Protect My Heart

Protect My Heart
Part 30



Mendiang Marvin Ellieston meninggalkan surat wasiat kepada Ken sebagai penerusnya. Di mama Ken harus mendonasikan sejumlah uang kepada orang penderita penyakit jantung setiap bulannya, lebih detailnya Ken harus membiayai pengobatan seseorang yang di cantumkan dalam surat wasiat tersebut.


Tanpa mengetahui siapa orang yang menerima donasi tersebut Ken meminta kepada Julian sekretaris sang ayah yang kini menjadi sekretarisnya untuk melaksanakan wasiat dari mendiang Marvin, seperti yang tertera dalam wasiat harus di lakukan dengan benar tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.


Sebagai penerus mendiang Marvin Ellieston Ken bekerja dua kali lipat dari yang sebelumnya. Ken melakukan perjalanan bisnis dari negara ke negara tanpa pulang ke negara sendiri. Di setiap negara yang di datangi olehnya, Ken selalu menyempatkan diri mengunjungi klub malam sebagai pelepas stres dari penat sibuknya bekerja yang di temani oleh Julian sekretarisnya.


“Tuan, seperti yang Anda perintahkan saya sudah memberikan mentransferkan uang untuk bulan ini.” Kata Julian.


“Sudah berjalan berapa bulan kita membiayai pengobatannya?” tanya Ken dengan santai seraya meminum bir.


“Ini sudah bulan ke tujuh, kenapa Tuan?” seru Julian.


“Tidak ada apa-apa, hanya saja ingin tahu apakah orang yang menerima bantuan ini akan baik-baik saja.” Kata Ken yang kembali menempelkan bibirnya di gelas birnya.


“Apakah Tuan ingin tahu siapa orangnya?” tanya Julian yang hendak mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


“Tidak perlu, cukup kamu kasih tahu saja perkembangan kesehatan orang tersebut setiap bulannya.” Kata Ken yang membuat Julian tidak jadi mengeluarkan ponselnya.


“Baiklah Tuan,” Julian kembali memasukkan ponselnya yang sudah terkeluar dari sakunya.


“Perjalanan selanjutnya ke mana?” tanya Ken.


“Prancis.” jawab Julian seraya melihat agenda dalam Ponselnya.


Mendengar kata ‘Prancis’ Ken membuat wajah datarnya sesaat berubah meredup, kenapa tidak Prancis adalah negara yang pernah dia kunjungi sebelumnya bersama dengan Kim tapi kali ini dia datang ke sana yaang di temani oleh Julian.


Tiba-tiba mood Ken berubah seketika, karena mengingat masa lalu yang susah paya dia lupakan selama tujuh bulan terakhir ini kembali memenuhi kepalanya. Masa lalu yang membuatnya kehilangan nafsu terhadap wanita mana pun setelah menerima surat perpisahan yang terbilang sangat singkat.


🌺🌺🌺


Tujuh bulan Kim menetap di Chicago. Setelah kematian Linsy, Kim tidak berniat untuk kembali ke New York. Hidup di Chicago terasa berbeda karena ada Aunty di sisinya Kim dan  membuatnya sedikit merasa memiliki keluarga tanpa harus hidup sendirian.


Dulu Kim juga pernah hidup dengan pria yang dia cintai, tapi sekarang tidak lagi karena semua itu adalah masa lalu yang hendak dia lupakan. Kenangan indah yang mengubah warna kelabu kehidupannya menjadi sangat cerah. Kini warna kelabu itu secara perlahan mulai kembali memenuhi dunianya.


Banyak hal yang telah terjadi setelah kematian Linsy, sehingga membuat kondisi jantung Kim semakin memburuk pada usianya yang terbilang muda. dalam satu hari lebih dari tiga kali Kim mendapat serangan jantung sehingga dia harus keluar masuk Rumah Sakit.


“Kim aku sudah pernah bilang sama kamu, jika kondisimu sudah tidak bisa lagi aktif beraktivitas, seharusnya kamu itu di rawat di Rumah Sakit bukanya berkeliaran di luar sana.” Ujar Dr. Andrew pada Kim yang terbaring lemah di tempat tidur pasien.


“Andrew, kamu sudah kenal aku semenjak usiaku lima belas tahun dan sekarang usiaku sudah dua puluh lima tahun.” Saut Kim yang terbaring.


“Terus kenapa?” seru Dr. Andrew yang berpura-pura tidak mengerti maksud dari perkataan Kim.


“Terus, kamu kan tahu jika aku tipe orang yang tidak bisa duduk diam di rumah saja, apa lagi harus menginap di Rumah Sakit dan juga kamu tahu jika aku tidak suka dengan Rumah Sakit.” Kata Kim yang membuat Dr. Andrew menghelakan nafas panjang.


“Aku sangat tahu itu, tapi kamu harus biasakan diri untuk menyukai Rumah Sakit karena mulai sekarang Rumah Sakit akan menjadi Rumahmu.” Ejek Dr. Andrew pada Kim.


“Semenjak kamu menjadi dokterku kamu sangat cerewet sekali.” Keluh Kim menunjukkan ketidak sukaannya pada Dr. Andrew.


“Sekarang aku adalah Doktermu dan bukan sahabat kecilmu Nona muda.” kata Dr. Andrew seraya mengelus lembut kepala Kim, Kemudian Dr. Andrew pergi meninggalkan Kim untuk melanjutkan tugasnya sebagai Dokter spesialis jantung.


“Kenapa baru bilang sekarang!!!” teriak Kim yang beranjak dari tempat tidurnya.


🌺🌺🌺


Grece duduk di hadapan Kim tanpa berbicara sedikit pun. Suasana ruangan terasa sangat sesak karena keduanya tidak ada yang mau berbicara, mereka tidak berani memandang mata satu sama lain, kepala mereka hanya menunduk ke bawah.


“Apakah kamu masih marah padaku?” seru Grece memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


“Aku tidak pernah marah padamu.” Jawab Kim yang pelan.


“Terus kenapa kamu tidak mau berbicara denganku selama ini?” tanya Grece kembali dengan berani menatap Kim.


“Aku butuh waktu untuk sendiri.” Lirih Kim dengan mata yang memerah.


“Apakah itu alasan Kau Pergi tanpa memberitahuku?” Grece terus bertanya tanpa ada jeda untuk memberi waktu bagi Kim untuk berpikir.


“Em...” angguk Kim seraya menggoyangkan kepalanya ke atas dan ke bawah.


“Aku kira kamu pergi karena marah padaku.” lirih Grece meneteskan air matanya. “Kim tolong maafkan aku.” Sambung Grece yang menangis.


“Kamu kenapa menangis? Tolong jangan menangis aku tidak marah padamu Grece, aku marah pada diriku sendiri, oleh karena itu tolong jangan menangis aku merasa sangat bersalah jika kamu begini.” Kim ikut menangis dan memeluk Grece seraya menggosok lembut punggung Grece.


“Maafkan aku Kim, aku tidak ingin kau terluka oleh sebab itu aku berbohong padamu.” Grece terus menangis di dalam pelukan Kim.


Kim bungkam dan hanya tangislah yang mewakili perasaannya saat ini. Sesungguhnya Kim tidak marah pada Grece tetapi dia justru malu padanya Karena saat itu sudah jelas jika dirinya hanya orang yang tidak berguna sama sekali, sedangkan Ken juga menganggap dirinya hanyalah tetesan hujan yang tidak penting menghalangi perjalanannya.


🌺🌺🌺


Prancis.


Pesawat Ken mendarat di Prancis satu jam yang lalu, saat tiba dia langsung bertemu dengan Kolega bisnisnya. Bisnis kali ini berhubungan dengan pembangunan hotel mewah yang sebelumnya pernah di urusnya bersama Kim, kini adalah pelaksanaan pembangunan.


Setelah selesai Ken langsung memesan kamar hotel yang sama saat bersama Kim sebelumnya. Padahal kamar itu ada orang yang menepatinya, Ken menawarkan biaya tiga kali lipat dari harga kamar per malamnya ke pihak hotel, sehingga tawaran tersebut langsung di terima oleh pihak hotel dengan mudah.


“Tuan kenapa harus bayar mahal untuk kamar hotel ini, sedangkan masih banyak kamar hotel yang kosong?” seru Julian yang bingung kenapa harus kamar ini.


Ken tidak menggubris pertanyaan dari Julian, dia hanya mengabaikannya dan masuk ke dalam kamarnya. Saat menutup pintu kamarnya Ken langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang sama saat Kim tertidur saat sibuk bekerja.


Ken menutup matanya dengan menggunakan tangan kirinya seraya berkata. “Aku yakin kita pasti akan bertemu kembali, jika waktunya tiba aku akan menyelesaikan urusan kita yang belum sepat kita selesaikan.” Kata Ken yang sedikit emosional.


.


.


.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍