Protect My Heart

Protect My Heart
Part 40



Tidak di sangka kepergian Ken membuat hari-hari yang di lalui Kim terasa sangat berat tanpa kehadiran Ken di sisinya. Tanpa kabar Ken menghilang layaknya di telan bumi, tidak ada satu pun kabar tentang dirinya. Apa yang di pikirkan Ken sehingga tidak ada satu pun berita tentang dirinya. Pada akhirnya Kim berpikiran jika Ken sengaja pergi meninggalkannya karena menjadi beban untuknya.


Sudah satu minggu kepergian Ken ke New York tetap saja tidak ada kabar juga dari dirinya. Kim tidak berharap jika Ken akan kembali kepadanya, apa yang terjadi saat ini adalah hal yang benar karena jika saat dia pergi nanti tidak ada orang yang akan terluka dan menderita karena kepergiannya. Akan lebih baik seperti itu, tetapi hati Kim berkata lain seperti biasa hati dan pikirannya tidak berjalan di satu arah. Hatinya mengatakan jika dirinya merasa sangat sedih dan kecewa atas menghilangnya Ken. Jika tidak ingin bersamaku seharusnya dia katakan langsung padaku jangan menghilang begitu saja. Batin Kim.


Kemudian Kim menyalakan layar ponselnya dan dia membuka percakapannya dan Andrew di in Boxnya beberapa lalu.


Andrew:


Apakah kau baik-baik saja?


Kimberly:


Ya aku baik-baik saja.


Andrew:


Apakah kau yakin?


Kimberly:


Tentu saja, kau jangan khawatir karena aku rutin meminum obatku seperti yang kau suruh.


Andrew:


Bukan itu maksudku?


Kimberly:


Terus apa?


Andrew:


Maksudku adalah kau dan Kenley.


Kimberly:


Kau tidak perlu khawatirkan aku dan dia. Lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri.


Andrew:


Apakah kau marah padaku?


Kimberly:


Tidak. Bagaimana bisa kau tahu hubungan aku dan Ken?


Andrew:


Aku mendengar percakapan kalian di Rumah Sakit. Saat itu Ken bersamamu dan aku juga tahu jika pria yang sering kau ceritakan padaku adalah Ken sahabatku.


Kimberly:


Maafkan aku Andrew.


Andrew:


Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Kau tidak bersalah dan itu adalah hakmu untuk memberitahukan atau tidak padaku.


Kimberly:


Bukan itu maksudku.


Andrew:


Jadi apa maksudmu?


Kimberly:


Andrew:


Tidak apa-apa, aku tahu ini sedikit membuatku kecewa tetapi aku senang kau mengetahui tentang perasaanku padamu. Bagiku semua itu sudah cukup untuk membuat diriku lega karena tidak ada lagi yang aku rahasiakan darimu. Terima kasih telah mau jujur padaku.


Sudah hampir lima hari Andrew tidak lagi menghubungiku, apakah dia marah padaku karena obrolan ini?. Seru batin Kim seraya menatap layar ponselnya.


Kim menghelakan nafas panjangnya kemudian dia mematikan ponselnya dan secara bersamaan layar ponsel Kim mati begitu juga dengan listrik di Apartemennya. Semuanya terlihat gelap gulita dan tiba-tiba hujan turun.


Kim beranjak berjalan ke arah jendela untuk melihat seluruh kota yang gelap karena pemadaman listrik. Malam yang terasa sunyi di landa hujan membuat Kim merasa tenang, rasa dingin yang lembut membuatnya merasa nyaman.


Mengikuti kata hatinya Kim berjalan keluar dari Apartemennya tanpa menggunakan alas kaki. Dari lantai lima Kim turun dan keluar ke jalanan dengan kaki terlanjang. Secara perlahan kaki kecil Kim menginjak gendangan air di jalanan, langkah demi langkah Kim bisa rasakan dingin air hujan menyentuh kakinya. Satu persatu air hujan mengenai wajah dan tubuh Kim hingga seluruh tubuhnya basah karena tetesan air hujan yang terjatuh.


Kim menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya dengan erat dan menikmati tetasan air hujan yang terus jatuh mengenai tubuhnya seraya memejamkan matanya. Sesaat Kim melupakan jika dirinya akan terserang deman jika lama-lama terkena air hujan. Rasa tenang di bawah air hujan membuat Kim mengabaikan semuanya.


"Apa yang kau lakukan di bawah hujan dengan pakai begini?" terdengar suara pria yang tak asing bagi Kim. Sedangkan Kim tidak menggubris suara tersebut dan dia tetap terus memejamkan matanya seraya mengangkat wajahnya menghadap ke atas dengan tetasan air hujan yang terus mengenai wajahnya.


"Apakah kau tidak mendengarku?" seru suara pria itu kembali pada Kim.


Masih pada posisinya Kim menjawab suara tersebut. "Lima menit saja biarkan aku seperti ini." Ucap Kim yang terus memejamkan matanya yang menikmati tetes demi tetesan air hujan mengenai wajahnya.


"Baiklah hanya lima menit saja aku biarkan kau begini," ucap suara pria itu dan secara perlahan pria itu memeluk Kim dari belakang dengan kedua tangannya yang mengunci pinggang Kim dengan erat.


Hening selama lima menit kemudian pria itu berkata pada Kim. "Lima menitmu sudah habis wanita milik Kenley."


"Apakah kau mengingat di hari kita bertengkar di apartemenmu?" seru Kim pada Pria yang tak lain adalah Kenley. Tak ada jawaban dari Ken hanya hangat nafasnya yang mengenai leher Kim di bawah hujan.


"Hari itu kau pernah bilang jika aku adalah hanya tetasan air hujan yang menghalangi perjalananmu." Ucap Kim kembali pada Ken yang terus memeluknya dari belangkang. Ken membisu dan dia hanya terus mendengarkan apa yang dikata Kim padanya karena dia tahu pada hari itu kata-katanya sangat kejam.


"Kau tahu, setelah merasakan tetesan air hujan membasahi tubuhku secara perlahan rasanya seperti sangat mengagumkan. Terasa tenang saat tetesan hujan mengenaiku, saat itu aku sangat membenci hujan dan kini aku menyukainya karena aku tahu hujan bisa menyembuhkan luka di hatiku saat ini." Ucap Kim seraya membuka matanya dan menghadapkan wajahnya ke wajah Ken.


"Maafkan aku," ucap Ken menatap ke dalam mata Kim yang tergambar jelas bayangan wajahnya di dalam mata itu.


Kim tersenyum tipis melihat wajah Ken yang penuh janggut di garis wajah tampannya itu. "Apakah kau baik-baik saja?" seru Kim yang menatap wajah Ken yang seksi karena janggutnya yang tumbuh.


"I am Fine." jawab Ken seraya menyelipkan rambut basah ke telinga Kim dengan lembut.


"By The Way, kapan terakhir kau menyungkur janggutmu?" Tanya Kim seraya menyentuh janggut Ken dengan kedua tangannya.


"Aku tidak ingat kapan terakhir aku menyukurnya." Jawab Ken yang tersenyum sipu.


"Kau terlihat sangat berantakan tapi aku menyukainya karena janggutmu terlihat seksi." Ucap Kim menggoda Ken. Kim tersenyum manis melihat Ken yang tersipu malu karena ucapannya.


Melihat Kim tersenyum membuat Ken menarik Kim ke dalam pelukannya dengan berkata. "Aku sangat merindukanmu."


Kim tersenyum dengan berkata. "Aku kira kau sudah melupakanku."


"Kata siapa aku sudah melupakanmu?" seru Ken seraya masih memeluk erat Kim dalam dekapannya di bawah hujan.


"Kataku barusan, kau menghilang setelah kembali ke New York." Kim tersenyum karena apa yang dia pikirkan tidak benar.


"Sudah kita bahas ini di apartemenmu saja, nanti kau sakit lama-lama terkena hujan." Kata Ken yang langsung mengangkat tubuh Kim untuk kembali ke apartemen karena dia tahu jika Kim tidak menggunakan alas kaki.


.


.


.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.β€πŸ§‘πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œπŸ€ŽπŸ–€πŸ€