang


brengsek? Bukannya lo kenal


William juga dari club kan? Terus jalan bener nya hidup gue gitu?" Lanjut Aurora


menirukan dialog Razeta saat dulu dia menginginkan Fauzan. Razeta mencebik.


"Iyh sih, tapi gue merasa nggak pantes


aja, dia udah hijrah gue belum."


"Why not ? Sepanjang hayat lo kenal gue,


emang ada laki-laki yang nggak mau sama gue?" Lagi-lagi Aurora menirukan


perkataan Razeta.


"Aurora! Lo bisa diem gak sih! " Maki Razeta yang geram dengan ekspresi


Aurora menirukan perkataan Razeta.


"Airiri Li bisi diiim gik sih!" Aurora


mengulang ucapan Razeta dengan


wajah menyebalkan serta huruf vokal berubah menjadi I semua. Fauzan


menahan tawanya agar tidak pecah


melihat tingkah sang istrinya yang nampak dewasa dan keibuan ternyata berbeda saat bersama sahabatnya,


dia jadi galak, bisa jadi lucu juga,


benar-benar menggemaskan.


"Kalau gue bisa diem ya lo pikirannya


gak kebuka. Dia cinta lo, dia bisa nerima lo dalam keadaan begini, dan juga demi lo dia masuk islam. Gak semua laki-laki sebaik dia, di cintai sudah cukup untuk bekal lo menjalankan perjalanan baru bersama dia. Gue percaya dia bisa jadi imam yang baik buat lo,"


Lanjut Aurora tegas.


"Gue mau ketemu William sebelum dia dan keluarganya dateng ke sini."


Fauzan mengangguk, mungkin ini memang jalan yang baik sebelum


Razeta mengambil keputusan yang besar.


"Baik," Jawab Fauzan setelah berfikir


sejenak. Fauzan keluar dari kamar


Razeta dengan mengenggam ponselnya.


Tak sampai satu jam, Fauzan kembali


mengajak Razeta dan Aurora untuk turun


menemui William yang sudah sampai.


Mereka duduk diruang tamu, Razeta hanya diam saja tidak berbicara apapun


begitu juga William. Aurora geram dengan tingkah sahabatnya itu.


"Lo nyuruh dia dateng cuman buat ngelamun di depan dia doang?"


"Ajak suami lo pergi dari sini, gue mau ngomong pribadi!"


"Apaan sih, gak bisa. Dosa tau! Gue sama mas Fauzan tetep di sini ngawasin


Lo. Titik."


"Yaudah berarti gue gak mau nikah sama dia." Ancam Razeta yang membuat Aurora menghentakkan kakinya.


Fauzan yang memperhatikan dua wanita itu sudah mengerti apa yang dinginkan


adiknya karna bisikan mereka berdua


sampai juga ke telinganya William.


Merasa tersudut dengan ancaman Razeta akhirnya Fauzan mengajak Aurora masuk, dia yakin tidak akan terjadi apapun antara adiknya dan William di tempat itu.


"Lo kenapa minta gue dateng sekarang?


Gak bisa tunggu ntar malam apa?" Tanya William mengawali pembicaraan mereka karna Razeta tidak kunjung membuka pembicaranya.


"Lo kenapa ngotot mau nikah sama gue


padahal gue bukan cewek baik, pendidikan tinggi, lo bisa dapet cewe


yang jauh baik banget dari gue."


"Itukan kata lo, bukan kata gue. Gue juga mantan anak club kan?"


"Gue lagi serius, William."


"Gue juga dari awal udah serius, lo kemana aja?"


"Gak lucu!" Razeta mulai bad mood .


William menyadari perubahan mood


wanita itu, dia menarik nafas panjang


sebelum memulai berbicara lagi " Asal lo tau, gue jatuh cinta sama lo sejak lama,


Gue gak berani dan benar-benar gak tau


cara mulai deketin lo. Lo itu unik, lo perempuan yang selalu berusaha kuat,


Meski naif.


Berulang kali gue lihat lo ganti pacar,


gue pendem sendiri sakit hati yang gue buat sendiri, sampai akhirnya lo bareng Alvin. Dan semuanya terjadi di luar kendali. Kuliah gue berantakan 1 semester ini, harusnya tess itu selesai dan gue bisa wisuda tapi gue benar-benar kehilangan fokus, gue selalu


kepikiran lo..."


".... Lo perempuan yang baik, bahkan terlalu baik buat gue yang pengecut ini.


Gue gak mau kehilangan lo, Ta. Please lupain apa yang terjadi di masa lalu dan kita mulai semuanya dari awal. Saling kenal lalu jatuh cinta dalam ikatan yang Allah ridho. Gue gak bercanda ngajak mau nikah, percaya sama gue, Ta."


Razeta terpana mendengar penjelasan


William, dia tak menyangka laki-laki yang kemarin baru masuk islam ini mencintai nya dalam ridho Allah.


"Ta, gue gak 'tanya' tapi gue 'minta'


banget sama lo untuk ridho jadi jodoh gue dan ridho kalau gue jadi ayah dari anak lo. Please." William memohon


dengan kesungguhan di mata dan di


hatinya, hati perempuan yang lemah


itu sudah kucar-kacir meleleh tak karuan.


Razeta salah tingkah, sesekali dia membenarkan letak rambutnya sebenarnya sudah rapih.


"Udah deh sana lo pergi dari rumah


gue, keberu gue khilaf pengen peluk!"


Razeta berbalik badan hendak meninggalkan William yang tengah tersenyum sumringah.


"Berarti lo udah bersedia dan ridho


untuk jadi jodoh gue?" Tanya William bersemangat.


Razeta tersenyum, dia mengangguk


tanpa menoleh.


"Iya, gue ridho berjodoh sama lo."