Razeta

Razeta
Selamat datang di dunia



Happy Reading 🖤


Dan secepatnya kilat William mengendong Aurora menuju mobilnya, dan Razeta mencari kaka kandung nya yang entah berada dimana.


"Astaghfirullah, mas Fauzan kemana si? Gatau istri mau ngelahirin." Ucap Razeta berjalan mencari kakanya yang entah ada dimana itu.


"Permisi, lihat mas Fauzan gak?" Tanya Razeta kepada seorang tamu undangan.


"Tadi dia berada di belakang, coba anda cari siapa tahu dia ada di sana." Jawab dia sambil menunjukkan arah.


"Terimakasih." Razeta mempercepat langkahnya menuju arah yang di beritahu itu.


"Mas Fauzan! Istri mu mau melahirkan dan kamu ngapain di belakang?! " Teriak Razeta yang membuat Fauzan kaget saat mendengar Istrinya akan melahirkan.


"Astaghfirullah. Istriku mana?" Tanya Fauzan panik dan memasukkan ponselnya yang tadi dia pakai.


"Udah di bawa William sama ayah, mas bareng aku sama mama. Cepetan mas jalannya."


"Iya Ta. Ini udah cepat."


Tak lama mereka semua sudah sampai di rumah sakit, Razeta segera mencari ruang bersalin atas nama Aurora kepada suster yang berjaga depan itu.


"Ruang bersalin Anggrek 1 atas nama ibu Aurora." Ucap Suster itu seraya menunjuk arah nya.


"Terimakasih." Ucap Razeta sembari melangkah ke depan dengan cepat..


"Sakittt...... " Hanya itu lah yang terdengar dari luar pintu yang membuat William ketakutan dan dia tidak ingin masuk menemani sang mertua nya.


"Astaghfirullah. William mana istriku?! " Panik Fauzan sembari menggoyang-goyangkan tubuh William.


"Itu di dalam, jangan aja gue ke dalam." Jawab William gemetar.


Fauzan langsung membuka pintu ruang bersalin dan seketika Fauzan melihat Aurora yang menahan sakitnya membuat dia ingin menangis.


"Maafin aku sayang. Aku tadi ninggalin kamu," Ucap Fauzan sembari mengelus-ngelus kepala Aurora.


"Pah, ini baru pembukaan berapa?" Tanya Fauzan kepada papahnya.


"Masih pembukaan lima, kamu tunggu dia aja disini. Takutnya dia sangat membutuhkan kamu. Papa keluar kamu harus kuat ya, Ra."


"Sakit...... " Desis Aurora yang memegang tangan Fauzan yang berada di sampingnya.


"Sabar sayang, berdo'a minta kemudahan kepada Allah."


Sampai tak lama dokter dan suster pun


kembali ke ruangan Aurora dan kembali memeriksa jalan lahirnya.


"Astaghfirullah... Sakittttt bangettt ya Allah..." Pekik Aurora sambil terus menangis.


"Ini sudah pembukaan terakhir bu," Ucap dokter tersebut dan untuk mas nya silakan bantu memberikan semangat kepada istrinya ya.


"Tarik nafas, lalu keluarkan secara perlahan, dorong lebih kuat ya, saya bantu dorong ya,"


Uuhhhh.... Erghhh.... Huftttt...


Aurora mencoba menuruti intruksi yang di ajarkan dokter tadi, keringat mulai membahasi kerudungnya, rasa sakit


yang teramat sangat merambat ke tubuhnya dan tidak bisa di tahan itu.


"Astaghfirullah... Sakit bangettt masss..."


Rintih Aurora meremas tangan Fauzan yang sibuk membacakan do'a-do'a untuk supaya berjalan dengan sesuai yang diharapkan.


"Sayang, kamu pasti bisa, jangan nyerah."


Sahut Fauzan yang tidak sanggup melihatnya seperti ini.


Aurora kembali mengatur nafasnya dan berusaha mengejen Sekuat-kuatnya


Aaaaarghhhh.... Aurora mengejen sekuat tenaga sambil mencengkram lengan Fauzan sekuat-kuatnya.


Oek... Oek.. Oek...


Terdengar suara bayi memenuhi ruangan


tersebut, membuat mereka di dalam ruangan tersenyum lega. Dan Fauzan melakukan sujud syukur kepada Allah.


"Dokter. Sepertinya yang di lahirkan baru kakaknya. Apa kita akan melakukan operasi?" Tanya Suster kepada dokter nya.


"Iyaa. Kita akan melakukan operasi untuk menyelamatkan ibu dan anaknya. Untuk suami bu Aurora silahkan keluar dulu ya."


"Berarti anak saya kembar dok? Apakah keduanya bisa selamat?" Tanya Fauzan sambil terisak.


"Kita lihat nanti,"


............


Dua jam telah selesai melaksanakan operasi caesar.


"Alhamdulillah sayang. Kamu bisa melahirkan dua anak kita secara selamat. Walaupun dengan operasi aku bersyukur kepada kamu, aku mohon cepet lah bangun ya lihat bayi kita yang imut ini." Ucap Fauzan sembari memegang tangan Aurora dan menangis sejadi-jadinya.


"Mas. Mungkin mba Aurora lagi istrahat jangan ganggu dia dulu." Jawab Razeta sembari menahan air mata untuk tidak keluar.


"Kita sholat berjamaah saja. Meminta pertolongan kepada Allah." Ajak William yang berada di ruangan itu.


Selesai sholat berjamaah Razeta memasuki ruangan Aurora.


"Lo kapan bangun si? Gue kangen nih ceramahan lo, masa lo ga kangen ngga kangen gue juga. Jahat lo!"


Tiba-tiba tangan Aurora bergerak walaupun hanya sebentar saja.


Segera Razeta menghubungi dokter


Razeta pun memberitahukan kepada Fauzan bahwa Aurora tadi menggerakkan tangannya.


"Alhamdulillah. Ibu Aurora sudah selesai melewati masa koma sesaat nya, dia sudah bisa membuka matanya, saya pamit." Ucap sang dokter sambil melangkah ke arah pintu.


"Sayang kamu tolong kasih respon supaya kami tahu bahwa kamu susah siuman," Perintah Fauzan kepada istrinya.


Dan sekita Aurora memberikan respon dengan air mata yang turun. Peralatan Aurora membuka matanya walaupun sangat berat itu.


"Sayang anak kita mana? Anak kita sehatkan?" Tanya Aurora dengan lemas


"Anak kita sama mamah di kamar sebelah, aku sudah kasih nama anak kita sesuai dengan yang kamu inginkan."


"Aduhhh... Lo ya Ra. Bikin suami gue pingsan tahu, gara-gara denger lo jerit-jerit sakit." Ucap Razeta sambil matanya mengarah kepada William.


"Hah? Wil, lo beneran pingsan?" Tanya Fauzan tidak percaya.


"Gue gak tau pingsan, tiba-tiba gue udah ada ruangan aja."


"Asalamualaikum," Ucap seseorang yang mengetuk pintu.


"Walaikumsalam, siapa ya?" Jawab Razeta sembari berjalan menuju pintu.


"Ini ibu, bawa baby twins." Ucap seorang perempuan yang menggendong satu bayi dan di ikuti oleh baby sitter.


"Azzam aktam wijaya sebagai kakanya,


Azzura aktam wijaya sebagai adiknya." Ucap Fauzan kepada Aurora.


"Astaghfirullah ini anak kayanya fotocopyan mas Fauzan ya bukan lo, Ra." Ujar Razeta.


"Kasihan anakmu seperti nya dia mau asi kamu, keluar sebentar dulu biar ibu dan anak


bertemu. Fauzan kamu diem disini bantuin Aurora memberikan asinya." Perintah sang mama.