Protect My Heart

Protect My Heart
Part 23



Kim POV.


Aku turun dari mobil berjalan dengan perlahan menuju lobi Rumah Sakit. Saat di depan pintu masuk Rumah Sakit banyak sekali reporter dan media dari berbagai televisi berkumpul di lobi Rumah Sakit.


Aku berjalan mendekati kerumunan tersebut, aku sangat terkejut melihat di tengah-tengah kerumunan reporter tersebut ada Saly dan Ken di sana. Aku melihat Saly menangis dan Ken berdiam diri dengan wajah datarnya. Ketika aku hendak mendekat tiba-tiba dari salah satu reporter tersebut bertanya pada Ken.


“Apakah Benar Marvin Ellieston meninggal dunia?” tanya salah satu reporter tersebut.


Aku sangat terkejut dengan pertanyaan yang di ajukan oleh reporter tersebut. Aku tidak tahu harus berkata apa, alasan kenapa Ken bersikap aneh saat di restoran tadi, Ternyata ini.


Aku sangat sedih mendengar kabar meninggalnya Marvin Ellieston karena aku mengenalnya, Marvin adalah salah satu pasien Dr. Adam, aku sering bertemu dengannya saat melakukan pemeriksaan rutin setiap bulannya, bisa di bilang kami adalah pasien Dr. Adam yang sering menyemangati satu sama lain.


Melihat keadaan yang semakin ramai dan pengap udara aku memutuskan pergi dari sana karena aku tidak bisa berada di ruangan yang pengap udara. Aku berjalan menuju ruangan Dr. Adam, aku terus berjalan seraya berpikir tentang kematian.


Setiap detik aku selalu takut jika kematian menghampiriku. Hari ini kematian mengambil kehidupan ayah dari pria yang aku cintai, aku tidak ingin kalau dia juga kehilanganku. Aku tahu jika kematian selalu ada di dalam diriku, bagaimana pun kematian tidak dapat aku hindari.


“Apakah aku juga akan meninggalkan dunia ini?” batinku yang bertanya pada diriku sendiri. Aku terus berjalan tanpa peduli dengan yang ada di sekitarku.


Author POV.


Pandangan Kim tak lepas dari Dr. Adam yang ada di hadapannya. Dengan tatapan Kosong Kim berpura-pura tenang di depan Dr. Adam. Rasanya dia ingin menangis dan memohon pada Dr. Adam untuk membantunya untuk hidup lebih lama, tetapi Kim tidak melakukan itu karena dia tahu jika kematian bukanlah seorang dokter yang menentukan melainkan Tuhan.


“Apakah hari ini kamu mendapatkan serangan lagi?” tanya Dr. Adam dengan tangannya yang sibuk mencatat.


“Emm...” Kim menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Kecemasan hatinya semakin meningkat saat bertemu dengan Dr. Adam.


“Jam berapa kamu mendapat serangan?” tanya Dr. Adam dengan tenang walaupun barusan dia harus terima kenyataan bahwa sahabatnya Marvin Ellieston telah meninggal.


“Jam sebelas lewat dua menit barusan,” Jawab Kim seraya melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul dua belas lewat.


“Berapa kali kamu mendapat serangan dalam satu hari?” Tanya Dr. Adam kembali.


“Tidak setiap hari, tetapi saat mendapat serangan hanya satu kali dalam sehari.” Jawab Kim dengan menggenggam tangannya sendiri.


“Baiklah Kim, saya akan jelaskan padamu kalau Kondisi jantungmu sangat buruk saat ini dan kemungkinan kamu akan sering mendapat serang jantung setiap harinya. Tetapi kamu jangan khawatir aku akan memberimu resep obat yang bisa membantumu mengurangi rasa sakit saat kamu mendapat serangan.” Ucap Dr. Adam seraya menuliskan resep obat dan di berikannya pada  Kim.


“Terima Kasih, Dokter,” Ucap Kim yang beranjak berdiri dari kursinya, tetapi Dr. Adam menghentikannya.


“Kim, kamu harus kuat melawan penyakitmu aku akan selalu membantumu, aku tidak ingin kehilangan pasienku lagi.” ucap Dr. Adam pada Kim.


“Baiklah Dr. Adam, aku turut berduka atas meninggalnya Uncle Marvin.” Ucap Kim seraya meninggalkan ruangan Dr. Adam.


Dengan perlahan Kim berjalan keluar dari Rumah Sakit. Saat tiba di lobi ternyata semua reporter dan media yang tadi berkumpul sudah tidak ada lagi, begitu pun dengan Ken dan Saly.


🌺🌺🌺


Flashback.


Tiga tahun yang lalu.


Rumah Sakit.


Kim yang duduk di koridor seraya menunggu gilirannya untuk di panggil, sedangkan di sebelahnya ada seorang Pria separuh baya yang duduk seraya menopang dada sebelah kirinya dengan wajah yang sangat pucat, seperti sedang menahan sakit.


Dengan waktu bersamaan nama Kim di panggil untuk melakukan pemeriksaan, tetapi dia sangat khawatir pada pria separuh baya yang ada di sampingnya itu. Karena tidak tega Kim memberikan gilirannya pada Pria tersebut lebih dulu untuk di periksa.


“Maaf suster, apakah bisa kalian memeriksanya terlebih dahulu?” seru Kim seraya menopang bahu pria tersebut.


“Tentu saja boleh Nona.” Saut suster tersebut dengan ramah.


“Terima Kasih.” Kim tersenyum melihat pria tersebut yang mengucapkan terima kasihnya.


“Mari Tuan saya bantu masuk ke dalam.” Ujar suster seraya membantu Pria tersebut berdiri dan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


Beberapa saat kemudian Pria separuh baya tersebut keluar dari ruangan  bersama dengan Dr. Adam. mereka berdua terlihat sangat dekat dan senyuman di wajah mereka sangat ceria sekali saat Kim melihatnya.


“Sama-sama.” Ucap Kim dengan kedua sudut bibirnya terangkat.


“Nama saya Marvin Ellieston dan nama Gadis kecil ini siapa?”


“Saya Kimberli Clark, panggil saja Kim.” jawab Kim dengan tersenyum pada Marvin.


“Nama yang indah, sesuai dengan orangnya yang cantik.” Kata Marvin memuji Kim.


“Terima kasih.”     


             


🌺🌺🌺


Satu bulan kemudian.


Mereka bertemu kembali, dan kali ini Kim dan Marvin bercerita banyak hal termasuk penyakit yang mereka derita. Tidak hanya Kim dan Marvin yang berbicara melainkan Dr. Adam juga ikut serta dalam pembicaraan mereka.


“Uncle Marvin dan Dr. Adam sudah berteman sejak kapan?”


Marvin tersenyum mendengar pertanyaan yang di tanyakan Kim padanya dan Adam. “Kami berteman semenjak TK, kenapa?” tanya Marvin balik pada Kim.


“Tidak apa-apa hanya saja kalian berdua sangat dekat sekali dan terlihat sangat terbuka satu sama lain.”


Dr. Adam tertawa mendengar apa yang di kata Kim, dengan berkata “Kata siapa kami berdua saling terbuka satu sama lain?” seru Dr. Adam pada Kim.


“Aku bisa melihatnya, memangnya kenapa?”


“Young Lady, kami memang dekat tetapi kami tidak seperti yang kamu bicarakan karena di antara kami berdua banyak sekali menyimpan rahasia yang tidak bisa kami ungkapkan satu sama lain.” Saut Marvin dengan tersenyum.


“Owh...” dengan polos Kim membuka mulutnya yang membentuk huruf ‘O’.


“Kamu sangat lucu sekali, aku jadi teringat dengan kedua anakku.” Kata Marvin yang seakan merindukan kedua anaknya.


“Memangnya Uncle tidak tinggal bersama mereka?” seru Kim seraya membenarkan  rambutnya.


“Aku terlalu sibuk untuk pulang ke rumah, sedangkan anak laki-lakiku juga sibuk sepertiku dan dia  juga seumur denganmu.” ucap Marvin.


“Yang satunya juga sibuk ya Uncle?” seru Kim kembali.


“Yang satunya sibuk dengan urusannya, maklumlah anak perempuan dan dia lebih mudah satu tahun dari anak laki-lakiku.” Kata Marvin yang terlihat bahagia menceritakan kedua anaknya.


“Kau terlihat sangat menyayangi mereka berdua, aku sangat iri pada mereka.” Ucap Kim sehingga membuat Marvin menatap matanya.


“Kenapa harus iri dengan kehidupan seperti itu? Kau masih muda jadi tidak tahu apa-apa.” Ucap Marvin menepuk bahu Kim.


“Uncle apakah boleh Kita berfoto bersama?” tanya Kim dengan polosnya.


“Tentu saja boleh.” Jawab Marvin yang langsung tersenyum. “Adam tolong fotokah kami berdua.” Ucap Marvin pada Adam yang berdiri di samping mereka.


“Tentu saja, dengan senang hati.” Jawab Adam dengan kedua sudut bibir yang terangkat.


Kemudian Marvin memberikan Ponsel pintarnya pada Adam untuk memotret mereka berdua.


Semenjak itu Kim mengenal sosok Marvin Ellieston yang merupakan sang ayah dari pria yang dia cintai. Di balik semua itu Ken tidak mengetahui jika Kim mengenali ayahnya dan sebaliknya Marvin tidak mengetahui jika wanita yang dicintai putranya adalah Young Kim yang dia kenal sehingga maut menjeputnya.


.


.


.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍