
Hati dan pikiran Kim tidak sejalan karena hati tidak mengikuti apa yang di pikirkan olehnya. Pikiran bisa mengendalikan tubuhnya tetapi tidak dengan hati, hingga akhirnya hati dapat mengalahkan segalanya.
Kim berjalan mendekati punggung Ken dengan berkata. “Apakah kau tidak apa-apa?” seru Kim seraya memegangi bahu Ken.
Seketika Ken menepis tangan dan mendorong Kim menjauh darinya. “Tidak perlu berpura-pura peduli padaku!!” bentak Ken seraya membalikkan badannya menghadap ke arah Kim.
Wajah Kim berubah pucat dengan keringat yang berlebihan, matanya memerah seperti menahan sakit. Awalnya Ken tidak peduli karena dia beranggapan bahwa ini hanya sandiwara yang di lakukan Kim untuk menipunya. Ketidak kepedulian Ken membuatnya menganggap Kim seperti wanita murahan.
Menjadi pria dengan hati yang dingin membuat Ken mampu mengabaikan Kim yang sedang kesakitan. Dia hanya berjalan melewati Kim yang duduk di lantai dengan rasa sakit yang luar biasa mematikan seluruh kekuatannya.
“Aku mohon tolong bantu aku,” ujar Kim menahan pergelangan kaki Ken. melihat Kim yang menahan kakinya membuat Ken hendak menepisnya kembali, tetapi kali ini dia melihat wajah wanita ini sangat pucat dan tangannya bergetar hebat saat memegangi kakinya.
Sama seperti Kim sebelumnya, Ken juga memiliki hati dan pikiran yang tidak sejalan. Hatinya mengatakan jika wanita ini tidak berpura-pura, dia benar-benar mengalami kesakitan yang terlihat jelas dari wajahnya. Wajah itu mengingatkannya pada sang ayah yang sedang berjuang melawan rasa sakit seperti yang pernah dia lihat sebelumnya.
Ken mulai merasa khawatir dan dia beranjak duduk di samping Kim. “Apakah kau baik-baik saja?” seru Ken seraya menyentuh tangan Kim yang terasa sangat dingin saat dia sentuh.
Kim tidak menjawab pertanyaan dari Ken karena rasa sakit ini seakan melumpuhkan bibirnya sehingga dia tidak sanggup mengeluarkan sedikit pun suaranya. Kim mengangkat salah satu tangannya untuk menopang dada kirinya membuat Ken sangat khawatir karena kedua tangan Kim bergetar hebat dan yang lebih membuat Ken gugup adalah Kim terus memukul dadanya dengan menggunakan salah satu tangannya berulang kali tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, hanya air mata yang terus mengalir di pipinya.
“Kau kenapa?” Ken terus memperhatikan pergerakan Kim yang terus memukuli dadanya berulang kali, terlihat jelas di atas dadanya mulai memerah karena akibat dari pukulan yang di lakukan Kim pada dirinya sendiri.
“Hentikan, kau bisa melukai dirimu sendiri!!” bentak Ken seraya menahan tangan Kim yang terusan memukul dadanya.
Bukannya berhenti Kim malah memukul kembali dadanya dengan menggunakan tangan satunya. Kim semakin mengeram dalam tangisnya seraya memukul keras dadanya, air mata terus berjatuhan dan suara kesakitan Kim membuat Ken memeluk wanita itu dengan erat. Ken tidak tahu apa yang terjadi tetapi dia tahu jika Kim sedang kesakitan saat ini.
“Aaarhhgg....” rintihan Kim kesakitan di dalam pelukan Ken. Air mata terus-terusan menetes membasahi baju Ken, dia bisa merasakan seluruh tubuh Kim seperti sedang berjuang melawan rasa sakit yang tak tertahankan. “Aaarhhgg....” rintihan yang terus menerus sejak dari tadi memenuhi telinga Ken. Mendengar rintihan itu membuat Ken semakin memeluk tubuh Kim dengan erat walaupun dia sangat membenci itu.
Setelah beberapa menit Ken memeluk Kim dalam dekapannya, dia bisa merasakan bahwa seluruh tubuh Kim tidak lagi mengeras seperti menahan rasa sakit, tetapi yang Ken rasakan seluruh tubuh Kim melemas dan kepalanya mulai terlentang ke belakang secara perlahan. Menyadari Kim hilang kesadaran Ken langsung mengangkat tubuh Kim untuk di bawah ke Rumah Sakit.
🍁🍁🍁
Memilih menunggu berarti Ken merasa sangat khawatir dengan keadaan Kim. dia duduk di koridor dengan tangan yang terus-terusan mengusap wajahnya secara kasar. Ken terus terbayang wajah Kim yang menahan rasa sakit yang sempat dia saksikan beberapa waktu lalu, apa yang telah terjadi membuatnya sangat menyesal memperlakukan Kim dengan kasar.
Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya Andrew keluar dari kamar rawat Kim. Andrew berjalan menghampiri Ken yang sedang duduk di kursi panjang yang di sediakan untuk keluarga pasien. Andrew duduk di samping Ken dengan berkata. “Terima kasih telah menolong Kim.” ucap Andrew seraya menepuk bahunya Ken.
Ken menoleh ke samping di mana Andrew ada di sana, dia sangat ingin bertanya tentang Kim, apa yang telah di alami oleh Kim. Tetapi karena egonya, Ken hanya diam saja dengan kedua tangan yang bergetar karena sangat khawatir dengan keadaan Kim sekarang.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” seru Andrew pada Ken. Tatapan yang di berikan Ken pada Andrew merupakan tatapan seseorang yang ingin tahu apa yang telah terjadi. Tapi Ken hanya menatap Andrew.
“Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan,” kata Andrew yang mengerti arti dari tatapan yang di berikan Ken padanya.
“Apa yang telah terjadi padanya?” seru Ken seraya memalingkan tatapannya ke bawah.
Hening sesaat, Andrew menarik nafas panjang saat mendengar pertanyaan dari Ken. untuk menjawab pertanyaan Ken, Andrew harus menelan ludahnya sendiri karena terasa sangat menyakitkan menjelaskan apa yang terjadi pada wanita yang sangat dia sayangi.
“Dia menderita gagal jantung,” cetus Andrew dengan pelan.
“Kau berbohong, dia masih muda dan tidak mungkin dia menderita sakit jantung.” Ken menepis kenyataan dan menolak apa yang di kata Andrew padanya.
“Aku tidak berbohong, apakah kau masih ingat Ken saat usia Kita masih lama tahu aku pernah bercerita tentang gadis kecil cantik yang divonis menderita sakit jantung?” seru Andrew yang berusaha mengingatkan.
“Tentu saja aku mengingatnya karena saat itu kau sangat bahagia sekali menceritakan tentang gadis itu,” saut Ken seraya tersenyum tipis.
“Gadis kecil itu adalah Kimberli Clark.” Kata Andrew yang semakin membuat hati Ken hancur. Seketika Ken bungkam dan tidak berbicara ataupun membantah perkataan Andrew dan dia hanya mendengarkan apa yang di katakan Andrew padanya.
“Saat itu pertama kali aku bertemu dengan Kim kecil, dia sangat cantik dan ceria. Dia selalu tersenyum padaku saat aku menatapnya, karena malu aku tidak berani menghampirinya tetapi berkat Grece aku bisa mengenal dan dekat dengannya. Suatu ketika aku dan Grece pernah melihat Kim mendapat serangan jantung di depan mata kami, aku sangat takut saat itu sehingga aku menangis sangat kencang karena melihat Kim yang terbaring di lantai seraya menangis menahan sakit. Setelah beberapa hari Kim menginap di Rumah Sakit aku dan Grece selalu datang membesuknya, setiap kali kami datang menemuinya dia selalu tersenyum pada kami dengan wajah yang pucat dia masih tetap ceria dan tertawa bersama kami. Dulu aku tidak ingin menjadi seorang Dokter dan lebih memilih menjadi seorang pembalap profesional, tapi setelah melihat Kim yang terus-terusan menderita dan keluar masuk Rumah Sakit aku memutuskan untuk menjadi seorang Dokter seperti Daddy.” Andrew berhenti sesaat, sedangkan Ken terus mengepal kedua tangannya dengan Kuat dan terus mendengarkan apa yang di ceritakan Andrew tentang Kim yang tidak dia ketahui selama ini.
“Gadis kecil yang divonis menderita gagal jantung bawaan di usia lima tahun, membuat keluarganya sangat ketat padanya. Aku tidak pernah bisa membayangkan kehidupan Kim selama ini, apa pun yang dia lakukan semuanya terbatas tetapi dia bisa melewati semuanya dan bisa bertahan sampai sekarang. Aku tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan seperti ini, semakin hari kondisi jantungnya semakin memburuk, aku takut jika dia tidak sanggup bertahan lagi.” Andrew merasa resah karena dia tahu jika kondisi Kim sudah tidak memungkinkan lagi.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” seru Ken seraya menatap tajam mata Andrew. Dia tidak mengerti kenapa Andrew berkata seperti seolah dia ingin menyerah terhadap penyakit Kim.
“Aku berkata seperti itu karena semenjak Uncle Marvin meninggal, keadaan mental Kim menurun seakan dia takut,” Andrew menghelakan nafas panjang.
“Apa hubungannya dengan kematian Daddy terhadap Kondisi mentalnya Nona Kim?” Ken kembali di buat marah jika menyangkut Marvin sang ayah.
“Selama Uncle Marvin masih hidup, Kim di anggap sebagai anak angkat olehnya dan begitu pun dengan Kim, dia menganggap Uncle Marvin sebagai sosok Daddy-Nya setelah bertahun-tahun Daddy-Nya meninggal karena penyakit yang sama. Sejak kematian Uncle Marvin, Kim mulai ketakutan dia takut jika dirinya akan bernasib sama.”
“Kau bilang Daddy menganggap Nona Kim sebagai anak angkatnya?” Ken terkejut karena kenyataan yang di ketahui selama ini berbeda.
“Emm...Daddy dan Uncle Marvin sangat menyayangi Kim sebagai anak mereka sama seperti mereka menyangyangi kita Ken.” Andrew menunjukkan ekspresi wajah sedihnya kepada Ken.
“Kenapa kau tidak bercerita selama ini padaku?” seru Ken lemah dan kedua tangannya berhenti terkepal.
“Karena aku kira kau sudah tahu,” saut Andrew menatap Ken yang duduk di sampingnya.
“Kalau kau tidak bercerita padaku, aku tidak akan pernah tahu.” Ucap Ken pelan seraya menatap kedua kakinya.
“Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya sedangkan sudah jelas Uncle Marvin memberitahumu lewat surat wasiatnya,” Andrew mengingatkan Ken pada seseorang yang dia harus biayai pengobatannya sesuai permintaan sang ayah dalam wasiatnya.
“Jangan bilang Kim adalah orang yang aku biayai pengobatannya selama ini?” Ken menatap Andrew dengan tatapan yang tidak ingin Andrew mengiyakannya.
Tanpa basa-basi Andrew menganggukkan kepalanya dengan berkata. “IYA”
.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍