Protect My Heart

Protect My Heart
Extra Part 1



Pernikahan Ken dan Kim berlangsung sederhana di sebuah gereja bernuansa putih yang di lengkapi dengan mawar putih di setip sudut. Dan tidak lupa red karpet yang terbentang dari pintu hingga ke altar, di sana lah Ken berdiri dengan mengenakan kemeja hitam berdasi kupu-kupu serta sarung tangan putih membalut tangan besarnya.


Berbeda halnya dengan Kim yang sangat cantik berbalut gaun putih yang panjang dan simpel, serta rambut bergelombangnya yang di biarkan terurai dengan di hiasi bandu bunga-bunga dan jaring putih menutupi wajahnya. Yang paling membuat Kim terlihat sangat berbeda adalah bagian perutnya yang sudah terlihat membuncit. Benar sekali kandungan Kim saat ini sudah menginjak empat bulan.


Dengan tersenyum Kim memasuki gereja yang di damping oleh Andrew sahabatnya. Perlahan mereka masuk menginjak red karpet yang terbentang hingga ke altar, dan di sana Ken sudah menunggu kedatangan Kim. Setelah tiba di altar Andrew menyerahkan tangan Kim kepada Ken.


“Aku serahkan Kim kepada mu Bro,” bisik Andrew pelan di sisi telinga Ken.


Ken hanya bisa tersenyum saat mendengar bisikan Andrew sahabatnya itu. Dengan lembut Ken memegang tangan Kim kemudian menghadap ke pendeta yang akan segera menikahkan mereka. Sebelum mereka menikah Ken da Kim saling menatap dan tersenyum satu sama lain dan kemudian menghadap kembali ke hadapan pendeta. Lalu pendata tersebut memulai ritual pernikahannya.


“Please reaper after me.”


“I, Kenley Ellieston. Take you, Kimberly Clark. To be my wife, to have and take care of each other, from now to forever; in times of adversity and joy, in times of health and illness, to love and respect one another, until death do us part, according to god’s holy law, and this is my sincere promise of faith.” Ucap Ken sembari menatap lembut Kim yang berdiri di sampingnya.


“I, Kimberly Clark. Take you, Kenley Ellieston. To be my husband, to have and take care of each other, from now to forever; in times of adversity and joy, in times of health and illness, to love and respect one another, until death do us part, according to god’s holy law, and this is my sincere promise of faith.” Ucap kim dan Ken tersenyum.


“Do you Kenley Ellieston, take Kimberly Clark to be your lawfully wedded wife?”


“Yes, I do.” Ucap Ken.


“Do you Kimberly Clark, take Kenley Ellieston to be your lawfully wedded husband?”


“Yes, I do.” Ucap Kim.


“Now I say you as husband and wife, you can now kiss your bride.”


Dengan lembut dan berhati-hati Ken menarik Kim mendekatnya lalu menciumnya. Setelah puas mencium Kim, kini Ken berjongkok di hadapan perut buncit Kim. Ken tersenyum dan kemudian dia mencium perut buncit Kim dengan berkata. “Sekarang Daddy dan Mami sudah sah menjadi suami istri, dan kini tinggal giliran mu lahir kedunia ini.” Ken kembali mencium perut Kim dengan lembut. “I love you little boy.” Bisik Ken pada bayi yang ada di dalam perut buncit Kim.


Setelah itu Ken berdiri kembali dan kemudian dia mengendong Kim turun dari altar dan melangkah keluar meninggalkan Gereja. Sedangkan Kim hanya bisa tertawa bahagia saat Ken mengendongnya ke luar dari gereja.


***


Setelah tiga bulan menikah, dan kini usia kandungan Kim menginjak tujuh bulan. Ken mulai khawatir dan gelisah karena keadaan kondisi Kim mulai memburuk. Selama tiga bulan ini Kim sering sekali keluar masuk rumah sakit karena jantungnya memburuk. Ternyata jantung Kim terlalu lemah untuk mengandung saat ini.


“Andrew bagaimana dengan keadaan Kim?” tanya Ken yang baru saja sampai di rumah sakit. Saat Kim mengalami serangan jantung Ken tengah berada di kantor, oleh karena itu dia sangat panik sekali saat mendengar Kim di larikan ke rumah sakit.


“Duduk lah dulu, dan minum ini.” Ucap Andrew sembari memberikan Ken air minum.


Setelah Ken duduk dan meminum air yang di berikan Andrew padanya kemudian Ken merasa sedikit lebih tenang. “Bagaimana dengan keadaan Kim?” tanya Ken kembali.


Andrew menghelakan nafas pelan, seakan reaksinya menujukan jika keadaan Kim tidak baik-baik saja. Ken yang melihatnya langsung meremas kedua tangannya menunggu jawaban dari sahabatnya itu.


“Kondisi Kim memburuk, jantungnya tidak bisa bekerja dengan baik.” Ucap Andrew dengan menyesal. “Ke depannya kita harus extra hati-hati dan siap siaga.” Tambah Andrew.


“Apa maksudmu? Apa yang akan terjadi pada Kim ke depannya?” tanya Ken yang mulai khawatir dan panik.


“Ke depanya keadaan Kim mungkin akan semakin memburuk, selama kehamilan, akan terjadi peningkatan denyut jantung pada Kim dan semakin lama jantung akan mengalami kelelahan. Yang pada akhirnya pengiriman oksigen dan zat makanan dari ibu ke janin melalui ari-ari menjadi terganggu dan jumlah oksigen yang di terima janin semakin lama akan berkurang. Janin mengalami gangguan pertumbuhan serta kekurangan oksigen. Sebagai akibat lanjut Kim berpotensi mengalami keguguran dan kelahiran prematur. Terutama bila selama kehamilan Kim tidak dapat penanganan pemeriksaan kehamilan dan pengobatan yang tepat.” Jelas Andrew pada Ken.


Apa yang di katakan Andrew semakin membuat Ken mengepal kuat kedua tangannya. “Apakah ada cara untuk membuat Kim dan bayi yang ada di dalam kandungannya bertahan sampai Kim melahirkan?” tanya Ken yang semakin panik.


“Karena usia kandungan yang semakin menua membuat jantung Kim bekerja dua kali lipat dari biasanya dan akan berakibat fatal bagi bayi yang ada di dalam kandungan Kim. Oleh karena itu Kim harus terus berada dalam pengawasan dokter spesial janin dan jantung setiap harinya. Demi keselamatan janin dan mencegah tingkat kematian sang ibu kita harus melakukan pengawasan secara rutin dan ketat.” Jawab Andrew dengan jujur. “Ke depannya Kim akan sering mengalami serangan jantung seperti hari ini dan hari sebelum-belumnya.” Lanjut Andrew.


“Baiklah, aku mengerti. Aku serahkan semuanya padamu Andrew.” Ucap Ken, kemudian Ken pergi dari ruangan Andrew.


Saat ini Ken seperti berjalan di atas lautan es yang sangat tipis, satu langkah saja akan berakibat fatal dan taruhannya adalah nyawa. Ken tidak bisa kehilangan salah satu dari Kim dan calon anaknya nanti. Dengan langkah tertatih Ken masuk ke dalam ruangan di mana Kim di rawat.


Saat membuka pintu Ken langsung di sambut Kim dengan senyuman manis. Melihat Kim yang tersenyum membuat Ken sedikit lebih bersemangat.


“Kemarilah, biarkan aku tunjukan sesuatu padamu.” Ucap Kim pada Ken.


“Ada apa?” tanya Ken yang melangkah mendekati Kim di sedang berbaring di atas tempat Tidur.


Perlahan Ken duduk di atas kasur tersebut. “Apa yang ingin kau tunjukan padaku?” tanya Ken dengan lembut.


“Kemarilah, kau dekatkan kepalamu di atas perutku.” Pinta Kim.


Ken tersenyum. “Baiklah,” ucapnya menuruti apa yang di pinta istrinya itu. perlahan Ken menempelkan sisi wajahnya ke perut buncit Kim.


“Coba kau rasakan,” ucap Kim. “Sejak dari tadi dia terus bergerak seperti ini.” tambah Kim dengan tersenyum bahagia.


“Waw…” seru Ken takjub saat sisi wajahnya terkena tendangan bayi yang ada di dalam perut buncit Kim.


“Apakah kau merasakannya?” tanya Kim antusias sekali.


“Ya, aku merasakannya. Dia sangat aktif sekali di dalam sana.” Jawab Ken dengan tersenyum pada Kim. Sekilas Ken kembali menempelkan wajahnya di perut buncit Kim dengan berkata. “Hi jagoan ku,” tanpa aba-aba Ken kembali mendapat respons dari calon bayi yang masih berada di dalam perut kim tersebut. “Wow…” seru Ken kembali dengan girang.


“Mungkin dia menyukai suara mu sayang,” ucap Kim dengan tersenyum. Begitu juga dengan Ken, sesaat Ken bisa melupakan semuanya dan tersenyum bersama keluarga kecilnya itu.


***


Kini usia kehamilan Kim menginjak delapan bulan. Selama satu bulan penuh Kim selalu berada di rumah sakit. Tak sehari pun Kim keluar dari rumah sakit. sejujurnya Kim sudah sangat bosan sekali berada di rumah sakit terus menerus, tetapi jika bukan karena Ken yang memaksanya sudah sejak dari dulu Kim memilih pulang ke rumah. Sebaliknya dengan Ken, pria ini lebih memilih tinggal di rumah sakit menemani sang istri. Bagaimana pun caranya Ken tidak akan pernah meninggalkan Kim sendirian di rumah sakit.


“Sayang,” panggil Kim yang terlihat sudah sangat bosan sekali.


“Ada apa sayang?” tanya Ken yang sejak dari tadi berbaring di sisinya.


“Sayang aku ingin pergi jalan-jalan bersama Saly sebentar, Boleh ya?”


“Tidak Boleh.” Ucap Ken dalam sekejap mata.


“Sebentar saja, em…” rayu Kim. Sebisanya Kim berusaha merayu suaminya supaya mengizinkannya untuk pergi keluar bersama Saly.


“Jika aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!” tanpa sadar Ken mengejutkan Kim dengan nada tingginya.


Seketika Kim membeku dan menutup rapat mulutnya karena melihat reaksi sang suami. Kim tidak akan menyaka jika reaksi Ken yang berlebihan seperti itu, dan dalam seketika jantungnya berdebar-debar seakan hendak jatuh dari ketinggian. Perlahan Kim menahan dada sebelah kirinya dengan menggunakan tangan kanannya. Seakan tidak memberi waktu, Kim mulai merasakan dadanya terasa sangat sesak dan panas hingga terasa ke atas kepalanya.


“Sayang, apakah kau baik-baik saja?” tanya Ken panik. Seketika Ken menekan tombol bantuan yang terletak di belakannya itu. “Sayang bertahanlah,” ucap Ken panik.


Kim merintih kesakitan, wajahnya sangat pucat sekali dan di sertai banyak keringat di seluruh tubuhnya. Ken yang melihatnya hanya bisa memeluk erat istrinya itu sampai tenaga medis datang. “Aku mohon bertahanlah,” ucap Ken yang terus memeluk erat Kim.


“Aarrrrhhgg…” teriak Kim kesakitan.


“Please, Please…bertahanlah.” Ucap Ken terus-menerus.


Setelah beberapa detik kemudian pada akhirnya dokter dan tenaga medis lainnya datang, dan Ken di minta untuk menunggu di luar. Namun, pria itu menolak saat Andrew memintanya keluar saat itu juga.


“Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Kim sendirian seperti itu.” tolak Ken.


“Ken aku mohon,” ucap Andrew dengan melempar tatapan serius pada Ken. “Percaya padaku, tidak akan terjadi apa-apa kepada Kim, aku tidak akan pernah membiarkan Sesuatu yang akan terjadi padanya. Aku mohon padamu dengarkan aku untuk kali ini saja.” Tambah Andrew meyakinkan Ken.


“Baiklah, aku percayakan Kim padamu.” Ucap Ken yang pada akhirnya menuruti apa yang ucapkan Andrew padanya. Kemudian Ken pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menunggu di luar seperti yang di pinta Andrew padanya. Di waktu yang sama, Andrew dan berserta tim medis lainnya berusaha menyelamatkan Kim dari serangan jantung.


.


.


Nantikan Protect My Heart extra part 2.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. Kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍