
Waktu yang paling menyenangkan bagi Kim adalah di saat-saat keluar dari Rumah sakit. Hari ini Kim di perbolehkan untuk pulang karena kondisinya membaik, tetapi dengan satu syarat dia tidak boleh melakukan kegiatan yang bisa membuat kondisi jantungnya memburuk atau bisa di bilang kambuh lagi. jika tidak dia akan selamanya tinggal di Rumah Sakit yang sangat membosankan.
“Kim besok jangan lupa jam empat sore di restoran biasa,” kata Andrew yang menghentikan langkah kaki Kim yang hendak keluar dari mobil.
“Memang ada apa?” seru Kim yang kembali duduk dan menutup pintu mobil.
“Aku ingin mengenalkan seseorang padamu, jadi jangan telat ya karena orang yang ingin aku kenalkan padamu tipe orang perfeksionis yang tidak menyukai keterlambatan” jawab Andrew.
“Oke baiklah, aku tidak akan telat.” Kata Kim yang membuka pintu mobil untuk keluar. “Bye...” ucap Kim yang menutup pintu mobil kembali seraya tersenyum.
Andrew hanya ikut tersenyum kemudian menjalankan mobilnya setelah Kim hilang dari pandangannya.
Setelah Andrew menghilang, Kim memutar balik arah tujuannya. Dia pergi menggunakan taxi untuk pergi ke suatu tempat.
🌺🌺🌺
Saat Kim turun dari taxi tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas cepat di hadapannya. Hampir sedikit lagi Kim tertabrak mobil tersebut dan mobil tersebut berhenti dari beberapa meter dari posisinya.
Kedua bola mata Kim tertuju pada mobil hitam tersebut, entah mengapa perasaan Kim sangat gelisah dan jantungnya terasa berdebar saat melihat orang yang keluar dari mobil tersebut. Seorang pria yang sangat tidak asing bagi Kim. Kenley Ellieston berjalan menuju ke arahnya.
Sebelum Ken menyadarinya dengan cepat Kim membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat meninggal tempat tersebut sebelum Ken menyadari kehadiran dirinya.
“Nona tunggu sebentar,” teriak Julian seraya mengejar Kim.
Sedangkan Ken ikut menghampiri Julian yang berada beberapa meter darinya dan menatap wanita yang berlari tersebut dari belakang. Wanita itu seperti orang yang di kenalnya tetapi Ken tidak yakin karena wanita itu terlalu kurus dari wanita yang dia kenal.
“Tuan ada apa?” seru Julian pada Ken yang masih menatap wanita yang pergi tersebut.
Seketika Ken sadar dari lamunan. “Tidak ada, aku hanya mengira wanita itu mirip seseorang yang aku kenal.” Kata Ken yang menatap kembali ke arah wanita yang sudah tidak ada lagi di pandangannya.
“Tuan apakah kita kembali saja ke Hotel?” seru Julian yang menghadap Bosnya itu.
”Ya, kita kembali saja ke Hotel, besok jadwal terlalu sibuk untuk bersenang-senang sekarang dan lebih baik kita beristirahat saja di Hotel.” Ken kembali masuk ke dalam Mobilnya seraya menoleh ke belakang sebentar karena masih penasaran dengan wanita tersebut.
Setelah mobil Ken melaju pergi, Kim keluar dari persembunyiannya dan berjalan secara perlahan menatap mobil Ken yang melaju menjauh darinya.
“Sepertinya kau sudah melupakan aku dengan baik, aku harap kau selalu sehat dan seterusnya hiduplah seperti itu, lupakan saja aku jangan sampai kau menyimpan kenangan tentang diriku lagi. I Love You.” Kim membalik tubuhnya dengan mata yang memerah seketika angin bertembung ke arahnya sehingga mata Kim mengeluarkan air mata.
❄❄❄
Berbaring di tempat tidur adalah satu-satunya aktivitas Kim yang bisa dia lakukan sekarang. setelah seharian Kim tidak pernah lepas dari rasa sakit yang terus-terusan menyerangnya, seketika rasa sakit itu menghilang dengan cepat tanpa harus tidak sadarkan diri. Kali ini rasa sakit itu sepertinya di sebabkan oleh rasa gelisah yang di rasakan Kim saat bertemu dengan Pria yang sangat dia rindukan selama ini.
Drttt...Drttt...Drttt.
Andrew:
Jangan lupa beristirahat, jangan melakukan hal yang membuat kondisimu memburuk dan juga jangan lupa besok jangan telat jam empat sore di restoran biasa.
Kimberli:
Kim meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian berbaring kembali seraya menatap langit-langit kamarnya dengan berpikir apa yang terjadi tadi siang. Wajah pria itu selalu terbayang di benaknya Kim sehingga dia tidak bisa tidur dengan mudah, saat Kim mengerakkan tangannya ke atas langit-langit tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit dan terasa panas di seluruh bagian dadanya, secara perlahan Kim menekan-nekan dada bagian kirinya seraya memiringkan posisi badan.
Rasa sakit yang dirasakan Kim terasa sangat luar biasa sehingga seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dengan mata yang memerah karena menahan rasa sakit. Obat yang sebelumnya di minum olehnya tidak berpengaruh lagi pada penyakitnya padahal dosis yang di komsumsi Kim dua kali lipat dari yang di anjurkan oleh Andrew
Mungkin butuh beberapa lagi untuk menghilangkan rasa sakitnya. Pikir Kim. dengan perlahan Kim meraih obat-obatan yang terletak di atas nakas, setelah beberapa obat sudah berada di dalam mulutnya, Kim meraih segelas air dan meminumnya. Saat meletakkan gelas tersebut rasa sakit yang di rasakan Kim mengejutkannya sehingga gelas yang berada di tangannya terlepas dan jatuh di atas lantai, setelah beberapa detik kemudian listrik mati sehingga seluruh ruangan menjadi gelap.
“Aunty,” panggil Kim dengan suara yang lemah. “Aunty,” Kim kembali memanggil tetapi tidak ada jawaban dari Aunty-Nya.
Kim mencoba beranjak berdiri dari tempat tidurnya. “Aaaahh” teriak Kim kesakitan saat melangkahkan kaki Kim menginjak pecahan kaca gelas yang barusan jatuh di lantai.
Dada Kim terasa sesak tetapi dia berusaha untuk keluar dari kamarnya. Kim berjalan secara perlahan seraya meraba di dalam kegelapan, hingga pada akhirnya dia menemukan pintu keluar dari kamarnya.
“Aunty,” panggil Kim seraya menekan-nekan dadanya yang sakit. Kim terus berjalan dengan mengeret salah satu kakinya yang terluka karena pecahan kaca gelas yang dia injak.
Tidak sanggup lagi untuk berjalan Kim memilih menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dan mengingat jika hari ini adalah hari di mana Aunty-Nya selalu tidak pulang karena pekerjaannya. Kim menarik nafas panjangnya dan menghembuskannya kembali secara berulang kali untuk menetralisir rasa sakit yang dia rasakan.
Rasa sakit yang tak kunjung menghilang, membuat mata Kim lelah dan ingin tertidur sekarang juga. Sedikit demi sedikit mata Kim mulai tertutup, tetapi dia menahannya karena pada saat ini dia tidak boleh tertidur. Seberapa besar usahanya untuk tidak tertidur tetapi tubuhnya berkata lain, dalam sekejap mata Kim menutup dengan posisi duduk di lantai.
🌺🌺🌺
Lantunan musik klasik terdengar jelas di telinga Kim, dia tahu jika musik klasik ini menandakan jika Aunty-Nya sudah kembali. Saat terbangun Kim sudah berada di tempat tidurnya dan kakinya sudah di perban dengan rapi.
“Kau sudah bangun.” Seru Aunty-Nya Kim yang membuka pintu kamar.
Kim menatap Aunty-Nya dengan tatapan mata yang bersyukur, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika tidak ada Aunty-Nya.
“Jangan menatapku seperti itu dan juga jangan ucapkan kata-kata yang ada di pikiranmu.” Kata Aunty-Nya Kim.
“Kenapa begitu?” ucap Kim menggoda Aunty-Nya.
“Karena aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan,”
“Kata siapa aku ingin mengatakan sesuatu pada Aunty?” seru Kim dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
“Oh ya, syukur jika memang benar begitu.” Kemudian Aunty-Nya Kim pergi keluar dari kamarnya. “Ah... pesan dari Andrew, katanya satu jam lagi kamu jangan sampai telat.”
Seketika Kim langsung berdiri masuk ke dalam kamar mandi karena sudah jam tiga sore. Hanya tersisa satu jam lagi bagi Kim untuk bersiap-siap, jika tidak dia akan telan karena saat-saat ini adalah jam pulang kantor dan kemungkinan besar jalanan akan macet.
.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍