
Tangan kasar menyentuh puncak kepala Razeta, dapat di rahasiakan dengan nyata kehilangan mengalir seluruh tubuhnya.
Mata Razeta terbuka, jelas dia sangat kaget melihat siapa yang berdiri di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Papa gagal jadi suami yang baik,
Papa juga gagal jadi ayah yang baik.
Maafkan papa, nak." Permohonan maaf sang ayah dengan rasa penuh sesal atas apa yang terjadi. "Papa gak menjaga Razeta selama ini," Lanjunya.
"Emang! Semua ini salah kamu!
Laki-laki bejat! Jika tidak bisa
mencintai mamah, harusnya jangan mengikuti nafsu setan mu, sampai saya harus menanggung semuanya."
Semuanya lolos begitu saja dari mulut Razeta.
"Iya, nak ini salah papa. Papa
bener-bener minta maaf."
"Hidup saya sudah hancur, kata maaf kamu tidak akan bisa memperbaiki kehidupan saya! " Bentak Razeta, emosi yang dia pendam bertahun-tahun lamanya kini meluap, rasanya dia ingin memaki semua orang.
"Saya sangat membenci kamu! Ini semua
kesalahan kamu, tapi hidup saya menderita. Saya benci karna anda papa saya! Laki-laki memalukan! Cih! Pergi dari sini!"
"Razeta, papa minta maaf, nak."
"SAYA BILANG PERGI DARI SINI!"
Teriakan Razeta sambil terdengar keluar,
Aurora dan Fauzan yang baru saja datang berlari menuju kamar sang adik.
"Papa! " Keduanya kaget karna
kehadiran sang ayah yang tidak mereka ketahui sebelumnya.
Fauzan mengajak ayahnya keluar sementara Aurora memeluk erat Razeta yang sampai gemetar karna emosinya.
"Tenang, istighfar. Gue ada disini, lo baik-baik aja, Ta." Aurora berusaha
menenangkan Razeta.
"Gue benci banget sama dia! Karna dia hidup gue menderita gini, Ra karna dia hidup gue seperti ini."
"Astaghfirullah."
Aurora terus memeluk Razeta tanpa
komentar apapun, dia tau sahabatnya
kini hanya ingin di dengarkan. Luka yang selama ini dia sembunyikan tergores lagi.
........
"Apa yang papa lakukan disini?" Tanya
Fauzan saat mengantar papanya keluar
dari ruangan Razeta.
"Papa ingin bertemu Razeta, papa ingin minta maaf, papa benar-benar
menyesal."
"Pa, Fauzan tau. Tapi kondisi Razeta
sedang kurang stabil sekarang, Fauzan
janji nanti Fauzan sendiri yang akan
mengantar Razeta pada papa. Bisa dia tenang dulu sekarang."
Papa takut tidak punya waktu lagi.
Terlalu banyak kesalahan yang papa lakukan, jika kemarin papa terlambat mungkin kamu sudah menikahi adikmu sendiri." Wajah yang mulai termakan usia
itu nampak sangat bersedih dan menyesal kesalahannya.
Fauzan merengkuh sang papa dalam pelukan, berusaha menenangkan.
"Pa, semua ini takdir yang sudah Allah gariskan. Aurora memaksa Fauzan untuk menikah lagi dengan sahabatnya itu sudah Allah gariskan sebagai jalan Allah papa memberanikan diri muncul kembali
dihadapan anak papa...." Fauzan menarik napas panjang "...lupakan semuanya, pa
kita mulai dari awal. Fauzan sudah memaafkan papa sejak lama, sekarang Fauzan sudah menerima Razeta sebagai adik dan sebaliknya Razeta menerima Fauzan sebagai kakaknya, Fauzan yakin
sebentar lagi Razeta bakal memaafkan papa." Lanjut Fauzan berusaha meyakinkan papanya.
Fauzan diam, dia sendiri kebingungan
mencari cara yang tepat untuk membantu Razeta keluar dari masalah ini. Yaitu mempercepat belajarnya
William untuk menjadi seorang mualaf.
Fauzan sadar betul, hamil bukan perkars yang gampang, dia melihat sendiri
Aurora sangat kesusahan padahal Fauzan sendiri banyak membantu Aurora,
mulai dari mencarikan makan yang dia mau, memijat pundak dan pinggang yang sakitnya, menuntut Aurora ke kamar mandi saat pagi hari dia mual dan pusing, serta banyak hal lain yang menyiksa istrinya itu, dia berpikir ini akan
sulit jika Razeta menjalaninya sendirian.
Bukan Fauzan tidak ingin menemani nya
namun sosok suami akan sangat dibutuhkan oleh perempuan hamil. Namun enah kenapa ada sedikit keraguan dihatinya saat kemarin melihat keberanian William, Fauzan mengakui keberanian William namun dia kurang suka lelaki itu.
..........
"Ra, gimana kondisi lo?" Tanya Aurora
setelah melihat keadaan Razeta yang lebih baik dari sebelumnya.
"As you see, better than before, " Jawab Razeta yang kini sudah rileks.
"Alhamdulillah."
Permisi. "Suara seorang sambil
mengetuk pintu ruangan Razeta."
"Masuk, " Jawab Razeta malas,
dia sedang mengobrol bersama Aurora dan dia menganggunya.
"Ada bunga buat, mba." Ucap
seseorang yang memakai baju perawat.
Diletakkan bunganya dan satu bucket
Coklat silverqueen di sebelah Razeta.
"Dari siapa?"
"Katanya baca aja, mba."
Razeta mengambil kertas di bucket yang berisi coklat, senyumnya terkembang.
"Dasar gila."
"Dari siapa woy?" Ujar Aurora sambil mengambil satu bucket coklat silverqueen. "Buat gue ya," Lanjut Aurora.
"Kepo lo! Enak aja buat lo, minta sonoh sama suami mu."