Razeta

Razeta
Kenyataan



"Razeta tunggu! " Suara yang sempat akrab di telinga Razeta, hari ini dia mulai mendengarnya, langkah kaki Razeta terhenti, dan tubuhnya bergetar, ingin sekali dia tidak percaya apa yang di telinganya dengar.


Lelaki yang darahnya mengalir deras di


tubuh Razeta itu tampak lebih tua dari usianya.


"Ternyata anda tidak lupa jalan ke rumah ini, " Ucap Razeta yang berusaha sekuat tenaga menoleh ke suara yang memanggilnya tadi.


"Papa! " Fauzan dan Aurora sangat kaget mendapati papanya ada di rumah ini.


"Kamu tumbuh jadi perempuan yang sabgat cantik, nak," Ucapan Razeta yang menyindir dan keterkejutan Fauzan dan Aurora.


Ada rasa begitu aneh mendengar ucapan papanya, terakhir kali yang dia dengar adalah caci maki untuk mama, dan sejak saat Razeta tidak lagi ingin mendengar suara papa.


"Apa kamu merindukan papa, nak?"


Tanya sang papa lembut,


Razeta semakin tidak percaya dengan telinganya sendiri.


"Apa Anda menganal Fauzan?" Tanya Razeta to the poin karna agak jengah


mendengar Fauzan memanggil lelaku itu dengan sebutan 'papa' tadi.


"Iya, tentu. Dia anak papa, kamu bisa


panggil dia dengan sebutan kakak. "


jawab papa dengan tenang tanpa menyangkal


"Ba-bagaimana bisa? Sekujur tubuh Razeta lemas.


"Razeta, sebelum bertemu ibumu papa sudah memiliki keluarga bahagia.


Ibumu adalah bos di kantor papa, dia menyukai papa dan membuat papa menikahinya karna telah lebih dahulu ada kamu dalam rahimnya. Papa tidak ingin benar-benar menikah dengan mama dan menyakiti istri papa namun semua sudah terlanjur, kesalahan harus di pertanggung jawabankan."


"Saa-saya, saya anak di luar nikah? "


Tanya Razeta terbata shock


mengetahui kenyataan yang pahit ini.


Papa tak menjawab, hanya tertunduk


tak berdaya, "Maafkan papa, Nak,"


ujarnya nyaris tak terdengar.


Razeta hancur sekarang, menyadari kenyataan bahwa tak ada yang merebut papanya, justru mama lah yang merebut istri pertama nya juga dia yang ternyata


hanya sebuah kesalahan namun dia terus


berusaha terlihat tegardi hadapan papanya, tak setetes pun air mata jatuh meski dadanya terasa akan meledai menahan sesak.


"Selamat siang," Ucap seorang lelaki keluar dari balik pintu utama dan memakai hodie berwarna hitam


"Aku mau minta restu om, aku sayang Razeta anak om. Dan saya akan pindah agama untuk Razeta dan anak yang di dalam di kandungan nya itu. " Tegas


William


"Kamuuuu... Tahu aku hamil di luar nikah ?" Jawab Razeta tak percaya bahwa orang lain bisa mengetahui nya selain keluarga terdekatnya itu.


"Iyaa, aku mengetahui segalanya. Sampe dengan kejadian waktu itu. "


"Kalau kamu memang benar-benar ingin berpindah agama kamu pindah lah karna Allah bukan karna seorang wanita." Jawab Fauzan.


"Saya akan mencobanya, walaupun banyak rintangan yang harus saya hadapi itu,"


"Baiklah saya sebagai papanya Razeta akan merestui kamu, apabila kamu mau belajar islam dengan kakaknya itu! "


Ujar papanya Razeta dengan tegas.


"Terimakasih om, saya akan melangsanakan perintah om ini."


Razeta meninggalkan papanya, Fauzi, Aurora dan William tanpa memperdulikan panggilan itu, terus saja dia berjalan menuju kamar tanpa menoleh sedikitpun,


Razeta khawatir papa dan calon suami nya akan melihat air matanya dan menganggap dia lemah.


Dunianya runtuh, tidak ada yang benar-benar dia percaya. Tidak orang lain, tidak papanya dan mamanya, bahkan tidak juga mata dan hatinya sendiri. Semua membohongi Razeta dengan kejam.


Kini Razeta tahu, Fauzan adalah kakak tirinya dan otomatis Aurora menjadi kakak ipar, harusnya Razeta bahagia namun dadanya kian sesak karna rasa malu. Ternyata ibunya lah yang telah merebut ayahnya Fauzan, dan dia sendiri


mencintai suami dari sahabatnya itu.


Sementara Razeta dengan sombongnya


menolak poligami atau perselingkuhan


seakan jadi orang yang paling tersakiti


sementara dia sendiri adalah anak dari hasil perselingkuhan. Ternyata benar


yang di katakan Fauzan bahwa selingkuh


berbeda dengan poligami. Tak ada keberkahan dari sebuah perbuatan dosa,


akan beda jika dilakukan sesuatu aturan


Allah yang berdasarkan ilmu dan kemampuan juga keikhlasan.


Setelah dibuat patah hati oleh kenyataan


Razeta tak tau lagi harus melakukan apa.


Ingin tak bisa di tanpilkan bahwa saat ini


Razeta membutuhkan seorang teman berbagi, namun tak seorang pun yang dia miliki, namun rindu tak mampu mengalahkan ego.