
Inhaler?" Tanya Razeta meyakinkan,
Perempuan itu mengangguk dengan susah payah. Dengan sigap Razeta mengambil tas yang terjatuh lalundia rogohnya mencari inhaler yang wanita itu maksudkan namun tidak dia temukan,
Razeta benar-benar di buat panik.
"Pak, Inhaler! Cepet cari!" Perintah Razeta pada sopir itu. Si sopir langsung membuka pintu mobil berusaha mencari inhaler di kursi penumpang namun tidak juga dia temukan, Razeta ikut mencari,
ternyata inhaler itu terjatuh, buru-buru
Razeta meraihnya dan memberikan
pada wanita yang tergeletak itu, kini dia nampak tak berdaya.
"Mba, ini inhaler nya. Mba!" Tak lagi
ada respon, Razeta panik. Dengan sekuat tenaga Razeta memberikan pertolongan pertama dengan menekan-nekan dada
perempuan itu tapi tetap tak ada respon.
"Mba bangun, mba! Razeta terus mencoba namun tidak ada pergerakan apapun lagi, dengan takut-takut dia
menyentuh nadi perempuan itu, denyut nya sudah tidak terasa lagi, dia susah tiada.
Razeta terduduk lemas.
Orang-orang sekitar semakin ketakutan
tapi tidak ada yang berani mendekat,
termasuk Aurora. Aurora menelfon rumah sakit, meminta ambulance segera dateng.
Razeta masih tidak percaya,
bagaimana bisa seorang yang masih muda, sehat bahkan sempat berteriak-teriak seperti orang gila bisa meninggal begitu saja tepat dihadapannya itu.
..........
Razeta menangis dalam pelukan Aurora,
menatap ambulance yang menjauh membawa tubuh kamu yang sudah tidak bernyawa itu.
"Ra, ini salah gue, gue lambat cari inhaler
nya, kalau aja gue lebih cepet pasti dia bisa di selamatkan. Ini salah gue
hikssss." Tangis Razeta semakin
pilu.
"Ini bukan salah siapapun, lo udah usaha
berusah kasih pertolongan ke dia tapi ini takdir Allah, kematian setiap orang sudah di tentukan. Lo gak salah karna justru lo terbaik di saat kami semua gak ada yang bersedia bantu dia. Inget ya, lo gak
salah." Aurora berusaha membesarkan hati sahabatnya itu.
Fauzan datang menjemput istrinya
namun terkaget karna adiknya sedang menangis.
"Ada apa?" Tanya Fauzan pada Aurora
namun tidak dapat jawaban.
"Aku ikut mobil Razeta saja ya, kita ketemuan disana ya, mas." Putus Aurora.
mencerna apa yang dia lihat hari ini seperti mustahil.
Masih muda, cantik, kaya, sehat namun
semua itu tidak menghalangi maut ketika datangnya.
Tubuh Razeta gemetaran
membayangkan kejadian tadi " Ra, gue takut banget, rasanya belum percaya
kalau perempuan itu meninggal. Gue baru saja pengen maki-maki dia terus kenapa tiba-tiba udah gak ada gitu?"
"Ta, maut itu bisa dateng kapanpun dimanapun. Gak bisa prediksi waktu,
tapi kita siap-siap untuk mati seperti apa,
Husnul khotimah atau su'ul khotimah,
ingin mati dalam keadaan sedang beramal atau bermaksiat kepada Allah,
itu kita yang tentuin sendiri karna cara
kematian kita itu sesuai dengan kebiasaan kita selama hidup. Gue udah sering bilang soal ini.
"Ra, gue takut mati. Gue gak siap."
"Apa yang lo takutin?"
"Gue takut masuk neraka."
Tangan gemetaran Razeta itu kini
mengenggam tangan Aurora. Dingin.
"Lo percaya sama neraka, Ta."
"Yaiyalah! Aneh banget perkataan lo!"
"Yang aneh itu lo, kalau lo percaya
surga dan neraka itu ada seharusnya
lo jadi hamba yang taat. Gue rasa ancaman masuk neraka itu udah bekal yang cukup untuk kita terus taat kepada Allah. Jelas kan lo selamat ini aneh."
"Lo selalu aja ambil kesempatan buat nyeramahin gue, padahal dalam keadaan ini." Keluh Razeta merasa terpojokan.
"Emang itu tugas gue. Ambil hikmah dari kejadian ini, dari sekian banyak orang
yang ada disana tapi kenapa Allah cuma
gerakin hati lo buat nyaksiin langsung kematian perempuan itu? Ya karna Allah sayang sama lo, ini sinyal hidayah terserah lo mau respon gimana. Bayangin kalau lo yang gak nutup aurat,
gak sholat, gak ngaji ini tiba-tiba di cabut nyawanya, menurut lo, lo bakal masuk surga atau neraka?"
Tidak ingin menjawab pertanyaan Aurora, Razeta hanya diam mengingat semua hal yang telah dia lalui.
"Ra, gue bisa minta tolong sama lo?"
"Apa?"
"Ajarin gue sholat."