
Kim merasa di wajahnya seperti ada seseorang yang bernapas berat karena merasa sangat terganggu Kim membuka matanya. Saat mata Kim terbuka dia melihat wajah Ken yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Kau sudah bangun?" seru Ken yang wajahnya tepat di mata Kim.
Mata Kim terbelalak dan berkedip beberapa kali karena dia mengira ini hanya halusinasi, tetapi Kim merasa aneh kenapa halusinasinya bisa bernapas dengan begitu nyata. Apakah ini efek dari obat. Batin Kim seraya menyentuh wajah Ken.
Saat menyentuh wajah itu Kim merasa aneh kenapa terasa sangat nyata saat dia sentuh. Secara perlahan halusinasinya menyentuh balik tangannya dengan berkata. "Apakah kau ingin aku peluk?" serunya.
Seketika Kim terkejut dan berteriak karena Ken bukanlah halusinasinya melainkan nyata. "Aaahh..." teriak Kim yang memenuhi telinga Ken. "Kamu kenapa bisa ada di sini?" seru Kim yang beranjak duduk dari tidurnya.
Ken menggosok-gosok kedua daun telinganya karena suara teriakan Kim terasa nyaring di telinganya. "Suaramu sangat nyaring sekali di telingaku," ucap Ken.
"Kau kenapa bisa ada di sini?" seru Kim kembali yang menunjuk ke arah Ken.
Ken berjalan mendekat dan berkata. "Apakah kau tidak lihat kalau aku juga pasien di sini." Ken menunjukkan kepalanya yang di perban.
"Kenapa kau bisa terluka?" seru Kim seraya menghampiri Ken dengan memeriksa kepalanya.
Ken hanya tersenyum karena wanita ini tidak sadar jika dirinya terlihat sekali peduli padanya. "Apakah kau mengkhawatirkan aku?" seru Ken yang berhasil membuat Kim sadar apa yang dia lakukan sekarang.
Dengan gugup Kim mundur dari Ken. "Aku tidak Khawatir," Kim beralasan.
"Benarkah?" goda Ken dengan wajah seriusnya.
Sedangkan Kim memasang wajah tanpa ekspresi tetapi serius. Ken yang awalnya ingin menggodanya, terasa sangat canggung karena Respons Kim yang datar.
"Bisakah Kau menjauh dariku?" seru Kim datar.
Ken mundur beberapa langkah tetapi dia tidak ingin menjauh, sedangkan Kim terus menatapnya sinis meminta Ken lebih menjauh lagi darinya.
"Baiklah aku akan kembali ke tempat tidurku," ujar Ken yang pergi ke tempat tidur di sampingnya Kim dan berbaring di sana.
"Kenapa kau berbaring di sana?" seru Kim.
"Tentu saja ini adalah tempat tidurku," Ken berbaring dengan nyaman.
"Jangan bilang Kau satu bangsal denganku." Kim berharap apa yang dia pikirkan tidak benar.
"Tepat sekali, mulai sekarang kau dan aku adalah Roomates." Ucap Ken yang tersenyum lebar pada Kim.
Kim membisu seketika dan jantungnya mulai berdebar-debar tak karuan. Kim mulai berbaring di tempat tidurnya, yang dia rasakan saat ini membuat Kim tak bisa mengontrol dirinya oleh sebab itu Kim ingin bersembunyi di balik selimutnya untuk menutupi rasa gugupnya. Bagaimana ini, aku sangat gugup sekali saat ini. Batin Kim.
βββ
Bersembunyi di balik selimut membuat Kim tertidur sangat nyenyak sekali. Saking nyenyaknya Kim merasa dia sedang di peluk, terasa sangat hangat dan nyaman. Bau wangi yang tercium di hidung Kim membuatnya betah dan semakin erat memeluk sesuatu yang di peluk. Merasa jika yang dia peluk juga memeluknya dengan erat, Kim membuka matanya secara perlahan dan yang pertama kali Kim lihat sebuah dada bidang dengan lengan kekar melingkari pinggangnya.
Kemudian Kim mendongkak ke atas kepalanya dan yang di lihat Kim adalah Ken. Dia tidur satu ranjang dengannya. Kim melirik jam yang menunjukkan pukul 2 malam. Sejak kapan dia tidur di ranjangku. Batin Kim.
Perlahan-lahan Kim mengambil satu persatu tangan Ken dari pinggangnya dengan menahan napas Kim berusaha agar tidak membangunkan Ken, tetapi usahanya sia-sia karena Ken kembali memeluk Kim dalam dekapannya.
"Pindah ke ranjang sebelas," saut Kim dengan pelan.
"Tidur di sini saja bersamaku." Ken semakin mengeratkan pelukannya sehingga wajah Kim tertutup dengan dada bidangnya.
"Kenapa aku harus tidur satu ranjang denganmu, sedangkan ranjang sebelah kosong." Ucap Kim berusaha melonggarkan pelukan Ken.
"Aku tidak akan membiarkanmu pindah ke ranjang sebelah," ujar Ken yang kembali mengeratkan pelukannya pada Kim.
Merasa kesal Kim membuka mulutnya dan menggigit bahu Ken dengan kuat sehingga Ken berteriak dan melepaskan pelukannya. "Apa yang kau lakukan?" seru Ken yang beranjak duduk dari tidurnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya saja aku melindungi diriku dari bahaya" Jawab Kim seraya menunjuk wajah Ken.
"Apa maksudmu berkata seperti itu padaku?" tanya Ken yang tak terima.
"Terserah apa yang kau katakan, aku tidak peduli." Ucap Kim yang menendang Ken hingga jatuh dari ranjang. "Pergi sana," ucap Kim kembali pada Ken yang terduduk di atas lantai.
"Baiklah kita lihat saja nanti," ujar Ken mengancam.
"Nanti apa?" seru Kim yang menenteng.
"Jika nanti kau sudah terlelap tertidur aku akan kembali naik ke atas ranjangmu dan kali ini aku tidak hanya tidur dengan memelukmu tetapi aku akan membuatmu dan melakukan sesuatu yang lebih." ucap Ken yang memperlihatkan tatapan mesumnya pada Kim.
Kim yang mendengar dan melihat tatap mesum yang di perlihatkan Ken padanya berhasil membuat Kim merinding dan berusaha mati-matian agar tidak tertidur. Sedangkan Ken tertidur pulas di ranjangnya tanpa mengkhawatirkan apa pun.
"Bisa-bisanya dia tertidur pulas setelah mengacamku." Ucap Kim pelan seraya menatap Ken yang sedang tertidur.
30 menit kemudian. Kim menyerah dan lebih memilih tidur, merasa dirinya sudah aman dari Ken yang sudah tertidur dan tak sadarkan diri. Setelah Kim tertidur Ken membuka matanya dan beranjak duduk dari tidurnya secara perlahan.
"Sangat mudah untuk menipumu," ucap Ken pelan seraya tersenyum menang.
Ken menunggu sampai Kim tertidur lelap dan tak sadarkan diri seperti yang dia lakukan sebelumnya, hingga dia berhasil naik ke atas ranjangnya Kim kembali. Setelah berhasil naik di tempat tidurnya Kim, Ken mencoba untuk memeluk Kim dari belakang tetapi saat hendak memeluk Ken menyadari jika tubuh Kim mengeras dan berkering.
Ken membalikkan tubuh Kim menghadapnya. Ternyata Kim tidak tertidur melainkan dia berusaha menahan sakit dalam diam. "Kim apakah kau baik-baik saja?" seru Ken yang mengusap keringat di wajahnya Kim.
"Obat," ucap Kim singkat seraya menahan sakit di dadanya.
Mendengar Kim meminta obatnya dengan cepat Ken beranjak mengambil botol obat di atas nakas. Kedua tangan Ken bergetar saat hendak membuka tutup botol obat untuk di berikan pada Kim. Setelah berhasil memberikan obat pada Kim, Ken membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh kim dalam dekapannya. Kim terus merintih kesakitan dan Ken tidak berani menatap wajah Kim karena dia takut jika dirinya tidak bisa menahan air matanya. Tidak ada hal yang dapat Ken lakukan selain bersenandung seraya mengelus-elus punggungnya Kim dengan lembut hingga rasa sakit yang di rasakan Kim menghilang.
.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.β€π§‘πππππ€π€π€