
Langka kaki membawa Razeta
pada tempat yang begitu akrab
dengannya ini, ada keraguan tapi ada juga kerinduan. Razeta tau banyak kebohongan pada mereka yang menyakiti secara terang-terangan.
Sedikit lagi dia akan mencapai pintu
club malam langganannya saat
seorang menepuk bahunya.
"Woii! " Ucap seorang orang laki-laki.
"*****! Gue kira siapa, ternyata lo Will." Jawab Razeta terkejut.
"Tumben lo ke sini lagi?" Tanya Wiliam penasaran.
"Gua lagi males aja Will. "
"Yaudah, kita nonton aja ya gimana? Gua mau ngomong sesuatu juga! "
Merapat ke pukul 21.35, Razeta dan William sudah berada di dalam studio,
William ingin menyatakan hati nya namun dia tidak bisa menyatakan perasaannya kepada Razeta.
"Haha. Aduh itu lucu banget Will." Ucap Razeta sambil megang perutnya yang sakit karena tertawa.
"Aduh Ta, loh ketawa jangan ke gitu coba lo cewe inget! " Jawab William sambil memakan popcorn.
"Iyah emang gue cewek Will." Ucap Razeta dengan nada tinggi.
Pulang dari bioskop, di pertengahan jalan
William ingin menyatakan perasaan nya.
"Ra. Gue sayang lo! Mau gak lo jadi pacar gue" Ucap William seraya memberhentikan mobilnya.
"Tapi Will. Kita kan beda agama apa boleh kita pacaran?" Jawab Razeta sedu.
"Kenapa? Jangan karna agama kita gak bisa bersatu, please Ta gua sayang sama lo! " Ucap William mengelus tangan Razeta.
"Aku butuh waktu ya Will." Ucap Razeta sedu.
"Oke. Aku akan menunggunya. Udah sampe rumah lo nih." Jawab William kelaur dari mobil Razeta dan meninggalkan begitu saja, dengan tersenyum dia menyapa satpam Razeta
dan menghilang di balik pagar tinggu itu.
Aurora mengetuk kaca mobil Razeta , gadis yang sedang kebingungan karna tingkah laku William kini kembali di buat kaget oleh Aurora. Dibukanya pintu dan berjalan masuk seakan Aurora tidak ada di sana.
Begitu masuk rumah mata Razeta tertuju pada lelaki dengan kurta navy serta celana berwarna hitam di atas mata kaki.
Mau tidak mau matanya terpukau penuh rasa kagum atas ketampanan lelaki itu,
Buru-buru Razeta mengebyahkan pikiran itu dari kepalanya.
"Razeta, tunggu dulu." Pinta Aurora.
Razeta menuruti permintaan sahabatnya,
mungkin Aurora sudah sadar atas kesalahannya.
"Lo mau ngomong apa?"
"Mas Fauzan yang mau bicara sama lo.
Ayo mas bilang." Bujuk Aurora pada suaminya.
Fauzan sudah bermandikan keringat dingin, entah kenapa dia harus datang menuruti ke inginan gila istrinya ini.
Ditariknya napas panjang sebelum bicara.
"Demi kedua calon bayi ini, Razeta ayo menikah dengan saya, " Ucap Fauzan
dalam satu tarikan napas.
Razeta terdiam, menolak permintaan Aurora sangat gampang, namun bagaimana Razeta bisa menolak saat
Fauzan yang mengungkapkannya sendiri.
"Jangan pernah khawatir lo bakal nyakitin gue, karna gue sangat bahagia
kalau ini bener terjadi. Pikirin diri lo dan bayi ini nantinya. Lo jelas tau rasanya
tumbuh tanpa orang tua kan?
Apa lo mau bayu ini ngerasain apa yang lo rasain?" Cecar Aurora yang membuat Razeta tertunduk lemas.
"Pikirin lagi. Besok pagi kami akan datang dan meminta kepastian dari lo."
Aurora nampak sangat dewasa akan mengambil keputusan itu, di peluk nya Razeta dengan penuh harapan."
........
Malam yang panjang bagi Razeta,
pikirannya terbagi menjadi dua, di sisi yang satu menyiapkan jawaban untuk pertanyaan dosen pembimbing dan pembahas pada seminar hasil penelitian nya besok, namun di sisi lajn Razeta juga memikirkan jawaban untuk kelangsungan hidupnya kelak.
"Harusnya gue nolak pasangan gila itu biar gak pusing gini! Jadi kan gue bisa terhindar dari pasangan itu. Tapi kenapa si hati gue gak bisa bolak hatinya kak Farzan, semakin deket dia terus. Razeta menjambak rambutnya.
"Arrrrrrhhhhh!" Razeta mulsi setres me memikirkan semua itu, di lempar nya prosak yang sejak tadi dia pelajari.
Dia menuju dispenser besar di sudut kamar berniat menyeduh susu ibu hamil rasa coklat, meski sebenarnya belum bisa menerima bayi itu Razeta tetap ingin
bayi dalam kandungannya tetap sehat.