
Razeta dan Aurora baru selesai melangsanakan sholat Isya berjama'ah. Razeta duduk bersila dan menompang dagu dengan tangannya. Entah mengapa sejak makan siang Razeta bayangan lelaki berkoko putih itu masih setia berputar-putar bagaikan flim yang di tayangkan di bioskop.
"Ya Allah, ini apa? Kenapa bayangannya gak ilang-ilang sih?"
Razeta memegangi kepala frustasi.
Buru-buru Razeta mencari keberadaan Aurora untuk membicarakan kenapa dia masih memikirkan lelaki itu.
Kini Razeta sedang berada di depan pintu kamar Aurora untuk membantunya kenapa dia memikirkan lelaki itu.
"Aurora ini gua Razeta cepetan buka pintunya, gua mau ngomong! " ucap Razeta sambil mengetuk-ngetuk pintu.
"Iyhh gua bangun, ngapain si loh berisik banget ga tau udah malem." Aurora sinis.
"Gua mau ngomong penting banget! " cerca Razeta sambil menerobos pintu kamar yang baru di buka itu.
"Iyaa apaan? " jawab Aurora dengan malas.
"Masa gua punya penyakit jantung." ujar Razeta sambil bersedih
"APAAA???" teriak Aurora.
"Ssttt... Jangan teriak-teriak woy nanti kedengeran tante lo."
Razeta memperhatikan pintu kamar Aurora. Aurora langsung menyerbu Razeta dengan berbagai pertanyaan, sebagai seorang sahabat mana bisa Aurora melihat Razeta sakit terlebih dia adalah sahabat dan keluarga satu-satunya. Razeta menarik tangan kanan Aurora dan dia letakkan di jantungnya.
"Lo bisa rasain kan? Detak jantung gua kenceng bangetttt. Ra, gimana dong? Masa gua punya penyakit jantung. " tanya Razeta dengan panik.
"Lo kenapa bisa jantung lo berdebar ke gitu?" tanya Aurora balik dengan penasaran.
"Gak tahu gua. "
"Apa yang lo pikirin ampe ke gitu?"
"Gue tadi mikirin Azlan doang si. " jawab Razeta dengan polos.
"Woy itu berarti lo suka sama dia, masa lo ga tahu. Padahal mantan lo banyak banget. " ujar Aurora sambil menupuk jidatnya.
" Iya kan gua ga tau."
"Astaghfirullah, itu berarti lo suka Azlan."
" Gak mungkin gua suka dia, ini pasti bener gua kena penyakit jantung, lo jangan bohong ya! "
"Gua nggak bohong Razeta itu kenyataan."
Razeta terus mengelak tak mau, menurutnya itu tak ada hubungannya.
Benar, kan? Akhirnya dengan terpaksa akibat tekanan maut dari Aurora lebih baik mengganti topik pembicaraan ini.
"Lah ko besok? Kata lo kita disini tiga hari?" tanya Aurora penuh dengan tanda tanya.
" Udah lo mau ikut gua balik ga?"
" Iyaaa, gua ikut lo deh."
" Oke, gua mau tidur dulu ya, "
'Di kamar Razeta memikirkan perkataan bahwa dia menyukai Azlan, apakah bener gua suka dia?' Monolog Razeta bingung.
.........
Razeta dan Aurora sedang berpamitan kepada tante Dilla dikarenakan dia harus cepat- cepat ke Jakarta supaya tidak terkena macet di perjalanan menuju Jakarta.
"Tante Razeta pulang dulu ya, nanti kapan- kapan lagi aku main kesini lagi ya." ucap Razeta sambil memeluk tante Dilla.
"Iyaa, kamu juga harus baik-baik ya di Jakarta. Gaboleh main malam-malam lagi ya! "
" Ko tante tahu si kalo aku suka main malem mulu? Ohh. Pasti dari Aurora ya tante? "
" Udah, cepetan kamu berangkat keburu macet di jalan."
"Baik tante. Asalamualaikum Tante salam buat Azlan sama Aflan nya ya tante. " ucap Razeta sambil tersenyum.
"Caper dah." ujar Aurora sambil memasukkan tas nya ke dalam mobil.
" Walaikumsalam, Hati-hati ya kalian! "
" Iya tante Dilla. "
........
Mobil Razeta sudah meninggalkan kampung halamannya Aurora. Syukur nya jalanan kota hari ini begitu lenggang,
Razeta melihat penjual rujak bebeg sedang duduk meracik pesanan pembelinya, Razeta menepikan mobilnya tidak jauh dari penjual itu. Entah kenapa rasanya dia ingin memakan rujak bebeg saat ini.
Membayangkan mangga yang kecut, dan buah kedongdong yang asemnya menggiurkan itu membuat Razeta menelan air liurnya sendiri.
"Tunggu sebentar, " ucap Razeta pada Aurora yang heran kenapa mereka berhenti di pinggir jalan. Cuaca sangat terik, Razeta keluar menuju si penjual.
"Pak saya pesen 5 Cup ya," kata Razeta yang di angguki penjual itu.
Menunggu si bapak itu menyiapkan pesanannya di bawah terik matahari membuat Razeta berkeringat dingin, dan mendadak gelap.
Buuuuuuggggghhhhhh.