Razeta

Razeta
Kakak Posesif



"Alvin! " ucap Razeta lirih, suaranya bergetar.


"Asalamualaikum, Razeta." sapa


Alvin canggung.


"Walaikumsalam, " jawab Aurora dan Fauzan setelah beberapa detik tak ada respon dari Razeta.


"Rupanya kalian sudah saling kenal? "


Pertanyaan Fauzan hanya dapat


anggukan canggung dari Alvin.


Tubuh Razeta sudah berkeringat dingin,


dia gemetaran, tubuhnya kaku tak bisa ia kendalikan. Razeta sangat ingin


memaki dan memukuli Alvin tapi tubuhnya mendadak lemas, kerongkongannya kering, dunia seperti berputar-putar menyeret Razeta kembali


perkenalan pertamanya dengan


Alvin, bagaimana pria itu memperlakukannya dengan baik baik putri ratu sampai pada hari itu dimana Alvin berlaku kurang ajar padanya.


Brukkkk


Tubuh Razeta tumbang, dia tak sadarkan diri.


Semua orang yang berada di apotik itu kaget, dan berkerumun. Fauzan bergegas


mengangkat tubuh adiknya, berlari menuju IGD yang tidak terlalu jauh.


"Apa yang terjadi di antara kalian


berdua? Kenapa Razeta nampak sangat gelisah dan ketakutan ngeliat lo?" cecar


Aurora pada Alvin, mereka bertiga berasa diruang perawatan Razeta, Razeta masih belum sadarkan diri.


"Gue.... Gue... " Alvin tidak tau harus


berkata apa pada Aurora dan Fauzan.


"Lo! Pasti laki-laki kurang ajar itukan! "


Maki Aurora.


"Gue bisa jelasin, semua ini gak seperti apa yang kalian tuduhkan ke gue."


"Suruh pergi dia dari sini, mas," Ucap Razeta lirih, perempuan itu baru saja sadar dan mendengar ucapan mereka.


Mendengar ucapan Razeta itu


membuat Fauzan paham bahwa yang di tuduhkan istrinya pada Alvin adalah benar. Fauzan mengacak rambut frustasi.


"Pergi dari sini sekarang juga atau gue gak akan bisa nahan diri lagi," Ucap Fauzan dingin penuh penekan di tiap katanya.


"Razeta maafin gue, ini semua gak kaya apa yang lo fikirin. Gue bisa jelasin ini."


Fauzan menyeret keluar tanpa perlawanan.


"Ternyata Razeta perempuan yang pernah kamu ceritain? Perempuan yang udah kamu buat menderita hidupnya dan kamu nyesel? Gak ada gunanya lagi, fin.


kita ketemu di pengadilan! Lupain kita pernah jadi sahabat."


"Zan, gue bisa jelasin. Kasih gue


kesempatan dulu." pinta Alvin.


Fauzan kembali ke ruangan Razeta


tanpa menoleh sedikitpun, perasaan bersalah menyusup dihatinya.


Aurora memeluk erat sahabatnya yang masih saja gemetaran.


"Gue benci dia, Ra. Gue benci Alvin."


Ucap Razeta disela isaknya.


"Razeta, maafin Mas Fauzan yang udah gagal jadi kakak yang baik untuk


Razeta." Fauzan memeluk kedua wanita itu bersamaan. Jujur ada sedikit rasa


canggung karna mereka yang memang baru saling tau akan hubungan darah


yang mereka miliki, tapi perasaan canggung itu terkalahkan oleh rasa ingin melindungi.


Razeta bisa merasakan kehangatan


menjalar sampai ke hatinya, perasaan sayang pada Fauzan hadir begitu saja,


ternyata perasaan yang dia pikir cinta itu


adalah rasa rindu yang bertemu


tuanya.


"Mas Fauzan janji mulai sekarang gak ada lagi laki-laki yang bisa nyakitin Razeta, kita akan tuntut Alvin, Razeta jangan takut lagi." Fauzan mengusap lembut kepala adiknya, rambut ombero sebahu itu terlihat sangat berantakan.


"Enggak, Mas. Aku mohon jangan lapor polisi. Aku gak mau masalah ini tercium media, aku gak akan sanggup jalani hidup setelahnya."


"Razeta, korban yang diem saja bakal bikin pelaku kejahatan semakin merajalela. Dia harus di hukum."


"Biar aku semua yang menanggung semua ini, mas. Jangan ditambah lagi beban nya." Razeta tambah terisak, akhirnya Fauzan memutuskan untuk menuruti permintaan adiknya, dia tidak ingin Razeta bertambah setres.


........


Sudah dua hari Razeta masih diminta bedrest di rumah sakit meski dia merasa semuanya sudah baik-baik saja, namun demi anaknya dia rela tetap di ruang serba putih ini.


"Selamat siang sayang." Suara lelaki yang membangunkan tidur Razeta.


"Sayang-sayang, emang gue pacar lo gitu?" jawab Razeta sambil


mengucek matanya.


"Nih buat lo, "William memberikan bucket berisi belasan coklat batang.


"Katanya coklat bagus bikin cewe jadi badmood." Sambungnya.


"Elo? Kok bisa tau gue disini?" Razeta kaget melihat penampakan lelaki dihadapannya, karna tidak ada yang tau selain Aurora dan Fauzan.


"Gue tau semuanya tentang lo, karna gue itu lo, lo itu gue. Kita itu satu nyawa dua raga. Trust me ," kata William sambil terkekeh membuat Razeta menyinggung senyuman.


"Bisa aja lo, tutup tupperware."


"Lo tau? Tanpa tutup, tupperware itu gak lengkap, manfaatnya kurang.


Kayak lo kalau tanpa gue."


"Lebay lo."


"Haha, gimana kondisi lo?"


"Baik."


"Anak kita?"


"Anak gue, bukan kita! "


"Anak lo ya nanti bakal jadi anak gue juga kan."


"Ehemm." Suara deheman dari pintu mengalihkan pembicaraan mereka berdua, Fauzan berdiri di sana berkacak pinggang menatap William tak suka.


"Kakak yang posesif, gemes." Batin Razeta sambil mengulum senyum.


"Enak banget ya di cariin kemana-mana. malah kabur disini kamu." Ucap Fauzan


"Hehe. Maaf, saya kangen sama calon istri aku mas." Jawab William sambil senyum.


Aurora menyadari bahwa ketidak sukaan Fauzan kepada William, dia memberi isyarat supaya suaminya tenang.


"Maaf, Mas saya memang salah tidak mengikuti pelajaran Mas. Tapi saya mempunyai niat baik untuk menikahi Razeta secepatnya mas." Ujarnya mantap tanpa keraguan.


Fauzan cukup kaget namun dia bisa mengendalikan diri.


"Jangan sekali-kali lagi bolos ya, katanya mau nikah secepatnya. Tapi kamu masih belum bisa hafal Al-Fatihah." Ucap Fauzan tertawa.


"Iya mas. Tunggu waktunya saya pasti bisa membaca Al-Quran dan menghafal nya."


"Saya pengang omongan anda!"


"Gak bisa! Lo gak bisa nikahin Razeta.


Lo gak bisa ambil posisi gue dengan nempatin gue di posisi lo! "


Kehadiran Alvin membuat kaget semuanya terlebih lagi Razeta, dia sangat ketakutan.


"Razeta please aku minta maaf, aku bisa jelasin semuanya. Kasih aku kesempatan sekali saja." Alvin terus memohon namun


Razeta tidak mengubris, dia mengalihkan pandangan tidak ingin lagi menatap pria itu lagi.


Fauzan dengan sigap menarik Alvin


keluar, dia tidak ingin keadaan Razeta memburuk.


"William, ini semua gara-gara lo! Lo akan bayar semuanya! " maki Alvin sebelum meninggalkan ruangan.