
Kenley POV.
Semalaman aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku sangat kacau, aku tidak tahu apa yang aku katakan pada Kim semalam, apa yang aku lakukan merupakan kemarahan yang tak bisa aku kendalikan. Setiap kali aku melihat Kim, aku selalu ingin menyakitinya.
Aku melihat jam di ponselku yang menunjukkan jam 6 pagi. Aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar dari kamar, saat aku berada di ruangan tamu aku melihat pintu kamar Kim terbuka. Kemudian aku memeriksanya, di saat aku masuk dalam kamar itu tidak ada Kim di sana bahkan pakainya juga tidak ada di dalam lemarinya yang terbuka. Aku sangat panik saat menyadari jika Kim pergi dari apartemen secara diam-diam tanpa memberitahuku.
Wajahku terasa sangat panas karena menahan emosi yang meluap. Tanganku terkepal kuat terasa ingin memukul seseorang, tetapi tidak orang yang bisa aku pukul sekarang. aku melihat ke samping tempat tidur dan melihat sebuah pesan di atas nakas, dengan cepat aku mengambil kertas tersebut.
Kita sudahi saja hubungan ini. Aku harap kita tidak bertemu lagi di masa depan, karena aku tidak sanggup bertemu denganmu lagi.
Jangan pernah kau berpikir untuk mencari keberadaanku, aku sangat membenci jika bertemu denganmu, karena aku takut jika hatiku akan terluka lagi.
Jadi aku mohon padamu, Protect My Heart. Walau pun kau tidak mencintaiku. Terima kasih untuk semuanya, selamat tinggal Ken.
Kimberli Clark.
Membaca pesan yang di tinggalkan Kim membuatku sangat marah dan aku menggenggam kuat surat tersebut dalam genggamanku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi setelah membaca pesan yang di tinggalkan Kim padaku.
Aku semakin membencinya karena dia tidak bisa aku percaya, seharusnya dia bertahan dalam hubungan ini seperti yang aku katakan padanya waktu itu.
πΊπΊπΊ
Hampir sepuluh jam surat yang di tinggal Kim masih berada di atas meja kerjaku, aku tidak lelah menatapnya karena masih tidak percaya jika Kim benar-benar meninggalkanku. Aku merasa di campakkan olehnya.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku akan melepaskanmu seperti yang kau inginkan aku tidak akan pernah mencari keberadaanmu, hingga takdir yang mempertemukan kita kembali. Saat waktunya tiba, kita akan bertemu lagi karena dunia ini tidak seluas yang kau kira, saat kita bertemu lagi kau akan membayar apa yang kau lakukan saat ini padaku." Kataku yang memandangi surat yang di tinggalkan olehnya.
Tok...Tok...Tok.
"Permisi Tuan," ucap Grece yang mengetuk pintu ruanganku.
"Masuk" kataku seraya melihat Grece masuk dan berjalan menghampiriku di meja kerja.
Aku melihat di tangan Grece ada sebuah amplop putih, dengan ragu-ragu dia meletakan amplop tersebut di atas meja kerjaku. "Ini apa Nona Grece?" tanyaku padanya.
"Maaf Tuan aku tidak bisa bekerja di sini lagi," kata Grece padaku.
"Kenapa?" tanyaku dengan bersikap tenang.
"Aku hanya ingin beristirahat dan menjalani kehidupan masa mudaku sekarang, karena semenjak bekerja aku melupakan kehidupan pribadiku." Jawab Grece dengan alasan yang tidak masuk akal bagiku.
"Baiklah, akan aku proses surat pengunduran diri kamu, tapi untuk sekarang kamu harus tetap bekerja selama aku menemukan sekretaris baru." Kataku padanya.
"Baiklah Tuan," Katanya yang hendak keluar dari ruanganku.
Grece berbalik menghadap ke arahku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan sama sekali. Dia melangkah mendekatiku kembali dengan berkata. "Maafkan aku jika membuat Tuan Ken tidak nyaman dengan sikapku, tapi aku akan memberi saran untuk Tuan," katanya yang sedikit mengantung, tetapi sesaat kemudian dia menyambung kembali kata-katanya. "Jangan pernah melukai wanita yang Tuan Cintai karena jika wanita itu telah Anda lukai maka dia akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi pada Anda." sambungnya yang langsung pergi keluar dari ruanganku.
Kenapa aku merasa saran dari Grece seolah-olah menyindirku. Mendengar kata-kata Grece barusan sudah jelaskan alasannya berhenti bekerja, aku tahu apa alasannya.
πΊπΊπΊ
Saat aku pulang ke rumahku bukan apartemen, di sana aku mendapati Saly adikku menatap tajam diriku. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyaku padanya.
Dia tidak menggubris pertanyaan dariku dan tetap menatapku dengan tajam seakan matanya ingin keluar dan menusukku. aku hanya mengabaikannya saja dan berencana masuk ke dalam kamarku. Saat aku berjalan melewatinya tiba-tiba dia berkata padaku. "Apa yang kau lakukan pada Kim?" tanyanya padaku.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya. "Aku tidak melakukan apa pun padanya." jawabku dengan santai.
"Tidak mungkin kau tidak melakukan apa pun padanya, jika tidak kenapa dia menghilang begitu saja tanpa memberitahu apa pun?" kata Saly seraya mendekatiku.
Aku hanya diam saja karena apa yang di katakan Saly padaku memang aku yang membuat Kim pergi dan hanya meninggalkan pesan singkat perpisahan untukku yang berada dalam saku jasku.
"Kenapa kau hanya diam saja? Benar yang aku katakan, apa yang kau lakukan sehingga membuat Kim pergi!" teriak Saly padaku dengan mengguncang-guncang tubuhku.
Aku merogoh saku jasku dan mengeluarkan surat yang di tinggalkan Kim untukku. Kemudian aku memberikan kertas itu pada Saly, setelah kertas itu beralih tangan aku pergi masuk ke dalam kamarku.
Saat di dalam kamar aku melonggarkan dasiku dan langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur dengan menatap ke atas langit-langit kamarku.
Kenapa hatiku tidak terima Kim pergi meninggalkan aku, apa yang aku inginkan sebenarnya? Aku sudah menghancurkan hatinya sesuai keinginanku. Batinku.
Pikiranku kelabu dan tidak bisa berpikir dengan jernih sama sekali, aku beranjak dari kasur menuju meja kerjaku dan membuka laci untuk mengambil sebotol bir putih, kemudian aku membuka tutup botol bir tersebut dengan kasar dan langsung meminumnya dengan sekali tegak, hingga habis.
Kepalaku terasa sangat berat dan penglihatanku juga berputar-putar setelah menghabiskan sebotol bir putih tersebut. Semua yang ada di kepalaku terasa berputar-putar seperti komedi putar, hanya wajah Kim yang muncul di pikiranku, hanya dia yang aku pikirkan tidak ada hal lain yang aku pikirkan.
"Ken apa kau mabuk?" terdengar suara Saly yang tidak jelas bertanya padaku. aku mencari asal suara itu berada, tetapi aku tidak bisa menemukannya sama sekali hanya suara itu yang bisa aku dengar kemudian semuanya terlihat gelap begitu saja, aku bisa merasakan jika tubuhku sudah ambruk ke lantai.
Tidak sepenuhnya aku kehilangan kesadaran, aku bisa mendengarkan Saly berteriak memanggil namaku dan juga aku bisa melihat wajahnya yang memiliki tiga bayangan hingga akhirnya aku benar-benar kehilangan kesadaranku, tetapi tetap saja wajah itu masih terlihat saat terakhir aku kehilangan kesadaranku. Wajah Kim yang penuh dengan kesakitan tanpa senyum di wajahnya yang bisa aku ingat sekarang.
.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.β€π§‘πππππ€π€π€