
"Pertemuan malam ini akan mas batalkan, jika memang kamu
tidak mau, " Ujar Fauzan tanpa bertanya
apa-apa lagi.
Aurora sontak berdiri karena kaget
dengan keputusan suaminya yang sepihak itu.
"Mas, gak bisa begitu dong. Ini bisa kita bicarakan baik-baik dulu. Ta, lo kenapa ga siap? Gue rasa mustahil kalau lo
gak suka sama William. Iya kan? Lo masih kurang bukti cintanya? Dia rela masuk islam demi lo. Todong Aurora.
Razeta bingung harus menjawab apa,
dia pasang mata menatap intens ke arahnya.
"Ayo jawab, Ta!" Desak Aurora
tak sabar.
"Gue ngerasa gak pantes buat dia, dia laki-laki baik, keluarganya juga baik, sedangkan gue cuman aib buat mereka, gue gak bisa."
"Terus lo mau yang gimana? Yang
brengsek? Bukannya lo kenal
William juga dari club kan? Terus jalan bener nya hidup gue gitu?" Lanjut Aurora
menirukan dialog Razeta saat dulu dia menginginkan Fauzan. Razeta mencebik.
"Iyh sih, tapi gue merasa nggak pantes
aja, dia udah hijrah gue belum."
"Why not ? Sepanjang hayat lo kenal gue,
emang ada laki-laki yang nggak mau sama gue?" Lagi-lagi Aurora menirukan
perkataan Razeta.
"Aurora! Lo bisa diem gak sih! " Maki Razeta yang geram dengan ekspresi
Aurora menirukan perkataan Razeta.
"Airiri Li bisi diiim gik sih!" Aurora
mengulang ucapan Razeta dengan
wajah menyebalkan serta huruf vokal berubah menjadi I semua. Fauzan
menahan tawanya agar tidak pecah
melihat tingkah sang istrinya yang nampak dewasa dan keibuan ternyata berbeda saat bersama sahabatnya,
dia jadi galak, bisa jadi lucu juga,
benar-benar menggemaskan.
"Kalau gue bisa diem ya lo pikirannya
gak kebuka. Dia cinta lo, dia bisa nerima lo dalam keadaan begini, dan juga demi lo dia masuk islam. Gak semua laki-laki sebaik dia, di cintai sudah cukup untuk bekal lo menjalankan perjalanan baru bersama dia. Gue percaya dia bisa jadi imam yang baik buat lo,"
Lanjut Aurora tegas.
"Gue mau ketemu William sebelum dia dan keluarganya dateng ke sini."
Fauzan mengangguk, mungkin ini memang jalan yang baik sebelum
Razeta mengambil keputusan yang besar.
"Baik," Jawab Fauzan setelah berfikir
sejenak. Fauzan keluar dari kamar
Razeta dengan mengenggam ponselnya.
Tak sampai satu jam, Fauzan kembali
mengajak Razeta dan Aurora untuk turun
menemui William yang sudah sampai.
Mereka duduk diruang tamu, Razeta hanya diam saja tidak berbicara apapun
begitu juga William. Aurora geram dengan tingkah sahabatnya itu.
"Lo nyuruh dia dateng cuman buat ngelamun di depan dia doang?"
"Ajak suami lo pergi dari sini, gue mau ngomong pribadi!"
"Apaan sih, gak bisa. Dosa tau! Gue sama mas Fauzan tetep di sini ngawasin
Lo. Titik."
"Yaudah berarti gue gak mau nikah sama dia." Ancam Razeta yang membuat Aurora menghentakkan kakinya.
Fauzan yang memperhatikan dua wanita itu sudah mengerti apa yang dinginkan
adiknya karna bisikan mereka berdua
sampai juga ke telinganya William.
Merasa tersudut dengan ancaman Razeta akhirnya Fauzan mengajak Aurora masuk, dia yakin tidak akan terjadi apapun antara adiknya dan William di tempat itu.
"Lo kenapa minta gue dateng sekarang?
Gak bisa tunggu ntar malam apa?" Tanya William mengawali pembicaraan mereka karna Razeta tidak kunjung membuka pembicaranya.
"Lo kenapa ngotot mau nikah sama gue
padahal gue bukan cewek baik, pendidikan tinggi, lo bisa dapet cewe
yang jauh baik banget dari gue."
"Itukan kata lo, bukan kata gue. Gue juga mantan anak club kan?"
"Gue lagi serius, William."
"Gue juga dari awal udah serius, lo kemana aja?"
"Gak lucu!" Razeta mulai bad mood .
William menyadari perubahan mood
wanita itu, dia menarik nafas panjang
sebelum memulai berbicara lagi " Asal lo tau, gue jatuh cinta sama lo sejak lama,
Gue gak berani dan benar-benar gak tau
cara mulai deketin lo. Lo itu unik, lo perempuan yang selalu berusaha kuat,
Meski naif.
Berulang kali gue lihat lo ganti pacar,
gue pendem sendiri sakit hati yang gue buat sendiri, sampai akhirnya lo bareng Alvin. Dan semuanya terjadi di luar kendali. Kuliah gue berantakan 1 semester ini, harusnya tess itu selesai dan gue bisa wisuda tapi gue benar-benar kehilangan fokus, gue selalu
kepikiran lo..."
".... Lo perempuan yang baik, bahkan terlalu baik buat gue yang pengecut ini.
Gue gak mau kehilangan lo, Ta. Please lupain apa yang terjadi di masa lalu dan kita mulai semuanya dari awal. Saling kenal lalu jatuh cinta dalam ikatan yang Allah ridho. Gue gak bercanda ngajak mau nikah, percaya sama gue, Ta."
Razeta terpana mendengar penjelasan
William, dia tak menyangka laki-laki yang kemarin baru masuk islam ini mencintai nya dalam ridho Allah.
"Ta, gue gak 'tanya' tapi gue 'minta'
banget sama lo untuk ridho jadi jodoh gue dan ridho kalau gue jadi ayah dari anak lo. Please." William memohon
dengan kesungguhan di mata dan di
hatinya, hati perempuan yang lemah
itu sudah kucar-kacir meleleh tak karuan.
Razeta salah tingkah, sesekali dia membenarkan letak rambutnya sebenarnya sudah rapih.
"Udah deh sana lo pergi dari rumah
gue, keberu gue khilaf pengen peluk!"
Razeta berbalik badan hendak meninggalkan William yang tengah tersenyum sumringah.
"Berarti lo udah bersedia dan ridho
untuk jadi jodoh gue?" Tanya William bersemangat.
Razeta tersenyum, dia mengangguk
tanpa menoleh.
"Iya, gue ridho berjodoh sama lo."