
Kimberli POV.
Tak bisa aku ungkiri saat usiaku sepuluh tahun, aku divonis menderita penyakit jantung bawaan sejak lahir. Menurut keterangan dokter Adam, aku menderita penyakit jantung karena sebagian besar karena keturunan dari kedua orang tuaku yang menderita penyakit jantung.
Saat itu aku masih belum mengerti kenapa kedua orang tuaku menangis setelah aku divonis menderita penyakit jantung. Kini aku mengerti kenapa kedua orang tuaku menangis saat itu, mereka pernah berkata padaku jika aku harus hidup apa pun yang terjadi dan mereka juga pernah bilang padaku jika aku tidak boleh menyerah pada suatu saat nanti mereka pergi meninggalkan aku sendiri.
Semenjak usiaku sepuluh tahun aku selalu di batasi untuk melakukan apa pun termasuk makanan yang harus aku makan dan makan yang tidak boleh aku makan. Aku pernah menangis dengan mengurung diriku di dalam kamar berhari-hari karena tidak di perbolehkan memakan permen lolipop. Aku di ajari menjadi vegetarian di usiaku menginjak sebelas tahun, makanan yang paling di larang untuk aku makan adalah daging. Jenis daging apa pun itu aku tidak boleh memakannya.
Setelah Mama meninggal, orang yang selalu melarangku melakukan apa pun, dia juga mengatur apa yang harus aku makan dan yang tidak boleh aku makan adalah Andrew. Andrew Smith adalah anak dari Dr. Adam Smith, pertama kali aku bertemu dengannya saat aku berusia lima belas tahun saat itu. Saat itu Andrew hanya bersahabat dengan Grece, tetapi aku datang dalam persahabatan mereka yang di terima begitu saja karena mereka merasa kasihan terhadapku. Tapi kini kami bertiga bersahabat bukan karena merasa kasihan kepadaku tetapi karena kami memang benar-benar saling membutuhkan satu sama lain dan saling memahami satu sama lain.
🌺🌺🌺
“Apakah kalian berdua sudah berbaikan?” seru Andrew pada aku dan Grece yang lagi asyik mengobrol di kamar inap tempat aku dirawat.
Seketika mataku dan Grece menatap tajam ke arah Andrew yang baru saja datang menghampiri kami.
“Kau dari mana saja? Aku sudah lama berada di sini tetapi kau tidak juga datang menghampiriku.” Sewot Grece kepada Andrew.
“Maaf aku sangat sibuk mengobati pasienku, jadi tolong bersabar jika ingin bertemu denganku.” Saut Andrew yang ikut duduk di dekat Kami.
“Dasar pamer,” cibir Grece.
“What did you say just Now?” seru Andrew seraya menjewer telinganya Grece.
“Tukang pamer.” Grece menjulurkan lidahnya keluar pada Andrew.
“Dasar jelek,” cibir Andrew pada Grece.
Aku hanya tertawa melihat mereka berdua saling mengejek satu sama lain. Aku ingat saat kami masih kecil, Andrew dan Grece sering sekali bertengkar seperti ini saat dulu dan sekarang mereka tetap sama saat bertemu. saling mencibir satu sama lain dan berdebat tentang hal-hal kecil. Memikirkannya saja membuat aku tersenyum sendiri karena kenangan tersebut.
“Baru kali ini aku melihat kamu tersenyum setelah kepergian Aunty Linsy.” Kata Andrew padaku yang sedang tersenyum.
Segerah aku menghentikan senyumanku dan memasang wajah datar yang aku tunjukan pada Andrew sehingga dia menarik kedua pipiku menggunakan kedua tangannya dengan berkata padaku. “Tersenyum dong, kalau kamu begini terlihat sangat jelek.”
Seketika aku tertawa melihat ekspresi wajah Andrew yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Dia tidak pernah memasang wajah sok imut pada siapa pun tetapi sekarang dia terlihat sangat bodoh dengan bibir mayungnya.
“Kenapa kau tertawa?” seru Andrew padaku.
“Kau terlihat bodoh saat kau memasang wajah sok imut, tidak cocok untukmu.” Sautku yang tertawa lepas.
“Kalau begitu aku tidak akan melakukannya lagi,” Andrew mengerutkan keningnya karena kesal aku tertawakan.
“Siapa suruh kau lakukan itu, Hahahahaha” aku tertawa menertawakan Andrew.
“Hahaha, sangat__” kata-kata Andrew terhenti karena ponselnya berdering di dalam saku seragam putih yang panjangnya selutut. “Sebentar aku angkat telepon sebentar,” kata Andrew pergi keluar.
Aku menatap punggung Andrew yang lebar dan berpikiran jika dia sangat keren dengan seragam dokternya. “Apakah Andrew selalu keren seperti itu?” seru Grece tiba-tiba memecahkan lamunanku yang memandangi punggung Andrew.
“Aku rasa,” sautku seadanya.
“Kenapa tiba-tiba kau memujinya seperti itu?” tanyaku dengan mata yang memandang aneh Grece.
“Aku tidak tahu, tapi aku sangat suka saat melihatnya menggunakan seragam dokternya.” Grece kembali membuatku tersengal.
“Wah....aku tidak mengira jika kamu memujinya seperti itu, biasanya Grece yang aku kenal selalu mengejek dan berdebat dengannya tapi sekarang kau__” aku menghentikan kata-kataku karena tidak bisa berkata-kata lagi selain memandang takjub Grece.
“Jangan memandangku seperti itu, setiap orang pasti berubah seiring waktu jadi tidak perlu sebegitunya memandangku.” Grece semakin membuatku takjub dengan kata-kata bijaknya.
“Apakah kau menyukainya?” tanyaku yang seketika membuat Grece gugup. “Kenapa kau tiba-tiba gugup?” seruku lagi pada Grece.
“Apa aku terlihat seperti menyukainya?” seru Grece balik padaku.
Aku sangat yakin seratus persen jika Grece menyukai Andrew. Aku tidak tahu kapan dia mulai menyukai Andrew tapi yang pasti aku sangat terkejut dan tidak percaya jika Grece memiliki perasaan pada Andrew.
“Sejak kapan kau menyukainya?” seruku yang mendekatkan diriku di dekat Grece.
“Saat kita berusia lima belas tahun.” saut Grece yang semakin membuatku terkejut tidak percaya.
“Kenapa Kau tidak mengatakan padanya jika kau menyukainya?” aku mengajukan pertanyaan yang sangat membuatku penasaran, jika memang Grece menyukai Andrew dalam waktu yang sangat lama kenapa dia tidak mengatakan isi hatinya selama ini.
“Karena aku tahu jika Andrew menyukaimu dan bukan aku,” kata Grece yang membuatku tidak percaya dengan apa yang di katakannya barusan.
“Candamu tidak lucu sama sekali,” aku menyangkal apa yang di katakan Grece padaku.
“Aku serius Kim dan aku tidak bercanda sama sekali.” Grece kembali meyakinkan aku.
“Jika memang benar Andrew menyukaiku kenapa aku tidak tahu itu?” seruku yang kembali menyakalnya.
“Aku tidak tahu bagaimana bisa kau tidak tahu jika Andrew menyukaimu, tapi yang pasti setiap orang yang melihat tatapan Andrew padamu sangat spesial dan tidak ada orang yang tidak tahu jika dia sangat menyukaimu saat melihatnya menatapmu.” Grece berkata seakan aku yang tidak tahu apa-apa.
Aku hanya diam saja, hingga akhirnya Andrew masuk kembali dalam kamar aku di rawat. Aku merasa sangat canggung sekali saat Andrew menghampiri kami setelah mendengar apa yang di katakan Grece barusan padaku.
“Kenapa kalian berdua diam saja saat aku datang?” seru Andrew pada kami.
Kami tidak menjawab pertanyaan dari Andrew kemudian aku membaringkan tubuhku dan berkata. “Aku mau beristirahat,” aku langsung memejamlan mataku berpura-pura tidur.
“Oke baiklah, kami akan keluar,” kata Grece yang mengajak Andrew keluar. Aku bisa mendengar langkah kaki mereka yang semakin menjauhiku.
Setelah terdengar suara pintu yang di tutup aku langsung membuka mataku dan melihat ke arah pintu dan ternya pintu benar-benar sudah tertutup. Aku menghelakan nafas panjangku karena menahan nafas akibat kecanggungan yang tiba-tiba aku rasakan.
.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍