
Happy Reading❤
Alvin menatap tajam kepada William,
" Lo selalu ambil segalanya dari gue
juga? Gak puas dengan apa yang udah
lo punya?" Nampak dengan jelas ada persaingan dan dendam di antara kedua lelaki itu.
"Gue gak pernah ambil apapun dari
lo, tapi lo yang udah ngehancurin hidup gue dan Razeta! Lo gak punya hak
sama anak dalam kandungan Razeta,
pergi!"
"Ckck itu anak gue, gue bertanggung jawab atas kehidupan anak itu! Gue mampu kasih dia nafkah dan kasih
sayang, dia gak perlu lo! Lo bisa urus anak lo sendiri, jangan repot-repot
mikirin anak gue."
"Kamu gak punya hak apapun sama anak itu, secara hukum maupun agama!"Tegas Fauzan yang baru saja muncul setelah meninggalkan makanannya begitu
mendengar keributan di ruang tengah.
"Zan, lo harus dengerin gue. Lo tau gue udah banyak berubah, gue janji bakal
jadi lebih baik buat Razeta dan anak gue.
Please, bujuk Adek lo." Alvin ganti memohon kepada Fauzan membuat William semakin geram kepadanya.
Fauzan diam, dia tau bawah Alvin sudah berubah bahkan sudah menjadi seorang muslim, dia banyak bercerita bahwa
tentang penyesalan nya sudah menyakiti seorang gadis. "Razeta akan segera menikah, jangan ganggu dia lagi." Tegas Fauzan akhirnya.
"Tapi gue ayah anaknya, Zan. Gue yang lebih berhak atas anak itu, gue bersedia menikah Razeta dan menebus kesalahan gue, jangan pisahkan anak itu dari gue,
kalian gak bisa ngelakuin itu ke gue."
Alvin terus memohon.
"Kamu gak punya hak apapun pada anak itu. Anak di luar nikah adalah anak ibunya. Jangan repot-repot memikirkan anak itu karna bahkan kamu tidak memiliki kewajiban menafkahi nya,
dia tidak berhak menjadi ahli waris kamu,
bahkan jika perempuan kamu tidak berhak menjadi walinya, bernasabmu
pun tidak."
"Tapi gue ayahnya!"
Plakkkkkk! Tangan mulus itu mendarat sangat keras di pipi tegas milik Alvin,
Razeta sudah berusaha keras dengan keras menahannya namun dia sangat geram dan membenci setiap perkataan yang dikeluarkan oleh Alvin. "Cukup!!!
Anak? Gak punya malu lo ngomong gitu? Lo udah ngancurin hidup gue! Gue gak
akan pernah izinin anak gue tau kalau bapaknya iblis kaya lo!"
"Lo gak bisa lakuin itu,Ta. Gimanapun gue ayahnya."
"Secara biologis, iya. Karna emang lo
laki-laki yang udah kurang ngajar sama Razeta tapi sebentar lagi dia akan jadi
anak gue, sah secara hukum." William mencoba menegaskan posisi mereka.
"Biarkan Razeta hidup bahagia tanpa kamu, kamu bisa lihat bagaimana dia pucat, ketakutan, gemeteran, karna ada kamu disini? Saya mohon jangan ganggu dia lagi." Fauzan mulai melemah kepada Alvin, bagaimanapun Alvin adalah sahabatnya, dan sudah berubah.
"Gue mohon, kalau lo mau nebus
kesalahan lo maka jangan ganggu Razeta lagi," Ucap Fauzan dengan sungguh-sungguh.
Alvin pergi dari rumah Razeta bersama dengan harapannya yang patah.
Razeta terduduk lemas di papah oleh Fauzan, semesta sudah terlalu sering mengombang-ambing dirinya.
Sekarang mulai yakin bahwa William adalah jodohnya malah Alvin datang untuk bertanggung jawab, terselip perasaan bersalah karna akan memisahkan Alvin dan anaknya namun kebencian dan sakit hati sekarang sudah menjadi tembok yang tak mungkin bisa dilewati oleh Alvin.
"Aku butuh istrahat, mas," Ucap Razeta lemah. Fauzan memapahnya ke kamar.
Hal itu membuat khawatir semua orang,
namunFauzan berhasil meyakinkan bahwa Razeta baik-baik saja.
..........
From : Calon suami gombal
"Ta, istrahat yang cukup, karna mulai besok lo akan sibuk."
"Sibuk apaan? "
"Sibuk jatuh cinta sama gue setiap waktu."
"Ewhhhh, amit-amit."
Jangan bingung melihat nama William
dikontak Razeta, tentu saja itu perbuatan Aurora, tak baik katanya menamai buruk seseorang terlebih calon suami sendiri,
katanya juga kalau sudah menikah nanti
diganti sendiri dengan panggilan sayang.
Razeta diam-diam saat menatap nama itu di layar ponselnya.
William tidak membalas lagi, maka
Razeta membuka google untuk mencari resep makanan yang sehat.

Razeta masih duduk di ranjang sambil memainkan ponsel, sesekali dia berpikir apakah dia bisa membuat nya.
"Lo kenapa?" Tanya Aurora yang duduk di karpet, sibuk membongkar gunungan paket milik Razeta.
"Gue lagi baca-baca resep bikin salad buah, kata lo gue bisa bikin beginian?"
"Astaghfirullah, itu gampang banget.
Anak kecil juga bisa bikin itu mah."
Razeta terdiam, menatap tumpukan pakaian yang baru di beli itu, ko gue ke pingin ke makam mama.
"Nanti kalau gue gagal bikin itu salad lo harus makan ya enak atau ngga nya.
Gue pingin ke makam mama, besok kan gue bakal nikah jadi pingin ziarah
dulu." Jujur Razeta, tiba-tiba teringat sang mama, dia cukup lama tak berkunjung ke makam mamanya.
"Yaudah ntar sore kita ke sana aja
bareng-bareng sama mama, papa,
dan mas Fauzan," Ucap Aurora sangat antusias.
" Gak usah gue ke pengen kesana sendiri,
banyak hal yang udah gue lakuin jadi
gue mau berdua sama mama sebentar aja."