
Cinta dan sayang pada makhluk
memang harusnya tidak berlebihan.
Agar saat dia pergi kamu gak akan merasa begitu tersakiti.
Jangan berlaga bicara soal kehilangan
jika tak pernah sedikitpun memliki.
Hidupmu adalah hidupmu, tak perlu menggantungkan harapan pada siapapun kecuali penciptamu, agar kamu
mampu berdiri sendiri, berjalan sendiri, bahkan berlari pun sendiri.
Karna kamu ada di atas kaki mu sendiri
tak meminjam kaki orang lain untuk melangkah, tak meminjam mata orang lain untuk melihat. Jadi tak begitu risau saat dia tak bersamamu, kamu tetap mampu menjalani hidupmu sendiri.
Razeta menjauh dari Aurora sosok yang selama ini mendukung penuh perubahannya terpaksa tertatih sendiri,
dia tak punya siapapun lagi orang yang bisa mengajaknya kearah kebaikan karna memang hanya Aurora lah orang baik dalam hidupnya.
Langkah kaki membawa Razeta ke masjid kampus karna dia tak tau harus
kemana, biasanya dia akan pergi
hang out dengan teman-temannya namun sudah sejak lama dia tak lagi
pergi bersama mereka, sudah lama juga Razeta tidak muncul di media sosialnya
yang memiliki tiga juta lebih pengikut.
Razeta mengambil wudhu, di tempat ini
Razeta kembali belajar berwudhu mengikuti gerakan yang dicontohkan Aurora. Razeta menatap sekelilingnya orang-orang berjilbab besar tapi hanya
menyibak sedikit jilbab untuk berwudhu, ada sedikit rasa malu karna tidak memakai jilbab namun segera ia tampikkan perasaan itu.
Sebenarnya sudah ada rasa ingin mengenakan jilbab namun dia urungkan sejak tau dirinya hamil, Allah tidak adil untuk apa repot-repot dia mengenakan jilbab? Toh dia juga sudah hamil di luar nikah tidak ada lagi yang perlu dilindungi dari tubuhnya, si b*e*g*e* Alvin sudah menit segalanya.
Tak ingin ambil pusing Razeta segera naik ke lantai dua tempat ruangan ibadah
perempuan, dia sengaja mengambil tempat paling pojok yang jauh dari pintu masuk, Razeta khawatir kalau-kalau Aurora ada di tempat ini juga.
Razeta ingat, Aurora pernah bilang untuk menjadi lebih baik kita butuh berteman dengan orang-orang baik, kini dia sudah tak punya Aurora, Razeta bertekad dia ingin menemukan orang lain baik untuk menjadi sahabatnya yang pasti tak segila Aurora.
Di pojok ruangan ibadah Razeta melihat seorang perempuan berjilbab panjang berwarna abu-abu sedang memeluk Al-Qur'an yang terbuka sambil memejamkan mata lalu sesekali dia melihat Al-Qur'annya kemudian memejamkan kembali.
Dari sekian banyak orang yang melakukan hal serupa entah kenapa Razeta begitu tertarik dengan perempuan itu.
Perlahan Razeta mendekat, agak ragu namun keinginan nya begitu besar.
"Hai," Sapa Razeta canggung.
Perempuan itu menatap Razeta dari
atas hingga ke bawah. Razeta ikut
melihat dirinya mulai dari kemeja,
celana jeans, dan pashminanya. Apa yang salah?
Razeta merasa dihakimi oleh tatapan gadis itu.
"Sedang sibuk ya?" Tanya Razeta
basa-basi, dia bingung akan memulai
pembicaraan dari mana.
"Saya sedang mengejar target hafalan,
ada apa ya, mba?" Tanya gadis itu
dengan nada yang tak enak di dengar.
"Emm anu, gua pengen ngobrol-ngobrol aja sama lo."
Gadis itu mengerutkan kening karna bingung dengan maksud Razeta. "Mba
wartawan dari majalah kampus?"
Tanyanya.
aja." Jelas Razeta.
"Maaf mba, saya sedang benar-benar sibuk sekarang. Ada target yang harus saya kejar, jadi belum bisa bersantai."
Terangnya pada Razeta.
Razeta jadi merasa tidak enak karna sudah membuang waktu gadis itu
dari tadi. "Eh iya maaf, kalau gitu
gue permisi dulu ya. Semoga target lo
tercapai." Razeta mengulas senyum di wajahnya yang di balas anggukan.
Rasanya begitu sulit saat mendapat
penolakan meski dilakukan secara halus sekalipun dia tetap saja berupa penolakan, Razeta sedikit menjauh dari gadis itu dan mengambil tempat di dekat kipas angin seperti yang dia lakukan saat pertama kali datang kemari. Namun kali ini dia bingung akan mengerjakan apa, dilihatnya sekeliling ada yang sibuk berkutat dengan ponsel, " Udah sering" Pikirnya, melihat orang-orang yang sibuk membaca Al-Qur'an Razeta ingin namun
dia tak bisa melakukan itu, dulu ibunya baru mengajarnya sampai di iqro' satu, lalu di lihat lagi orang-orang yang membentuk lingkaran-lingkaran mendengarkan satu orang berbicara diantara mereka. Razeta tertarik untuk mendekat mendengarkan juga bersama mereka apa yang sedang di sampaikan.
Razeta duduk di luar lingkaran karna memang mereka duduk sangat rapat,
pembicara menghentikan penyampaiannya dan semua mata menatap aneh ke Razeta.
"Maaf, anti siapa? " Tanya salah satu
dari mereka.
"Gua Razeta, bukan Anti," Jawab Razeta
polos.
"Maksudnya, kamu siapa?"
"Razeta." Jawabnya singkat
"Kami tidak pernah melihat kamu
sebelumnya ngaji disini."
"Iya hay, gue lagi iseng gatau mau ngapain jadi gabung disini. Boleh,
Kan?"
Mereka semua mengerutkan kening mendengar jawaban Razeta.
"Kami sedang mengaji. Memangnya kamu biasa ngaji dimana?" Tanya
yang lainnya dengan nada cukup tak mengenakkan telinga.
"Maksudnya?"
"Kamu biasa ngaji dimana? Harokah
apah?"
"Harokah?" Tanya Razeta lebih
bingung.
"Sudah-sudah, " Kata si pembicara tadi berusaha menengahi dan memberi isyarat agar mereka diam. "Kami sedang mengaji, kamu tidak akan paham karna ini materi lanjutan."
Lanjut wanita itu.
"Oh gitu, oke deh." Razeta beranjak
pergi dia tau dia tidak diizinkan ada di sana, satu lagi penolakan.
Apa memang tak ada tempat bagi Orang-orang yang baru saja akan bertaubat? Kenapa mereka yang sudah sholeha begitu sulit menerima orang baru? Apa surga milik mereka sendiri? Harokah? Apa itu ? Razeta tak mengerti apa yang mereka bicarakan, dia tau memang islam beragam. Anehnya mereka begitu sulit saling menerima, merasa apa yang dia pegang teguh adalah paling benar sendiri,
Padahal bahkan manusia belum benar-benar tau mana yang Allah maksud akan surga, kan?
Islam adalah rahmat bagi seluruh alam,
bukan untuk golongan tertentu saja, jika setiap muslim berprilaku seperti itu bukankah akan merusak citra islam sendiri? Islam jadi begitu mengerikan bagi orang yang belum memiliki pegangan, jadi ada ketakutan hanya karan ulah oknum tertentu saja.
Benar, jika ingin mengetahui islam maka
Kita harus berkenalan dengan seorang muslim. Karna islam itu sempurna sementara muslim tidak.
Faktanya memang begitu sulit mencari teman yang mau membimbing dalam kebaikan, dulu Razeta memiliki Aurora tapi kini dia sendiri.