
Adzan ashar berkumandang, Aurora yang tadi sibuk dengan dekorasi untuk acara malam ini menghentikan
tugasnya, dan mengajak semua pekerja
untuk segera melaksanakan sholat berjamaah.
"Sayang, kamu jangan terlalu capek.
Kasian anak kita." Fauzan mengingat kan
istrinya yang terlampau antusias dengan acara ini.
"Aku gak capek, mas. Aku seneng
banget bisa ngerjain semua ini.
Aku udah lama menghayal hari dimana sahabatku bakal lamaran dan menikah.
Razeta nggak dapet kesempatan hadir di pernikahan kita, tapi aku beruntung
bisa ada sini bahkan gak cuma sahabat,
aku juga kakak iparnya sekarang. Aku mau jadiin momen ini berkesan untuk
Razeta." Celoteh Aurora yang kelewat
antusias. Fauzan mengerti, tapi dia juga
mengkhawatirkan anak mereka.
"Iya tapi hati-hati, kamu sekarang sedang mengandung. Yauda aku ke masjid dulu.
Asalamualaikum." Pamit Fauzan.
Usai sholat semua orang kembali
sibuk, ruang keluarga Razeta di sulap
sedemikian rupa padahal mereka tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga saja, namun tetap pada keinginan Aurora, dekorasi harus ada meski sederhana.
Tidak ada kursi malam ini, Aurora minta agar digelar karpet untuk mereka duduk,
agar lebih akrab dan terasa kekeluargaan.
Persiapan dekorasi selesai tepat saat salam terdengar dari pintu masuk,
mama dan papa datang untuk
acara ini. Ini pertama kalinya mama menginjakkan kaki dirumah perempuan
yang sudah tega merebut suaminya.
Perempuan berhati bidadari itu
tidak pernah sekalipun ke rumah ini meski suaminya tak di izinkan pulang berhari-hari, tidak ada pikiran untuk
melabrak atau memaksa suaminya pulang, dia hanya berkeyakinan bahwa
apa-apa yang menjadi miliknya akan kembali padanya, jika tidak kembali
maka sudah jelas itu bukan miliknya lagi.
Mustahil jika dikatakan wanita itu baik-baik saja. Dia nyaris hancur jika tidak ada Fauzan yang selalu bersedia memeluk dan menghapus air mata sang ibu.
Bertahun-tahun, wanita itu lebih
banyak tidur di atas sajadah daripada kasur karna dia sering menangis
sampai terlelap sesuatu sholat.
Keyakinan dan do'anya Allah kabulkan
meski dalam sabar yang tak sebentar,
suaminya kembali dengan perasaan
yang utuh karna tidak pernah sedikitpun
membagi dengan istri barunya.
Bagaimanapun, nafsu dan cinta
tidak akan sama.
gemetar, jika ada pilihan lain maka dia tidak akan menginjakkan kaki dirumah ini, namun dia sangat tahu bahwa keluarga lebih utama dibandingkan dengan ego.
Setelah mencium kedua tangan mertuanya, Aurora mengantar mereka
ke kamar Razeta.
Gadis itu sedang membongkar-bomgkar lemari mencari pakaian apa yang akan dia kenakan malam nanti karna dia tidak mempunyai persiapan apapun.
"Ta," Panggil Aurora mengalihkan
Razeta dari fokusnya.
"Papa..." Mata Razeta berbinar
melihat laki-laki itu, lalu teralih ke wanita sebelahnya, wanita yang nampak matanya menyiratkan kasih sayang,
ketuduhan, menyipit tanda ia tersenyum.
"Razeta, ini mamanya mas Fauzan."
Papa mengenalkan istrinya agak ragu,
dia khwatir Razeta akan marah dan bersedih lagi.
Razeta mematung sejenak, rasanya dia belum bisa percaya bahwa wanita kuat ini berada di hadapannya.
Kaki itu berkhianat, dia melangkah
mendekati wanita yang jadi penghalang cinta mamanya.
"Tante...." Hati, pikiran, dan tubuhnya
tak sepaham, kini Razeta malah memeluk perempuan itu dan terisak disana.
"Razeta, kenapa menangis?" Tanya
mama bingung melihat Razeta tersedu
membasahi pundaknya.
"Tante, maafin mama Razeta yang sudah membuat tante bersedih." Lagi bibirnya berkhianat, menyatakan kebenaran
yang menyakiti egonya sendiri.
"Jangan dibahas lagi, ya. Semuanya
sudah diikhlaskan. Buka lembaran
baru, biar itu jadi pelajaran." Ucapnya dengan tenang meski dalam hatinya
kembali terserang badai. "Panggil aku mama, setelsh itu mama akan memaafkan Razeta." Lanjutnya dengan senyuman.
"Ma-mama...." Tangis Razeta kian menjadi, panggilan itu lama tak dia
gunakan dia sangat merindukan mama
dan hari ini Razeta kembali dapat pelukan seorang mama.
"Ehmm," Suara Fauzan merusak
suasana haru " Sekarang sudah kesampaian mau punya anak perempuan, aku jangan sampai
dilupain." Cibir Fauzan yang agak cemburu melihat kedekatan kedua wanita itu meski baru pertama kali bertemu.
"Aku juga anak perempuan mama."
Aurora tak mau kalah, dia bergabung dalam pelukan sang mertua.
Keluarga yang utuh, hari ini Razeta
mendapatkannya semua kebahagiaan
yang tidak pernah dia rasakan selamat hidup.
Papa, mama, kakak laki-laki dan saudara perempuan. Dilubuk hatinya yang paling dalam, Razeta tidak butuh siapapun lagi, tidak butuh william, salah jika Aurora
mengira Razeta menyukai laki-laki itu
Karna nyatanya tidak, atau jadi belum?
Dia hanya merasa William lucu, menggemaskan, dan pinter membuat moodnya baikkan. Hal yang membuat Razeta setuju dengan pertunangan ini
adalah William begitu mencintainya.