
Bugg
Kim terjatuh dari kasurnya. Tersadar dari tidurnya Kim merasakan sakit kepala akibat dari minuman beralkohol yang tadi malam dia minum. Tetapi dia tidak mengingat kejadian antara dia dan Bosnya semalam. Kim beranjak berdiri dari lantai tempat dia terjatuh dan melihat memo kertas kuning di atas meja kecil di samping kasurnya. Kim mengambil kertas kuning tersebut dan membacanya.
Nona Kim, kamu boleh beristirahat hari ini.
Aku akan bertemu klien dan menyelesaikan, pekerjaan hari ini. Jika ada apa-apa telepon atau kirim pesan saja padaku.
Kenley Ellieston.
Membacanya membuat Kim memberi senyuman pada kertas kuning itu dengan manis, tiba-tiba kepala Kim mengingat sesuatu dan ya, Kim mengingat kejadian tadi malam di kamar Hotelnya.
"What is this?" ucap Kim seraya memegang kepalanya yang sedang sakit.
Ingatan itu terus bermunculan di kepalanya, satu persatu kejadian tadi malam mulai memunculkan diri dan hal yang pertama yang di ingatnya adalah saat di dalam lift dia berada dalam dekapan Bosnya. Dia juga mengingat dengan jelas saat itu wajah Bosnya sangat merah sekali saat dia menatapnya tadi malam di dalam lift.
Ingatan lain juga muncul di kepala Kim, di mana dia berkata banyak hal dan menolak untuk melepaskan jaketnya, yang paling membuat Kim terkejut adalah dia mengingat di atas kasurnya dia berada di atas tubuh Bosnya dan bahkan Bosnya itu mencium bibirnya.
Saat mengingat kejadian itu Kim tersenyum sendiri karena ciuman itu adalah ciuman pertamanya setelah 25 tahun dia hidup.
"Not bad." ucap Kim yang masih tersenyum sendiri seraya memegangi memo kertas kuning dari bosnya itu. "Dia bahkan menuruti permintaanku tadi malam" sambung Kim seraya tersenyum lebar dengan memo yang di bacanya kembali.
Kim berlompat-lompat di tempat dan tidak tahu mengapa Kim merasa senang, di antara dua hal ini yang mungkin membuatnya merasa begitu senang, pertama kejadian semalam dan sebuah ciuman, kedua mendapat waktu untuk berjalan-jalan mengitari Prancis.
πΊπΊπΊ
Sebelum berjalan mengelilingi kota Prancis Kim berkunjung ke kamar Bosnya Kenley untuk meminta izin. Saat dia menekan Bel pintu kamar Bosnya terbuka, sosok wanita yang tidak asing bagi Kim yang membukakan pintu untuknya, dan ya dia adalah Roselina Wiley.
"Rose siapa yang datang?" tanya Ken yang hanya mengenakan handuk di tubuhnya.
"Asistenmu yang datang." saut Rose pada Ken.
"Suruh dia masuk." kata Ken seraya mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Tidak usah, Nona bilang saja sama Tuan kalau aku izin pergi jalan-jalan dan jam 7 malam aku akan kembali ke hotel. Terima kasih." sela Kim seraya pergi meninggalkan kamar Bosnya itu dengan rasa cemburu dan penyesalan dalam dirinya setelah melihat wanita itu berada di kamarnya Bosnya.
Benar sekali yang membuat Kim merasa sangat bahagia adalah kejadian di antara dirinya dan Bosnya tadi malam. Itulah alasan mengapa Kim tersenyum sendiri sejak dari pagi, dan saat melihat wanita itu dia mulai sadar jika kejadian tadi malam adalah sebuah kesalahan karena pengaruh dari alkohol.
Kim terus berjalan melewati pintu-pintu kamar yang ada di hotel dengan tatapan mata ke depan hingga berhenti di depan Lift. Saat lift terbuka dia mengingat kejadian tadi malam di dalam lift itu, kemudian dia tidak jadi memasuki lift tersebut dan memilih turun dengan menggunakan tangga.
πΊπΊπΊ
"Mana Nona Kim?" tanya Ken yang sudah memakai baju lengkap dengan jasnya.
"Dia sudah Pergi." jawab Rose seraya duduk di kursi.
"Bukannya dia ingin bertemu denganku." ucap Ken seraya mengernyitkan keningnya.
"Tadi sebelum dia pergi dia bilang minta izin padamu untuk pergi jalan-jalan dan jam 7 malam dia akan kembali ke hotel." jelas Rose pada Ken seraya mengernyitkan keningnya.
Ken merasa bingung mengapa Kim tidak bilang langsung padanya jika dia ingin pergi jalan-jalan. Dia kesal karena sikap Kim tidak sopan padanya yang pergi begitu saja tanpa menemuinya terlebih dahulu.
"Apa dia bilang ingin pergi ke mana?" tanya Ken pada Rose yang sibuk memainkan ponselnya. Rose hanya menggelengkan kepalanya dan tidak peduli akan pertanyaan Ken tersebut.
"Baiklah kita berangkat sekarang, ini sudah jam berapa dan ingat kamu aku panggil ke sini untuk membantuku menggantikan Nona kim." kata Ken pada Rose yang bersikap acuh tak acuh padanya.
πΊπΊπΊ
Menara Eiffel adalah tempat yang di kunjungi oleh Kim, yang mana memang tempatnya indah pada saat malam hari dan tidak perlu banyak biaya untuk menikmatinya. Kim memilih duduk dan memandangi menara Eiffel dari kejauhan di samping tempat dia duduk ada seorang wanita separuh baya sedang menjual beragam macam permen lolipop.
Saat Kim memandangi permen dan wanita separuh baya yang menjual permen tersebut mendatangi Kim dengan membawah satu permen lolipop.
"Un bonbon pour toi." kata wanita paruh baya itu dalam bahasa Prancis seraya memberikan lolipop tersebut pada Kim.
"Merci." ucap Kim seraya mengambil permen lolipop tersebut.
Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Kim sendirian dan kembali menjual permennya.
Sejak kecil Kim tidak pernah merasakan bagaimana rasanya permen. Seberapa manisnya dia tidak tahu karena dia tidak pernah di izinkan untuk memakannya. kehidupan semasa kecil Kim tidak seindah seperti anak kecil lainnya, karena dia berbeda dari yang lainnya, bisa di bilang dia sedikit istimewa apa yang ingin dia lakukan tidak bisa dia lakukan.
Sampai Kim dewasa dia juga harus terima kenyataan bahwa dirinya akan menjalani kehidupan yang lebih sulit dari pada kehidupan semasa kecilnya. Semakin dewasa semakin dia tidak bisa melakukan apa-apa termasuk memakan permen yang ada di tangannya.
Kim melirik jam dan ternyata sekarang sudah jam 9 malam. Sedangkan dia harus kembali ke hotel jam 7 malam, Kim melihat ponselnya dan sialnya ponselnya mati kehabisan baterai.
Di sisi lain Ken sibuk mencarinya ke mana-mana, saat dia menghubungi Kim tidak bisa karena ponsel Kim mati.
"Sebenarnya dia pergi ke mana jam segini tidak kembali." kata Ken yang bolak-balik di depan kamarnya Kim.
"Ken kamu tenang dulu, mungkin dia ada di perjalanan pulang." ujar Rose pada Ken yang berdiri di depan pintu kamarnya Ken.
Dia melihat Kim yang berada di seberang jalan melambaikan tangannya pada Ken seraya tersenyum lebar. Lampu hijau untuk pejalan kaki menyalah dan Kim pun menyeberangi jalan khusus untuk pejalan kaki, saat hampir sampai dia melihat ada seorang Pria menggunakan sepeda dengan pisau kecil di tangannya menghampiri Rose yang berada di sampingnya Ken, dengan cepat Kim berlari ke arah Rose sebelum pria itu mencelakainya.
Tetapi sialnya Kim dan pria bersenjata itu datang secara bersamaan sehingga Kim harus membuat dirinya berada di tempatnya Rose sedangkan Rose di dorong oleh Kim hingga terjatuh di aspal hingga lututnya terluka.
"Aw..."teriak Rose yang terjatuh di aspal.
Ken yang melihat pria bersepeda tersebut lari begitu saja setelah melukai wanita yang ada di dekatnya itu, Ken langsung menolong Rose terlebih dahulu karena Rose yang terlihat terluka saat terjatuh.
"Apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Ken seraya memeriksa luka di lutut Rose.
"Aku baik-baik saja Ken." saut Rose yang beranjak berdiri.
"Maafkan aku Tuan Nona, Pria itu ingin melukai Nona Rose jadi aku tidak sengaja melakukan itu." sela Kim seraya tangannya bergetar dan lolipop di tangannya terjatuh begitu saja.
Ken merasa Kesal saat melihat Kim karena jika bukan gara-gara mencarinya semuanya tidak akan terjadi.
"Ini semua salahmu Nona Kim, jika kamu tidak hilang Rose tidak mungkin mengalami semua ini." marah Ken pada Kim.
Kim yang merasa bersalah tidak hentinya meminta maaf pada Bosnya dan Rose berulang kali.
"Maafkan aku Tuan, tolong maafkan aku." ucap Kim yang menunduk 90 derajat berulang kali.
"Sudah tidak usah dipikirkan kamu kembali ke hotel sekarang, aku akan mengantar Rose kembali ke hotelnya." kata Ken seraya menyuruh Kim dan mengantar Rose pulang.
πΊπΊπΊ
Pintu lift terbuka dan yang keluar Ken. saat Ken keluar dari lift dia melihat Kim duduk di depan pintu kamarnya. "Mengapa kamu masih di luar?" tanya Ken seraya menatap tajam Kim.
"Apakah Nona Rose baik-baik saja?" tanya Kim balik pada Ken.
Ken tidak menjawabnya dan berbalik berkata "Kemasi barang-barangmu besok kamu pulang ke New York." dengan nada suara dingin.
"Tetapi Tuan....."
"Nona Kim tidak usah khawatir pekerjaan di sini aku bisa hendel semuanya sendiri, dan Nona Kim silakan masuk ke kamarmu." ujar Ken yang terkesan sangat dingin.
"Baiklah Tuan" jawab Kim seraya berbalik membuka pintu kamarnya.
Ken yang memperhatikan Kim melihat ada darah yang menetes di balik jaket kulit hitamnya.
"Nona Kim berhenti sebentar." ujar Ken menghentikan Kim masuk ke dalam kamarnya.
Ken mendekati Kim yang sedang berdiri di depannya seraya tangan kanannya memegang gagang pintu dan tangan kirinya terus meneteskan darah.
"Mengapa Tuan?" tanya Kim.
Ken hanya mengabaikan pertanyaan dari Kim tersebut, dia malah meraih tangan kiri Kim dengan berkata "Apakah tidak terasa sakit?" tanya Ken seraya membuka luka di bali sobekan jaket kulit hitam Kim.
"Apanya yang sakit Tuan?" tanya Kim kembali.
"Kamu terluka, dasar bodoh bagaimana bisa kamu tidak merasakannya." kata Ken seraya menarik Kim masuk ke dalam kamarnya Kim.
"Aku baik-baik saja Tuan, ini hanya luka kecil nanti biar aku obati sendiri nanti, Tuan istirahat saja dikamar Tuan." kata Kim seraya menarik Bosnya itu keluar dari kamarnya. Tetapi Ken menolak keluar dan malah meminta Kim untuk melepas jaketnya.
"Lepaskan jaketmu."
"Tetapi Tuan....." saut Kim menolak.
Ken kesal terhadap penolakan yang di berikan Kim padanya, dia berjalan mendekati Kim dan mencoba untuk melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya asistennya itu. Kim berusaha menolak tetapi sialnya dia kalah kuat dari bosnya itu sehingga jaket itu sudah terlepas darinya. Kemudian Ken mengeluarkan kotak P3K dari lemari dan mengobati lukanya Kim.
Kim melihat Bosnya itu sangat perhatian padanya sehingga membuat terasa sesak dan tidak bisa bernapas karena ada yang aneh dalam dirinya. Dia Kenley Ellieston membuat Kim berdebar-debar atas perlakuannya.
"Kamu harus bersiap-siap besok kamu akan kembali ke New York, tidak ada gunanya kamu ada di sini. Hanya bikin aku repot saja dan sekarang aku harus mengobati lukamu seperti ini." kata Ken yang terkesan dingin.
Lamunan Kim pecah saat mendengar perkataan Bosnya itu, dia kembali ke dalam dunia nyata tidak seharusnya dia merasakan hal seperti tadi terhadap Bosnya itu.
"Baiklah Tuan." saut Kim seraya melihat punggung Ken yang pergi keluar dari kamarnya.
.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.β€π§‘πππππ€π€π€