Razeta

Razeta
Lamaran 2



"Udah pelukannya, udah, keburu calon besan dateng, ma kita belum selesai


persiapaannya." Fauzan melerai tiga


wanita itu. Papa dan mama tertawa melihat ekspresi Fauzan.


"MasyaAllah yang adiknya mau nikah,


heboh banget." Goda mama.


Fauzan tersenyum kemudian berlalu memantau para pekerja agar


menyelesaikan pekerjaannya sebelum


Maghrib tiba.


"Ta, lo kenapa belum pake hijab juga?


William sudah hijrah tuh, masa lo belum sih? Dan waktu itu lo bilang ke gua mau sudah ingin memakai hijab, kenapa gak jadi?" Tanya Aurora yang sedang menemani Razeta bersiap menyambut keluarga William. Padahal Aurora sudah bilang nanti saja bersiap setelah sholat isya namun Razeta ngotot untuk bersiap sekarang. Saat Aurora bertanya apa Razeta masih saja tidak sholat, sahabatnya itu hanya diam tidak lagi menanggapi malah asik dengan alat make up nya.


"Ra, please jangan bahas itu sekarang,


keburu mood gue jelek, lo lama-lama makin nyebelin ya." Razeta yang megang lip tint di hadapan kaca hanya melirik Aurora sekilas, beruntungnya Aurora diam tak melanjutkan ceramahnya


atau mereka akan berdebat lagi.


"Gue sayang sama lo, makanya gue terus ngingetin." Nada bicara Aurora sedingin es, lalu dia meninggalkan Razeta sendirian, terpaku menatap dirinya di cermin.


Lima belas menit setelah isya, keluarga William datang di sambut oleh Fauzan,


mama, dan papanya, Aurora sedang sibuk di dapur menata makanan ketering.


Mereka semua duduk beralas karpet


yang sudah disediakan, tak sampai sepuluh orang keluarga William yang ikut antaranya 2 wanita paruh baya dan dua wanita yang terlihat masih muda, Aurora yang sibuk menyuguhkan makanan


bersama beberapa pelayan. Aurora tersenyum di balasnya dengan senyum yang lebih manis dan santun.


Suasana begitu hangat, dua keluarga asik berbincang dan sesekali tertawa.


Fauzan menuju kamar Razeta untuk mengajak adiknya turun, sebenarnya


Fauzan agak kaget dengan dandanan


Razeta namun dia tidak berani protes.


Razeta dan Fauzan menuruni tangga,


tidak ada ekspresi kagum, tersenyum atau bangga, semuanya kaget melihat


penampilan Razeta sehingga hal itu membuat Razeta menciut, dia berhenti namun Fauzan mengenggam tangan adiknya, seakan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


bisik-bisik dari keluarga William mulai terdengar, kecuali ayah dan ibunya.


Fauzan tertunduk entah karna tidak berani menatap Razeta kali ini, atau menunduk karna malu di hadapan keluarganya, atau bisa jadi karna keduanya.


Razeta tersenyum canggung, mencium tangan bubu dah ibu-ibu yang berpakaian hampir sama seperti dengan bubu,


saat Razeta pada perempuan berbaju putih perempuan itu tak lantas menyambut tangannya, dia malah menatap pada William yang tidak menatap nya lalu memejam sejenak


mengatur detak jantungnya baru menyambut uluran tangan Razeta.


"Hai, Razeta. Aku Willy." Gadis dengan keturunan Cina itu memamerkan lesung pipinya pada Razeta, Razeta langsung mengagumi Willy saat itu juga.


"Haii juga." Jawab Razeta singkat,


hendak menyalami lelaki di sebelah ayahnya William namun lelaki itu


cepat menangkupkan kedua tangan,


menolak bersalaman bersama Razeta


secara santun. Razeta yang sedikit canggung akhirnya hanya tersenyum


pada yang lain lalu bergegas


duduk di sebelah Aurora dan mama


"Gila tu bapa-bapa buat malu


gue aja," Bisik Razeta kepada Aurora.


Bukannya membalas ucapan Razeta,


Aurora malah melotot meminta Razeta untuk diam.


Razeta membenarkan letak rambutnya,


menutupi pundak sebelah tangan


sementara membiarkan pundak kirinya terbuka.


Gaun berukat berwarna merah selutut model Sabrina, dengan lengan sesiku


itu jujur saja membuat Razeta nampak sangat cantik, namun membuat William tak berani mengangkat wajahnya.


Keluarganya tak enak dengan keluarga William namun tidak bisa melakukan apa-apa, mereka juga tidak menyangka bahwa Razeta akan berpakaian seperti itu.


"Mbak, ko bisa William mau dapet calon seperti itu? Sampe-sampe pindah agama lagi, Apa nggak nyesel William nolak si Willy demi cewe seperti itu?" Bisik-bisik seorang ibu sebelah ibunya William


namun bu Fitri memintanya untuk diam.