
Razeta menimang-nimang ponselnya,
dia tidak tau harus menghubungi siapa selain Aurora, dia benar-benar tidak berani jika harus pergi ke rumah sakit sendirian. Demi anaknya, Razeta rela melupakan kekesalan nya pada sahabatnya itu, lagi pula Aurora juga sudah tidak mungkin memaksanya menikah dengan fauzan.
"Asalamualaikum," Sapa wanita di sebrang telepon setelah dering ketiga.
"Walaikumsalam, Aurora gue takut, gue butuh lo sekarang. Maafin gue, please
Dateng ke rumah gue.
"Sebentar, Ta lo kenapa? Ada masalah?
" Nanti gue ceritain semuanya disini,
Lo buruan kesini, gue mohon." Pinta Razeta memelas.
Mendengar sahabatnya
membuat Aurora khawatir, dia beruntung karena suaminya tidak bekerja hari ini.
"Siapa yang telepon? Ada apa wajahmu tegang banget? Tanya sang suami heran.
"Mas, kamu sayang aku kan?" Fauzan
menyerah sebelum dapat serangan ketika mendengar pertanyaan semacam itu. Jurus andalan istrinya yang berarti sang istri ada kemauan yang tidak bisa
ia tolak, saat di tolak maka Aurora akan mengartikan bahwa dirinya tidak menyayangi Aurora. Aurora yang sangat dewasa itu
berubah kekanakan dan suka merajuk saat hamil.
"Kok kamu kaya terpaksa gitu ngomong nya? Yaudah kalau kamu gak sayang lagi sama aku! Pasti karna aku gendut, dekil , iya kan?
Rajuk Aurora.
"Astaghfirullah, gak gitu sayang. Aku cinta sama kamu karna ketataan kamu pada Allah, kebaikan hati kamu, ketulusan kamu, bukan karna fisik. Lagian kamu gendut juga kan karna aku,"
goda Fauzan berusaha merubah mood
istrinya namun Aurora masih saja memanyunkan bibirnya.
"Mas bohong! "
"Beneran, sayangku. Lagian bodoh banget suami yang hilang rasa
sayangnya karna perubahan fisik istri saat atau setelah hamil. Mas gak masalah cukup buat, mas. Udah ya jangan ngambek, kasian anak kita." Fauzan masih mencoba membujuk Aurora.
"Aku gak ngambek lagi tapi harus nurutin
permintaanku."
"Hmmm sudah kuduga," Kata Fauzan
Pasti ada maunya.
"Mas mau gak?"
"Anterin aku ke rumah Razeta
sekarang, sepertinya kondisi Razeta
sedang gak baik, aku takut dia
nekad lagi." Nampak jelas sekali
Aurora mengkhawatirkan sahabatnya.
"Maaf, Ra kali ini aku gak bisa nurutin
permintaan kamu," Ucap Fauzan
dingin, raut wajahnya berubah saat mendengar nama Razeta di sebut lagi.
Razeta adalah luka baginya itu, sekarang
dia tau karna kehadiran Razeta lah
belasan tahun mamanya terluka.
Fauzan tau papa memiliki istri lain, itu
sebabnya mamanya setia hari mama diem-diem menangis.
adalah anak papa dari istri mudanya?
Tanya Aurora yang di jawab dengan hening pertanda dia iya dari Fauzan.
"Kamu gak bisa kaya gini dong, mas-"
"Aku gak bisa, sayang. Liat wajahnya aku pasti bakal ke inget dulu bagaimana
mama setiap hari diem-diem menangis
karna masalah ini."
"Kamu gak adil, mas. Razeta gak salah sama sekali, dia juga korban, dia menderita juga, tertekan sejak kehilangan papanya dan kematian mamahnya, dia sendirian. mas bisa maafin papa, kenapa gak bisa maafin Razeta?
"Karna bagaimanapun dia papaku."
"Dan bagaimanapun dia adikmu, mas. "
Fauzan diam mendengar kebenaran dari istrinya. "Razeta butuh kamu, dia butuh kita untuk menjalani semua ini, mas.
Dia cuman punya kita sekarang."
Sambung Aurora.
Hening beberapa menit, Fauzan
tertunduk dalam menimang-nimang ucapan istrinya.
"Aku siap-siap dulu." Putus Fauzan.
Aurora tersenyum, dia tau suaminya
adalah suami yang sangat baik, namun atas semua hal yang sudah di saksikan
wajar saja jika ada rasa kecewa di hatinya.
........
"Apa yang terjadi, Ta?" Tanya Aurora
langsung saat dia masuk ke kamar
sahabatnya dan melihat Razeta terdiam dengan pandangan kosong namun sorot mata itu berbinar begitu melihat yang dia tunggu akhirnya datang.
"Auroraaa... Gue kira lo gak akan
dateng." Razeta memeluk sahabatnya erat, dia sangat rindu pada Aurora.
"Maafin gue udah ngomong kasar ke lo,
gue gak pernah mau semua ini terjadi,
Ra, " Sambung Razeta.
"Guee udah maafin lo. Lagian lo gak salah, ini ternyata hanya keegoisan gue aja. Gue minta maaf ya." Mereka berdua saling berpelukan, meluapkan rindu yang lama di sekap oleh ego.
"Apa yang terjadi sama lo sampai minta gue ke sini,"
"Gu-gue semalem mabok sampe gak sadar, gue takut ada sesuatu pada bayi ini karna alkohol yang gue minum, gue takut Ra."
Diam-diam hati Aurora menghangat
mendengar ketakutan Razeta
kehilangan bayinya."kita ke dokter sekarang." Putus Aurora
Setelah sejam lebih menunggu antrian
akhirnya giliran Razeta yang di panggil,
dengan perasaan takut dia mengenggam
erat jari tangan kanan Aurora, sementara tangan kiri wanita itu menarik suami nya yang sejak tadi bergeming untuk ikut masuk, Fauzan pun menuruti itu.
Razeta dituntun perawat ke
brangkar untuk USG.