
Razeta dan Aurora berdiri sejajar,
takbir tergantung sangat indah, gemuruh di dada Razeta agak mereda saat suara merdu Aurora membacakan do'a
iftitah. Razeta memang belum hafal,
belum juga memahami apa yang di baca
sahabatnya, namun getar di hatinya
membuat air mata luruh begitu saja.
Aurora membaca perlahan ayat demi ayat al-fatihah sampai pada salam yang mengakhiri sholat dia rakaatnya.
Tidak beranjak, kedua insan itu malah kembali bersujud. Aurora bersyukur karna ucapan rasa syukur karna Allah
sudah mendengar do'anya supaya Razeta sepenuhnya menerima islam dalam dadanya dan mau melaksanakan sholat, sementara Razeta terisak dalam sujudnya dia menyesal karna terlambat
tau bahwa sholat itu sangat indah dan menenangkan sementara ini dia malah menuju ke tempat maksiat untuk meraih ketenangan hingga pada akhirnya berujung aib yg harus ditanggung sekarang.
"Ra, makasih ya udah jadi sahabat terbaik gue. Maaf karna selama ini gue cuek dengan ajakan lo buat beribadah,
gue nyesel." Ucap Razeta yang sekarang berpindah ke pelukan Aurora.
Sahabatnya itu tidak menjawab, hanya mendekap sangat erat.
Setelah melipat mukena hasil Razeta meminjam milik pembantunya,
kini dua ibu hamil itu kembali membaringkan diri, menatap langit-langit kamar.
"Ta, gue rasa lo harus dengerin penjelasan dari William. Gue percaya
dia orang baik, pasti ada alasan di balik semua ini." Bujuk Aurora.
Razeta menghembuskan nafas kasar
"Gue pikir juga gitu, lagian ini pantes buat gue. Jodoh emang cerminan diri, gue hamil diluar nikah, wajar kalau calon suami gue pernah ngehamiliin orang di luar nikah. Sikap gue tadi ke William
agak berlebihan, ngga sadar diri." Razeta mengejek dirinya sendiri.
"Jangan jadi manusia yang suka mendoktrin hal negatif, terlebih buat diri sendiri. Jodoh memang cerminan diri
yang baik meski sama-sama pernah salah. Sekarang fokus buat masa depan kalian yang lebih baik, diskusi apa yang masih mengganjal aja, gak usah cari-cari
kesalahan masa lalu dia, yang penting gimana dia sekarang dan ke depan nantinya." Aurora mengakhiri perkataan nya dengan senyuman hangat.
"Ga nyangka gue punya kakak ipar dewasa banget kayak lo. Btw mas Fauzan dimana? Kok lo biarin dia berkeliaran sendiri?" Razeta mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ada bisnis katanya, cafe ditutup semua
jadi ya harus cari kerja sampingan
dulu sementara ini. Jadi agak sibuk doi,
tapi ntar sore mas Fauzan dan Mama bakal kesini buat fitting baju akad lo sama William nanti."
"Hah? Ko gue ngga tau ya?"
"Lah ini udah gue kasih tahu. Ntar malem William sama nyokapnya bakal dateng."
Terangnya dengan santai.
"Dih lo tahu kan tadi gue habis marah sama William."
"Ya udah lo tinggal hubungi dia,
selesain sekarang sebelum malem, kan beres." Aurora berguling, merubah posisi menjadi memunggungi Razeta.
"Masak gue yang ngehubungin duluan?
Ogah! Gue gengsi!" Teriak Razeta dalam batinnya.
...........
Jingga mulai merona di langit senja,
pertanda matahari harus pamit sejenak
untuk menebar kasih pada penantinya di
sudut lain.
Sungguh Allah yang maha adil
mengatur alam dengan penuh keadilan,
semua sesuai dengan porsi dan sesuai kebutuhan. Lalu kenapa masih banyak yang merasa tidak mendapatkan keadilan? Alasannya karna tidak sesuai dengan kehendak dan harapan. Kita mengukur sesuatu dengan alat ukur manusia, sementara hati menolak
ingat bahwa Allah lebih mengetahui yang baik dan buruk bagi hambanya.
"Mas Fauzan bawa hadiah buat adik ku sayang ini," Ucap Fauzan yang baru datang bersama mamanya.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga, menanti kumandang adzan
Maghrib sebentar lagi. Papa tidak bisa kesini karna ada pekerjaan.
"Wah! Benaran, mas? Asyiiikkkkk!" Mata Razeta berbinar seperti anak kecil yang dibelikan es cream itu. Gadis yang haus akan kasih sayang, lama merindukan sosok laki-laki dalam hidupnya kini Allah
kembalikan ayahnya ditambah seorang kaka laki-laki yang baik. Belakangan dia jadi sangat akrab dengan Fauzan, rasa nyaman hadir begitu saja meski belum lama mereka berjumpa, bagaimanapun
darah memang kental.
"Iya benaran, ini adalah hadiah spesial. Tapi harus ada syaratnya. Setuju?"
"Syaratnya apa nih?"
"Harus di pake sama kamu!"
"Oke. Mana hadiahnya??"
Fauzan mengeluarkan kain dari paper bag yang di bawa, mendekati Razeta
dan mengenakan khimar instan berwarna putih dikepala adiknya. Aurora dan sang mama menahan air mata hari, sementara
Razeta tercengang, diam mematung
dia tidak menyangka sang kakak akan memberikan ini sebagai hadiah.
"Razeta, maafkan mas Fauzan sangat terlambat bisa menjadi kaka yang baik buat kamu tapi kamu harus tau sejak
hari mas menerima Razeta sebagai
adik makan saat itu mas sudah menanamkan rasa sayang buat Razeta dan jilbab ini tanda sayang mas untuk pertama kalinya.
".... Kamu adik nya mas Fauzan yang sangat cantik, jilbab ini akan memuliakan dan meninggikan derajat kamu sebagai perempuan dimata Allah, jilbab ini akan menjagamu. Mas berharap kamu menjaga dirimu lebih dari sebelumnya."
Air mata haru sudah membasahi pipi Razeta, perlahan dia mengangguk
menyetujui permintaan baik dari sang kakak. Anggukan Razeta di sambut oleh kumandang nya adzan maghrib, semua disana mengucapkan syukur atas dua nikmat yang Allah berikan.
Pertama menyaksikan hidayah, kedua
nikmat bisa mendengar adzan saat pendemi ini.
Razeta, mama dan Aurora berdiri
sejajar dengan kaki yang saling bersentuhan, sementara Fauzan berasa di bagian shaf depan menjadi imam sholat maghrib mereka.
Pada rakaat pertama fauzan membaca surat abasa, sampai sesegukan dan berapa kali berhenti sejak ayat ke 33.
Dadanya sesak mengingat hari yang jelas Allah janjikan. Hari ini dia berdiri
bersama keluarganya melangsungkan sholat berjama'ah namun saat hari itu
tiba meraka akan sibuk sendiri dan saling meninggalkan, rasa khawatir tidak lagi berjumpa di surganya Allah begitu menyesakkan di dada Fauzan.
Sudah baiklah di sebagai anak? Mampukah dia mempertanggungjawabkan semuanya kelak di hadapan Allah?
Mama dan Aurora yang berada di
sementara Razeta kebingungan sebenarnya apa yang membuat mereka menangis? Dia ingin ikutan menangis
tapi tidak mengerti apa yang ditangasi.
Dalam hatinya Razeta merutuki perbuatan mereka karna membuatnya tak khusyuk malah sibuk menerka-nerka
sampai mereka sudah rukuk Razeta masih asik berpikir.
Setelah salah mereka tak ada yang beringsut dari sajadah, asik berkomat-kamit sendiri.
"Aku mau ganti pakaian dulu deh, sebentar lagi mereka sampai," Ucap Razeta pada dirinya sendiri, alasan yang tepat untuk dia segera meninggalkan ruangan sholat itu.
Setelah sholat isya Razeta yang sudah rapi berdiri di dekat jendela kamarnya,
dari sana Razeta bisa melihat 2 mobil
masuk ke gerbang secara beriringan.
Entah kenapa jantungnya berdegup
lebih kencang, dia akan bertemu lagi
dengan William sekarang padahal tadi
dia baru saja mengusir laki-laki itu
dengan penuh amarah.
"Sayang calon ayahmu sudah
sampai," Razeta mengelus perutnya
dan tersenyum, menyebut William
sebagai calon ayahmu dari anaknya
membuat hati Razeta bergetar.
Razeta kembali berdiri di depan kaca meja rias, menyampulkan lagi lipstik di bibir tipisnya itu. Dia merasa agak
gugup sekarang.
Aurora dan mama sedang sibuk menyambut mereka, hingga Razeta berjalan sendiri menuju Ruang keluarga.
Semua mata menatap kagum, pada ciptaan Allah yang berjalan maju
mendekat ke arah mereka. Gadis yang biasa mengenakan pakaian serba mini
itu kini tampak seperti malaikat, hanya dengan gamis dan hijab putih polos,
mempertegas kecantikan wajah berbalut make-up tipis itu.
"MasyaAllah, beruntung banget gue."
gumam William yang mampu terdengar oleh semua orang yang ada di sana
membuat mereka tertawa geli. Razeta mengulum senyum lalu bersalaman kepada bubu dan seorang perempuan yang Razeta tebak adalah seorang designer.
Berhubung pernikahan sederhana
itu tidak lama lagi maka mereka memutuskan untuk memilih gaun
yang sudah disiapkan oleh mba Mitt
karna jika menjahit terlebih dahulu
tidak bisa menjamin akan selesai tempat waktu.
Razeta memilih gaun yang berwarna pink tua itu, gaun pernikaha yang bercadar simple yang begitu menarik perhatiannya.
"Kalau gitu untuk mas William pakai toxedo berwarna hitam putih juga, supaya tidak keliatan gelap." Kata mba Mitt ketika Razeta sudah memilih pilihannya.
"Saya ikut aja deh." Pasrah William.
"Waah beruntung banget mba Razeta dapet suami yang ganteng, nurut pula
yang penting istri seneng. Ibu nggak punya satu anak kayak gini lagi buat
saya?" Canda mba Mitt memancing
tawa yang lainnya.
"Punya satu saja saya pusing. Mba.
Hampir setiap hari ada aja kelakuannya
maki-maki tetangga, ngambil mangga tetangga. Sampe bikin pusing kerjaannya
Ucapan bubu membuat mereka kembali tergelak, tapi tidak dengan Razeta.
Fitting baju selesai dengan lancar, mba
Mitt pamit pulang terlebih dahulu
karna masih ada janji lain.
Aurora dan marah sudah menyiapkan
makan malam untuk semuanya.
"Hueeeekkkkk."
Baru saja duduk, Razeta sudah mengalami mual dan pusing meliha
Kepiting dan lobster di hadapannya.
"Maaf," Ucap Razeta merasa bersalah
dia segera berlari ke kamar mandi,
membuat mama merasa tidak enak,
namun bubu tertawa.
"Liat Razeta aku jadi kangen hamil lagi,
mba, MasyaAllah nikmanya. Aku hamil William sampai mau lahiran morning sick,
ini anak ngerepotin dari dalam perut"
Canda bubu mencoba mencairkan suasana.
"Ujian itu, bu. Untuk menlahirkan anak
yang hebat kan butuh ibu yang kuat."
Kelakar William mengundang tawa.
Semuanya mengangguk, Aurora
mengambilkan nasi untuk mertuanya
dan calon mertua Razeta.
"William makan nasi goreng depan kompleks aja boleh gak, tante? Kasian Razeta kalau telat makananya.
Ucapan William membuat Aurora terbatuk-batuk, selama ini Razeta tidak
pernah mau dimakan di pinggir jalan.
Mama menatap Fauzan minta bantuan,
dalam hatinya mama sangat ingin menolak karna tidak bisa membiarkan
Razeta keluar dengan laki-laki yang belum sah menjadi suaminya.