
" Gak usah gue ke pengen kesana sendiri,
banyak hal yang udah gue lakuin jadi
gue mau berdua sama mama sebentar aja."
"Oke deh gue ngerti. Eh mendingan lo taruh dulu hape lo, bantuin gue bongkar
paket lo yang gak kelar-kelar ini." Ajak Aurora sembari mengeluh.
"Iya-iya gak ikhlas ya lo bantuin gue?
Kan gue udah bilang biar si mba aja."
"Si mba banyak kerjaan, lo sadar gak
sih besok lo nikah?"
"Ya sadar si hehe."
"Lo ngapain sih beli baju sebanyak ini?
mau buka toko baju atau gimana si?
Heran gue!"
"Ya maaf, khilaf gue abis lucu-lucu
semua dan gue juga kan gak punya
baju panjang kaya gini sama sekali jadi
yauda beli-beli aja." Jawabnya dengan santai.
"Astaghfirullah, anak orang kaya! Lo tau gak? Satu pakaian saja hisabnya panjang, apalagi banyak kaya gini."
"Hah maksudnya?"
"Jadi ntar setiap apa yang kita punya
akan di tanya, kita pakai untuk apa?
kenapa kamu membeli nya? Kemana?
Untuk kebaikan atau kemaksiatan atau bahkan hanya menimbun di lemari pakaian. Allah juga gak suka orang yang berlebih-lebihan, belum lagi lo menghamburkan uang di saat orang-orang sedang kesusahan
gini. Mau jawab apa lo sama Allah nanti?
"Emang sampe segitunya ya, Ra?"
Tanya Razeta yang mulai ketakutan.
"Iya, sedetail itu akan di pertanyakan!
Jadi gimana baju-baju baru lo ini?
Yakin mau di pakai semua?"
"Gak, ntar gue pilih yang yang benar-benar, terus gue suka sisanya
dibagiin ke orang yang membutuhkan, nanti selesai acara akad besok nya lo temenin gue ke panti asuhan ya." Putus Razeta.
"Sedekah itu pahalanya lebih besar kalau
kasih apa yang kita sukai."
"Astaghfirullah, bawel banget si jadi orang!!!!"
"Hahaha gue kan cuman ngasih tau doang," Aurora tertawa setelah berhasil membuat sahabatnya kesal.
Beberapa orang sibuk dengan mempersiapkan acara pernikahan Razeta dan William, acara sederhana yang tidak pernah terpikirkan oleh Razeta namun dia harus pasrah tersebab pandemi ini.
Papa dan mama sedang menyeruput teh
setelah melaksanakan sholat ashar,
duduk memperhatikan para pekerja
sambil berbincang hangat.
"Razeta, mau kemana?" Tanya papa yang
melihat Razeta memegang kunci mobil,
ada kebahagiaan besar dalam hati laki-laki paruh baya itu melihat putri semata wayangnya mengenakan hijab.
Benar, Razeta adalah buah dari kesalahan yang dia sesali selamanya
namun dia tidak pernah sedikitpun membenci Razeta, sebaliknya lelaki itu begitu sangat mencintai sang anak.
Zina adalah hutang, kini putri semata wayangnya harus membayar kontan
atas dosa masa lalu sang ayah, karna itu
saat tau ada seorang lelaki yang mencintai putrinya dia langsung setuju untuk menikahkan mereka, dia khawatir jika Razeta menikah hanya karna sebuah tanggung jawab maka akan berakhir menderita seperti mantan istrinya dahulu.
"Mau ke makam mama sebentar, pa."
"Mau kami temani?" Tawar sang papa."
"Gak perlu, Razeta ingin
sendiri dulu. Razeta pergi dulu ya,
Assalamu'alaikum."
"Wa ' alaikumsalam."
Razeta berlalu, mobil berwarna merah melaju dengan santai. Sesekali dia melirik dirinya di spion, dengan khimar putih dan masker senada.
Razeta berhenti di sebuah toko bunga
langganan, mengambil bucket bunga
melati yang tadi dia pesan secara online.
Dia kembali melajukan mobil
menuju makan yang tidak jauh lagi,
kembali Razeta melirik spion kali ini dia memperhatikan mobil berwarna hitam
dibelakangnya yang ada sejak tadi.
"Gue berhenti beli bunga, tapi dia tetep ada dibelakang gue? Apa dia secret admirer gue ya?"
Razeta melirik spion sekali lagi, namun mobil itu sudah berbelok di pertigaan.
"Hufttt parnoan banget gue."
Razeta memakirkan mobilnya lalu
berjalan ke arah makam dengan mengenggam satu bucket bunga kesukaan sang mama. Harum, putih,
"Ma, Razeta dateng. Maaf ya lama gak berkunjung. Banyak hal yang udah
Razeta lalui beberapa bulan terakhir ini,
Razeta udah baikan sama papa, Razeta juga sekarang punya mas Fauzan, ada mama juga tapi mama jangan khawatir
karna kalian punya tempat sendiri-sendiri di hati Razeta."
"Ma, besok Razeta akan menikah-"
Razeta menyeka air mata yang
tiba-tiba jatuh
"InsyaAllah dia laki-laki yang baik, dia bisa terima meski anak yang Razeta
kandung bukan anaknya. Kalau mama bisa, tolong do'ain supaya Razeta bisa hidup bahagia dengan keluarga Razeta ya, Ma."
"Bahagia? Bagaimana bisa Anda
berharap kebahagiaan saat orang lain menderita? Perempuan egois!"
Seru seseorang dibelakang Razeta
membuatnya menoleh 110° hingga Razeta agak kaget karna jarak mereka begitu dekat namun gadis itu tak menyadari kedatangan orang lainnya di sekitarnya.
Mata Razeta menyipit berusaha
mengenali perempuan itu, Razeta seperti pernah melihatnya namun entah dimana.
Keadaan perempuan itu sangat berantakan, mengenakan piyama tidur
tipis, rambut sepunggungnya nampak kusut, begitu juga dengan make up yang berantakan, lipstik merah merekah itu
tidak hanya terpoles di bibir namun juga sampai ke dagu dan pipi, Razeta beristighfar dan mengelus perutnya.
"Lo siapa?"
"Lo udah lupa sama gue?" Perempuan itu malah bertanya balik, dia tersenyum dan membenarkan rambutnya, Razeta terus mengingat-ingat siapa perempuan ini,
dan dimana dia pernah melihatnya.
"Willy.... "
...............
"Willy.... Apa yang lo lakuin disini?
Lo kenapa?" Tentu saja Razeta heran
melihat gadis yang cantik dan imut
di pertemuan pertama mereka kini
malah terlihat sangat berantakan.
"Gue kenapa? Lo yang kenapa?! Lo harus pergi dari hidup William, dia milik
gue! Lo gak berhak!"
Willy terus berteriak, di hati Razeta
tentu ada rasa iba namun rasa bingung
dan penasaran jauh lebih besar.
"Gue bakalan nikah sama William besok,
lo gak berhak ngomong gitu ke gue."
"Lo yang ngga berhak sama dia! Delapan tahun gue habisin waktu buat dia, gue cinta sama dia, gue kasih segalanya buat dia, waktu, hidup sampai kehormatan gue sendiri. Lo gak bisa ambil dia begitu saja, gak bisa! Dia ayahnya Mita, masa lo nggak bisa ngertiin gitu?"
"Gak tau, dan akan selalu seperti itu.
Gue gak akan menghalangi Mita dengan ayahnya sendiri." Razeta masih menanggapinya dengan santai, dia tidak ingin terpancing emosi.
"Gimana dengan gue? Semuanya udah gue korbanin buat dia, gue selalu berusaha jadi yang terbaik di mata dia
tapi gak pernah sedikitpun nganggep gue ada." Willy menangis tersedu sekarang, dia nampak seperti wanita yang depresi berat.
"Gue pikir dengan hamil dan menurunkan
William sebagai ayah dari anak gue akan membuat dia bersedia nikahin gue ternyata enggak! Dia tetap gak peduli sama gue!"
"Maksud lo Mita bukan anak kandung nya William?" Razeta meloloskan
pertanyaan itu dari bibirnya.
"Bukan! Dia anak Alvin! Laki-laki yang rela ngelakuin apapun buat gue tapi gue
malah jatuh cinta sama William yang gak punya hati! Brengs*k!"
"Gimana bisa itu anak Alvin?"
Willy tertawa mendengar pertanyaan Razeta yang sangat menampakkan
keterkejutan nya.
"Haha lo kaget ya anak kita ternyata adik dan kakak? Dasar wanita bodoh! Alvin
gak pernah suka sama lo sedikitpun!
Sejak kecil cuman gue yang dia suka
tapi sayangnya gue malah jatuh cinta laki-laki sialan kayak William yang jatuh cinta sama lo. Demi gue Alvin bisa ngelakuin apapun, termasuk ngehamilin lo dengan harapan William gak akan coba buat deketin lo lagi, tapi gue salah,
bahkan dia mau nikahin lo! Sial! "
"Lo ngarang! Gue gak pernah kenal William kita cuman satu club doang dah itu sebelum Alvin dateng merusak kebahagiaan saya."
"Diem lo, cewe beg*! William suka sama lo udah lama, merhatiin lo udah lama
karna itu gue minta Alvin deketin lo!
Gue pikir dia bakal milih gue setelah tau lo tidur bareng Alvin, tapi enggak!
Dia tetep milih lo."
"Karna itu, gue gak punya pilihan lain,
kalau gue gak bisa dapetin orang yang gue sayang, maka William juga gaboleh!"
Willy menyeringai, mengangkat kedua tangannya yang memegang pistol,
jelas ditodongkan ke arah kepala Razeta.
"Lo mau apa? Jangan main-main." Ucap Razeta yang sudah mulai gemetaran,
namun berusaha bersikap tenang.