
Suara sentakan sepatu hak tingginya Kim terdengar sangat jelas saat dia berjalan meninggalkan ruangan Bosnya. Kim berhenti di depan lift, menunggu pintu lift terbuka untuknya. Saat melihat jam, menunjukkan pukul 8 malam. Kim sudah terlambat untuk bekerja, menunggu lift yang tak kunjung terbuka Kim memutuskan turun menggunakan tangan darurat, tetapi saat Kim melangkahkan kakinya pintu lift terbuka tanpa dia sadari.
Tiba-tiba ada yang menarik Kim masuk ke dalam lift. Kim yang tertarik membuat tubuhnya seperti terhempas dan kehilangan keseimbangan, sehingga tersandar di dinding dalam lift.
“Kamu mau ke mana? Terburu-buru seperti itu?” terdengar suara yang tidak asing bagi Kim.
Mata Kim yang awalnya tertutup, perlahan matanya terbuka. Seorang pria yang bertubuh kekar berpakaian rapi menggunakan jas hitam yang berdiri tegap seraya memegangi tangannya, Kim menyadari jika pria yang berdiri tegap itu adalah Bosnya.
“Tuan.” kata Kim yang mencoba melepaskan pegangan Bosnya itu darinya.
Ken melepaskannya dengan berkata “Kamu mau ke mana?” tanya Ken yang masih berdiri di hadapan Kim.
“Tidak ke mana-mana Tuan, ada pekerjaan yang harus aku lakukan sekarang.” jawab Kim yang bertepatan pintu lift terbuka.
Melihat Pintu lift yang terbuka, Kim melangkahkan kakinya untuk keluar dari lift tetapi Bosnya itu menghalanginya dengan berjalan mundur dengan melentangkan kedua tangannya seakan tidak mengizinkan Kim untuk keluar dari lift tersebut.
“Tuan bisa menyingkir sebentar? Aku ingin keluar.” Kata Kim pada Bosnya itu.
Ken yang tidak pedulikan omongan asistennya itu semakin melebarkan kedua tangannya di pintu lift, sehingga Kim mencoba menerobos keluar lift dengan menundukkan badanya melewati kedua tangan Bosnya itu. Saat Kim berhasil keluar secepat kilat kedua tangan yang kekar melingkar di perutnya, sehingga tubuhnya Kim terangkat ke atas dan masuk kembali ke dalam Lift.
Kaki yang tergantung dengan kedua tangan yang kekar masih melingkari pinggangnya, Kim merasa tidak nyaman karena bosnya itu sedang mengangkat seraya memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya secara kuat. Kim meminta Bosnya untuk menurunkan dan melepaskan dirinya, tetapi Bosnya menolak untuk melepaskannya dengan berkata “Nona Kim tidak boleh pergi ke mana-mana terutama pergi ke klub malam itu.” Kata Ken yang masih mengangkat dan memeluk tubuhnya Kim dengan kedua tangannya.
“Baiklah, tetapi lepaskan aku terlebih dahulu.” Pinta Kim pada Bosnya itu.
Tanpa ragu Ken melepaskannya, dan ternyata Kim mencoba untuk kabur tetapi kalah cepat dengan pintu lift yang sudah tertutup, yang berjalan naik ke atas kembali.
“Kamu tidak bisa kabur sekarang” ujar Ken seraya melangkah mendekati Kim yang berada di sisi pintu lift yang tertutup.
Kim yang merasa takut dengan sikap Bosnya itu, dia berjalan mundur tetapi dia tidak bisa karena posisinya sudah berada di sisi yang paling menempel di pintu lift. Ken semakin mendekati Kim yang terpojok tidak bisa pergi ke mana-mana.
“Tuan mau apa? Tidak bisakah Tuan jangan bersikap seperti__”
Belum sempat Kim menyelesaikan pembicaraannya, Bosnya itu dengan cepat menempelkan bibirnya dengan kasar di bibirnya Kim, sehingga bibir Kim yang awalnya sedikit kering menjadi lembat karena ******* yang di lakukan Bosnya itu pada bibirnya.
Kim mencoba menghentikan ciuman yang dilakukan Bosnya itu padanya, tetapi dia tidak bisa karena kedua tangannya di pegangi dengan kuat yang di letakkan di atas kepalanya yang terkandas di pintu lift. Semakin Kim mencoba menghindari kecupan bibir yang di lakukan Bosnya padanya, semakin kasar ******* yang di paksakan Ken pada asistennya itu.
Kim mulai merenggek karena sikap kasar yang tiba-tiba di terimanya dari Bosnya itu, membuatnya semakin takut. Kim mulai menangis saat Bosnya itu sedang sibuk memaksakan ciumannya padanya.
Menyadari jika asistennya itu menangis karena ketakutan, Ken mencoba menenangkannya “It is okay, it is okay.” Kata Ken seraya kedua telapak tangannya berada di kedua sisi pipinya Kim.
Kim yang sadar jika Bosnya itu menyadari kalau dirinya sedang ketakutan dengan sikapnya, dia semakin menangis kencang di dalam lift sehingga suara tangis Kim bergema di dalam lift tersebut.
Ken yang tidak bisa berkata-kata lagi untuk membuat wanita yang ada di depannya itu tidak menangis lagi dia mengecup bibir asistennya itu dengan lembut dan berkata “I said it’s fine” kata Ken seraya menghapus air mata Kim dengan lembut menggunakan telunjuk jarinya.
Kemudian Kim berhenti menangis setelah Menerima sikap lembutnya Ken terhadapnya. Kim mendorong tubuhnya Ken menjauh darinya dengan kedua tangannya, karena dia butuh ruang untuk bernapas.
“Apakah aku adalah pria yang pertama menciummu, Nona Kim?” tanya Ken pada Kim yang pipinya mulai merah merona.
Kim tidak berkata apa pun secara mendadak pintu lift terbuka begitu saja, sehingga Kim hendak terjatuh keluar dari dalam lift, tetapi Ken yang menyadari itu dengan sigap menangkap tubuh asistennya itu sehingga berada dalam dekapannya.
“Kenapa Tuan lakukan itu?” tanya Kim dengan tiba-tiba di dalam dekapan Ken.
“Lakukan apa maksudmu?” tanya Ken kembali yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa setelah secara paksa mencium Kim.
Bibir Ken keluh saat di tanya Kim seperti itu. Ken tidak tahu kenapa dia melakukannya, tetapi dia tahu betul jika dia tidak bisa menahan diri ketika berada di dekat Kim. Dia mengakui jika dirinya menyukai sikap Kim yang terkesan cuek padanya.
“Maaf Nona Kim, aku tidak bisa menjawabnya, mari aku antar Nona Kim pulang ke rumah.” kata Ken melepaskan Kim dari dekapannya dan menarik Kim seraya berjalan keluar dari Lift setelah pintu lift terbuka.
“Tapi Tuan, aku harus bekerja sekarang.” kata Kim seraya berjalan cepat karena di tarik oleh Bosnya itu.
Tiba-tiba Ken menghentikan langkah kakinya dan berkata “Ah...iya, aku baru ingat sekarang, kenapa aku menciummu tadi karena kamu tidak mau berhenti bekerja di klub malam tersebut, jadi jika kamu tidak ingin aku cium lagi kamu harus berhenti bekerja di sana sekarang.”
Kim yang mendengarnya membulatkan matanya saat melihat Bosnya itu berkata seperti itu padanya. “Tuan jangan seperti itu padaku, Tuan jangan ikut campur urusan kehidupan pribadiku, sedangkan Tuan bukan siapa-siapanya aku.” Kata Kim berdiam diri di hadapan Bosnya tersebut tanpa rasa takut sedikit pun.
“Kenapa tidak boleh? Aku adalah Bosmu, jadi aku berhak atas dirimu.” Kata Ken yang bersikap sebagai Tuan yang berlagak berhak penuh atas asistennya itu.
“Tapi maaf Tuan, aku tidak bisa menuruti keinginan Anda, jadi aku harap Tuan tidak lagi ikut campur urusanku lagi.” kata Kim seraya berjalan meninggalkan Bosnya itu sendirian dan pergi bekerja.
“Kamu tidak boleh pergi ke sana.” Ujar Ken yang menghentikan langkah kaki Kim.
Kim menoleh ke arah Bosnya itu, dengan memberikan sebuah senyuman sinis padanya. Kemudian Kim kembali melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Bosnya tersebut.
Setiap kali Ken diabaikan oleh asistennya itu, dia merasa kesal karena dia merasa Kim adalah miliknya yang tidak patuh akan keinginannya.
“Nona Kim berhenti di sana, jika tidak kamu akan menyesalinya.” Ujar Ken dengan keras seraya berjalan ke arah Kim.
Kim terus berjalan tanpa menghiraukan omongan Bosnya itu. Dengan sangat marah Ken mengejar asistennya itu, saat dia menangkapnya Ken langsung mengangkat tubuh Kim, seperti bripda style hingga ke dalam mobil.
“Tuan apa yang Anda lakukan.”
Ken tidak menjawabnya, kemudian dia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga Kim berhenti berbicara.
Apa yang di pikirkan Ken tidak bisa di tebak oleh Kim, karena Ken selalu bersikap yang tidak bisa di duga olehnya. Sesaat dia bersikap dingin, tetapi di sisi lain dia melakukan apa pun yang bisa membuat Kim tidak bisa lepas darinya, termasuk apa yang dia lakukan sekarang.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍