Protect My Heart

Protect My Heart
Part 41



“Apakah tidak ada orang di apartemenmu?” Tanya Ken saat mereka berada di depan pintu Apartemen.


“Tidak ada orang selain diriku.” Jawab Kim yang membuka pintu Apartemennya.


“Jadi ke mana yang lain?” tanya Ken kembali.


“Auntie sedang bekerja, mungkin besok lusa dia akan kembali.” Ucap Kim saat pintu apartemen terbuka. “Silakan masuk,” ajak Kim meminta Ken masuk ke apartemennya.


Perlahan Ken melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen. Dia melihat apartemen ini sangat sederhana sekali hanya ada dua kamar, ruangan tamu dan dapur yang kecil.


“Ken kemari,” pinta Kim pada Ken.


“Ada apa?” seru Ken yang menghampiri Kim di dalam kamarnya. Sedangkan Kim membuka pintu lemarinya untuk mengambil handuk.


“Kau gunakan kamar mandiku saja dan aku menggunakan kamar mandi Auntie.“ ucap Kim seraya memberikan handuk yang ada di tangannya kepada Ken. Kemudian dia membalik badannya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya.


“Kau mau pergi ke mana?” seru Ken yang menahan tangan Kim.


“Aku mau ke kamar mandi Auntie, kenapa?” seru balik Kim seraya menoleh ke arah Ken.


“Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah menggodaku dengan memperlihatkan lekuk tubuhmu,” ucap Ken dengan matanya yang memperhatikan tubuh Kim.


Perkataan Ken membuat Kim menyadari jika T-shirt putih yang dia gunakan transparan sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dan dalaman yang dia gunakan.


“Aku suka warna hitam, itu sangat menggodaku.” Goda Ken dengan mata yang terus menatap tubuh Kim yang berada di balik T-shirt putih.


“Apa yang kau lihat?” seru Kim yang berusaha menutupi tubuhnya yang terlihat dengan menggunakan kedua tangannya yang kecil itu.


Ken tersenyum karena wanita ini sangat bodoh sekali. “Percuma saja kau menutupi tubuhmu dengan menggunakan kedua tanganmu yang kecil itu.” Ucap Ken tersenyum.


“Kau jangan lihat tutup matamu sekarang,” ucap Kim dengan nada tegasnya.


Sedangkan Ken tidak mendengar apa yang di katakan Kim padanya. Dia terus melihatnya seraya berkata. “Aku tidak mau. Aku akan terus melihatnya sampai aku puas.”


“Are you kidding me?” Kim tidak habis pikir karena pria ini sangat keterlaluan, bagaimana bisa dia bilang seperti itu padanya.


Kim melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Ken sekarang juga tetapi apa daya Ken langsung menariknya masuk ke dalam kamar mandi kemudian menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya.


“Apa yang kau lakukan?” seru Kim yang terkejut karena tiba-tiba Ken menariknya ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu dengan begitu cepat.


“Kau mandi bersamaku saja,” ucap Ken seraya menarik pinggang Kim dalam tautannya.


“Apakah kau sudah tidak waras lagi? Mana mungkin aku mandi bersamamu.” Kata Kim yang menolak.


“Kau tidak bisa menolak.” Saut Ken yang yakin dengan apa yang dia katakan.


“Tentu saja aku bis__” kata-kata Kim terhentikan karena seketika Ken menabrakkan bibirnya dengan bibir Kim. Tidak ada penolakan dan Ken melanjutkan aksinya dengan melumatkan bibirnya dengan lembut di bibirnya Kim.


Perlahan Ken melangkah mendekati Kim, kedua tangannya meraih pinggang kecil Kim. “Apa boleh aku melakukannya?” bisik Ken di telinga Kim dengan lembut.


Wajah Kim memerah saat mendengar apa yang di bisikan Ken di telinganya. Dia mulai mengigil karena gugup setengah mati. Matanya terus menatap mata Ken karena pria ini sangat serius dengan apa yang dia katakan sekarang. Sesuai apa yang di inginkan hati dan tubuhnya Kim tidak bisa menolaknya dan dia langsung menganggukkan kepalanya memberikan izin pada Ken. Secepat kilat Ken langsung menyambar bibir Kim kembali setelah mendapat izin. Dia melangsungkan apa yang seharusnya dia lakukan dari sejak dulu.


🍁🍁🍁


Sudah lama aroma ini tidak tercium di hidung Ken. Terasa sangat lembut dan menenangkan saat tercium. Aroma ini dulu Ken sering menciumnya dan sekarang dia dapat menciumnya kembali setelah sekian lama. Semalaman Ken bekerja keras tetapi dia tidak merasa lelah sama sekali saking bahagia dirinya. Walaupun matanya terasa sangat berat Ken berusaha membuka kedua mata untuk melihat sosok wanita yang sangat dia cintai. Tetapi saat kedua matanya terbuka dia terkejut karena sosok wanita yang dia cari tidak ada di sampingnya.


Ken beranjak dari tidurnya dan dia hanya menggunakan celana dalam pendeknya saja untuk mencari sosok Kim. Di segala sudut kamar Ken tidak bisa menemukan sosok Kim. Kemudian dia keluar dari kamar dan mencari Kim di seluruh ruangan apartemen tetap saja dia tidak bisa menemukan sosok Kim.


Kemudian Ken kembali masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi tetapi dia juga tidak menemukan Kim. Cemas, khawatir akan terjadi apa-apa terhadap Kim, dengan cepat Ken mengenakan pakaiannya. Saat memakai T-shirt Ken menyadari ada seujung baju yang di kenakan Kim tadi malam terselip di dalam lemari pakaian. Dia mendekati lemari tersebut secara perlahan, terdengar suara aneh di dalam lemari tersebut. Semakin mendekat Ken semakin mendengar dengan jelas suara tersebut. Dia sangat yakin suara tersebut adalah suara dari Kim. Ketika pintu lemari terbuka Ken melihat Kim  berada di dalam lemari tersebut. Dia terkejut karena Kim dalam keadaan tak berdaya.


“Aku akan mengambilkan obatmu,” ujar Ken yang langsung membalikkan badannya.


“Tidak perlu,” ucap Kim yang menghentikan pergerakan Ken.


“Aku akan mengambilkannya.” Kata Ken yang mengabaikan perkataan Kim padanya.


“Aku bilang tidak perlu!” teriak Kim yang berputus asa karena pria ini tidak mendengarkan perkataannya.


Ken membalikkan badannya menghadap Kim kembali dengan berkata” Kenapa tidak perlu, kau sangat membutuhkan obat itu sekarang.” Kesal Ken.


“Obat-obatan itu sudah tidak berpengaruh lagi padaku. Walaupun aku meminumnya tidak akan membatuku untuk sembuh, yang ada aku semakin menderita karena setiap hari harus mengkonsumsi obat-obat itu.” Ucap Kim menangis seraya meremas dadanya dengan kuat.


Lutut Ken terasa lemas saat menerima kenyataan yang di katakan Kim padanya. Dia merasa jika wanita di hadapannya ini sudah mengibarkan bendera kuning terhadap penyakitnya. Semangat untuk hidup dalam dirinya sudah tidak terlihat di matanya.


“Dasar bodoh. Kalau sakit bilang padaku jangan menahannya sendirian dan bersembunyi seperti ini.” Ken ikut masuk ke dalam lemari dan langsung memeluk Kim. “Kau tahu aku sangat khawatir sekali saat kau menghilang tadi.” Sambung Ken seraya mengeratkan pelukannya.


“Ken aku sangat takut,” ucap Kim yang menangis di dalam pelukan Ken.


“Kau tidak perlu takut karena ada aku di sini bersamamu.” Kata Ken yang meremas kuat kedua tangannya karena dia juga merasakan apa yang di rasakan Kim.


“Aku takut jika tidak bisa melihatmu lagi. Aku harus bagaimana? Memikirkannya saja aku tidak bisa, bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa melihatmu lagi.” Tangis Kim pecah dan air matanya jatuh membasahi pundak Ken.


Ken tidak bisa menahan air matanya. Bagaimana jika yang di katakannya benar-benar terjadi. Jika memang terjadi aku tidak akan pernah siap dan tidak akan pernah bisa menerimanya. Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Batin Ken


.


.


.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍