
Razeta masih terduduk di tempat sholatnya, dia terdiam memikirkan apa yang Rita ucapkan tadi."Yang sholat aja masih bisa masuk neraka, apalagi yang gak sholat?
Air mata menetes di pipi lembutnya, dia sudah begitu lama meninggalkan sholat. Dan kali ini mendengar kata neraka jadi terbayang begitu mengerikannya karna terlontar dari Rita si ahli maksiat. Minum alkohol, bergonta-ganti pasangan, berpakaian nyaris telanjang, narkoba, bahkan masih banyak lagi dosa yang di lakukan Rita yang Razeta ketahui tapi hari ini gadis itu bicara soal ketakutannya terhadap neraka.
Razeta biasa mendengar surga-neraka dari Aurora yang dia anggap sebagai si bidadari surga, dia tak tersentuh sama sekali karna menurutnya Aurora si kolot hanya menakut-nakuti dirinya saja, tapi kali ini berbeda, tubuhnya kaku mendengar seorang Rita mengungkapkan ketakutannya soal Neraka.
"Razeta?"
Sapa Aurora
"Yuk kesana, udah mau mulai tuh. Biar dapet shof pertama."
Razeta bangkit mengikuti arah Aurora. Mereka benar-benar duduk di shof depan. Razeta baru tau kalau ini adalah acara kajian khusus muslimah karna yang hadir memang semuanya perempuan dan jelas banner di depan menuliskan tema "Hijabku Harga diriku", hatinya tertusuk membaca tema itu.
"Sudah gak berhijab, harga diri pun gak punya lagi. Emm atau emang gue kehilangan harga diri karna gak berhijab?" Razeta berdialog dengan dirinya sendiri.
Kajian sudah di mulai, ustadz menyampaikan materi tentang hijab.
Baru saja di sampaikan tapi sudah terasa begitu menggoncang batin Razeta.
"Wanita yang bertabarruj, juga yang terlihat auratnya, di katakan mereka tidak bisa mencium bau surga dari jarak sekian. Maksudnya saat mereka meninggal tapi beluk sempat bertaubat maka tentu saja akan dapat hukuman.
Membuka aurat itu dosa besar, tak ada bedanya antara perempuan yang buka aurat dengan berzina, riba, durhaka, musyrik, semuanya dosa besar. Membuka aurat sudah dosa, di lihat lelaki yang bukan mahromnya juga dosa, coba inget sehari ketemu berapa orang?? Nah, sebanyak itu juga panen dosanya. Ulama bilang kalau ada wanita yang jaga auratnya lalu di perkosa dapet dosa. Tapi kalau dia buka aurat lalu di perkosa maka keduanya berdosa. Jadi besar sekali dosa buka aurat ini, sulit cari ibadah yang bisa menyeimbangkan dosa satu ini."
Razeta terdiam, dia sudah tak bisa lagi mencerna isi ceramah selanjutnya.
Dia kembali tertusuk oleh kata"tak ada bedanya antara perempuan yang membuka aurat nya dengan berzina".
Malu rasanya dia menangis dan mengurung diri karna perkosa tapi selama ini dia membuka aurat sama dengan berzina suka rela.
"Alangkah hina nya aku..., "
Lirih Razeta mencaci dirinya sendiri.
Dia kembali menangis dalam diamnya.
Rasa malu itu muncul sebegitu hebatnya. Semua kejadian berputar di memorinya bagaimana dia dengan bangga memamerkan kemolekan tubuhnya, bertapa bahagianya dia saat banyak yang memuji dan mendambakan dirinya. Dan dirinya ternyata tak lebih baik dari seorang perempuan penghibur.
Memuaskan mata para lelaki.
Perempuan penghibur saja masih ada harganya sementara dia mengumbar dirinya secara gratis dan suka rela.
Terus saja Razeta larut dalam fikiran-fikirannya.
"Razeta lo kenapa?"
Aurora mengangkat dagu sahabatnya yang tertunduk tak berdaya.
Di bawanya Razeta keluar dari tempat itu, dia tau sahabatnya sudah tak akan nyaman ada di tempat ini. Orang-orang menatap aneh ke arah mereka, Razeta hanya tertunduk sedangkan Aurora menebar senyum ramah pada tiap orang yang di lewati nya.
Mereka sudah berada di dalam mobil Razeta, namun belum ada tanda-tanda mobil itu melaju. Razeta masih tertunduk menangis dan Aurora masih saja bungkam memberi jeda Razeta untuk menyelesaikan tangisnya.
Saat keadaan sudah lebih baik,
Aurora mulai membuka suara. Dia rasa ini memang saat yang tepat untuk membuka fikiran Razeta.
"Lo kenapa sih nangis?"
"Gue malu, malu sama Allah, malu sama lo, terlebih sama diri gue sendiri. Wajar kalau tiap cowok deket sama gue pasti minta gituan, mereka gak nganggep gue lebih baik dari wanita penghibur. Gue malu, Ra..."
"Iya lo bener. Bagus kalau sekarang lo ngerasa malu itu artinya Allah udah bukain hati lo. Allah udah buat wanita itu jadi makhluk yang mulia, di syariatkan menutup diri agar tidak di ganggu, agar kita terlihat beda dari wanita-wanita jahiliyah tapi kita dengan sendirinya malah membuka aurat, menyamakan diri dengan para wanita penghibur. Terus lo ngarep dapet laki-laki sholeh? Lo mimpi? Laki sholeh juga ngarep dapet istri sholeh kali. Kalau udah gini sekarang salah siapa?"
" Salah gue, " Jawab Razeta lemah.
"Terus kalau tau salah lo harus ngapain?"
"Perbaiki".
"Nah itu tau!"
"Tapi gue belum siap. "
" Terselah lo sih kalau emang belum siap, tapi lo harus tau mati itu gak nunggu lo siap. Yakin lo bakal siap kalau perjalanan pulang ini kita gak terjadi apapun? Kalau kita kecelakaan terus meninggal dan lo belum nutup aurat. Mau bilang apa lo waktu di tanya malaikat?"
Hening beberapa saat. Razeta tak menjawab lagi.
"Kenapa lo diem?" Tanya Aurora.
"Kita pulang.Kalau gue masih selamat sampe rumah berarti Allah masih ngasih kesempatan gue taubat".
"Gue berdo'a yang terbaik buat lo, lo sadar gak sih kalau gue sayang banget sama lo. Gue mau kita bareng-bareng sampe surga, gue emang belum tentu masuk surga, bisa jadi malah lo duluan.
Itu gunanya kita saling nasehatin.
Razeta, gue mohon sama lo, kalau nanti lo udah di surga dan belum ketemu gue maka tanya ke Allah di mana sahabat lo ini yang pernah berusaha jadi baik bareng lo. Ya?"
Razeta balas dengan mengangguk, setidaknya itu jawaban yang tepat saat ini karna Razeta sedang malas berdebat.
Mana mungkin dia bisa masuk surga lebih dulu, orang buta saja bisa lihat siapa bidadari di sini. Pikir Razeta.
Aurora tersenyum, sejak lama dia menunggu saat ini untuk bisa menasehati Razeta. Bukan tanpa alasan kenapa dia baru mencoba menasehati Razeta secara terang-terangan, dia tau harus ada saat yang tepat untuk bisa bicara dan di terima oleh Razeta. Bukankah dakwah tak harus selalu lewat lisan? Prilaku juga dakwah, lewat pakaian juga dakwah, sebagai muslimah kita adalah duta dakwah, segala sesuatu nya jadi sorotan, jadi bahan tiruan. Itu yang coba Aurora terapkan pada Razeta, belum berhasil memang tapi dia sudah berusaha, dan ini upaya terakhirnya.
Dia menyayangi Razeta seperti saudaranya, tentu Aurora sangat ingin bersama Razeta hingga ke surga.