Protect My Heart

Protect My Heart
Part 39



“Ikutlah bersamaku ke New York,” pinta Ken seraya memeluk Kim dari belakang di atas tempat tidur.


Kim hanya tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan Ken padanya. Dia ragu untuk menanggapi perkataan Ken padanya karena dia tidak berani meninggalkan semua yang dia miliki ada di kota ini. di kota inilah keluarga satu-satunya yang dia miliki, jika dia pergi bagaimana dengan orang dia tinggalkan di sini.


“Maafkan aku Ken, aku tidak bisa ikut denganmu.” Kata Kim menolak ajakan Ken.


Mendapat penolakan kemudian Ken membalikkan tubuh Kim menghadapnya dengan berkata. “Kenapa?” seru Ken seraya menatap mata Kim.


“Aku tidak bisa meninggalkan kota ini begitu saja.” Jawab Kim tanpa menatap mata Ken.


“Alasannya?” seru Ken kembali yang berusaha ingin membujuk Kim supaya mau ikut dengannya kembali ke New York.


“Karena semua yang aku miliki ada di kota ini. baik itu keluarga, sahabat dan yang paling sulit bagiku untuk meninggalkan kota ini adalah Mami.” Kim menghelakan napas panjangnya dari hidung seraya menatap Ken dengan menyesal.


Alasan yang di berikan Kim pada Ken berhasil membuatnya tidak berkata apa-apa. dia hanya memeluk Kim dengan erat tanpa mengatakan sepata kata pun untuk membujuk Kim kembali. “Maafkan aku telah memaksamu untuk meninggalkan kota ini, aku tidak memikirkan perasanmu jadi tolong maafkan aku.” Ujar Ken seraya mengelus-elus punggung Kim dalam pelukannya.


“Kau tidak perlu meminta maaf padaku, seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa ikut denganmu.” Ucap Kim pada Ken. “Kau pergi saja ke New York aku baik-baik saja di sini, kau boleh pergi.” Kata Kim kembali.


Ken merasa berat jika harus meninggalkan Kim. dia merasa sangat khawatir jika Kim tidak berada di dekatnya, yang dia inginkan adalah selalu berada di dekat Kim tetapi dia tidak bisa karena banyak pekerjaan yang harus dia kerja di New York. “Baiklah jika ada apa-apa kau hubungi aku secepatnya.” Ujar Ken yang menyerah.


“Kapan kau akan berangkat ke New York?” seru Kim melepaskan pelukan Ken darinya.


Dengan ragu-ragu Ken menjawab. “Sore ini pukul lima,” jawab Ken singkat.


Kim kembali memeluk erat Ken hingga wajah terbenam di dada bidangnya Ken seraya berkata. “Aku akan sangat merindukanmu.” Kim semakin mengeratkan pelukannya seakan tak ingin melepaskan Ken untuk pergi.


“Aku juga akan sangat merindukanmu.” Saut Ken mengatakan hal yang sama dan juga tak ingin melepaskan pelukannya. “Tidak bisakah kau ikut denganku?” seru Ken kembali. Dia mencoba untuk membujuk Kim kembali untuk yang terakhir kalinya.


“Sorry I can’t come with you but I really Love you.” Ucap kim yang menolak tetapi menyatakan cinta pada Ken.


Ken yang mendapat penolakan dari Kim merasa kecewa tetapi berkat kalimat terakhir yang di ucapkan Kim membuatnya merasa bahagia dan dia menyerah untuk membujuk Kim ikut dengannya. “Baiklah aku menyerah untuk kali ini, tapi jika lain kali aku tidak akan menyerah dan aku akan membawamu kembali ke New York.” Kata Ken seraya mengecup bibir Kim satu kali.


Kim tersenyum setelah mendapat kecupan lembut di bibirnya. Dia merasa sangat bahagia sehingga membuat jantungnya bekerja dua kali lipat dari biasanya mengakibatkan jantungnya berdetak sangat cepat seperti serangan jantung yang sering di rasakannya. Kim mengira itu hanya sesaat tetapi kenyataannya berakibat buruk terhadap jantungnya yang lemah. Kenapa dengan jantungku?. Seru batin Kim.


Kim tersenyum canggung karena tiba-tiba dia mendapat serangan. dia tidak tahu kenapa, tapi yang pasti apa yang dia rasakan dapat mempengaruhi jantungnya. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa Kim membuat alasan ingin ke toilet dan dia berusaha bersikap baik-baik saja di depannya Ken walaupun yang sebenarnya dia menahan sakit di dadanya.


“Aku ke toilet sebentar,” ujar Kim dengan suaranya yang sedikit bergetar. Sedangkan Ken tidak menyadari keadaan Kim sekarang, wajah yang pucat dan berkeringat Kim berusaha bernafas dengan benar dalam melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toilet. Ken terus tersenyum seraya memandangi punggung Kim secara perlahan yang menjauhinya, dia tidak tahu jika Kim sedang kesakitan saat ini.


Dengan sabar Ken menunggu Kim keluar dari toilet, tetapi sudah hampir sepuluh menit Kim tak kunjung keluar dari pintu yang terus Ken pandangi sejak dari tadi. Menyadari jika ada yang aneh Ken beranjak berjalan ke arah toilet yang jaraknya hanya beberapa kaki dari posisinya. Dia mengetuk pintu toilet seraya memanggil Kim tetapi tak ada jawaban sama sekali. Panik dan khawatir Ken terus mengetuk pintu toilet berulang kali dan akhirnya dia mendengar jawaban Kim yang ada di dalam toilet. “Aku tidak apa-apa,” ujar Kim yang pelan.


Mendengar suara Kim membuat Ken merasa lega dan dia juga menyadari jika kedua tangannya bergetar hebat sehingga membuat tubuhnya lemas karena semua tenaganya terkuras habis karena merasa takut. “Kenapa kau lama sekali di dalam sana?” seru Ken di balik pintu toilet.


“Perutku terasa sangat sakit sekali, oleh karena itu aku butuh waktu lama untuk keluar dari sini.” bohong Kim. walaupun yang sebenarnya dia sangat menderita di dalam sana.


“Baiklah sebentar aku akan keluar,” saut Kim seraya menahan sakit di balik pintu yang mana di sisi lainnya ada Ken yang sangat khawatir.


Mendengar suara Kim, Ken merasakan jika wanita itu sedang kesakitan. Ken menahan dirinya seraya mengepal kedua tangannya dengan kuat sehingga pucuk kukunya memutih. “Apakah kau sudah selesai?” tanya Ken seolah dia tidak tahu jika Kim sedang kesakitan di dalam sana.


“Se__bentar lagi a__ku akan selesai,” saut Kim terputus-putus. “Kau siap-siap saja dulu sebentar lagi aku akan keluar.” Ucap kim kembali pada Ken yang berada di balik pintu.


Mendengar suara Kim membuat Ken tidak tahan lagi menahan sandiwaranya yang seakan dia tidak tahu. Kali ini Ken mencoba untuk menabrak pintu yang menghalanginya karena rasa khawatirnya yang takut akan kehilangan wanita yang dia cintai. Dengan mudah Ken membuka Pintu toilet dengan sekali dorong. Saat pintu terbuka Ken melihat Kim sedang berdiri dan dia terlihat baik-baik saja tetapi dia tahu jika saat ini Kim sedang berpura-pura.


“Apakah kau sudah selesai?” seru Ken yang meraih kedua tangan Kim. Saat Ken menyentuh kedua tangan kecil itu terasa sangat dingin sekali dan tanpa ada serat darah.


“Em...” angguk Kim. “Mari biar aku antar kau sampai Lobi.” Ucap Kim yang ingin mengantar keberangkatan Ken ke New York.


“Tidak perlu kau istirahat saja di sini,” ucap Ken menolak.


“Tidak apa-apa, biarkan aku mengantarmu.” Kata Kim yang mengabaikan perkataan Ken.


“Tapi__” kata-kata Ken terhentikan karena Kim langsung menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya.


“Kau tak perlu khawatir karena besok aku juga sudah bisa pulang dan oleh sebab itu kau jangan khawatir padaku. aku baik-baik saja.” Kata Kim tersenyum manis dengan wajahnya yang polos dan terlihat jelas jika dia tidak baik-baik saja.


Ken yang melihat wajah itu merasa tidak tega untuk pergi meninggalkan Kim, walaupun hanya untuk beberapa hari. “Tidak bisakah kau ikut denganku?” seru Ken yang tiba-tiba membujuk Kim kembali untuk ikut dengannya.


“Ternyata kau tidak menyerah juga,” ucap Kim yang menyentuh salah satu sisi pipi Ken dengan lembut.


“Ikutlah denganku, aku mohon.” Ken memohon seraya menatap mata Kim dengan sangat dalam. Bisa di bilang Ken menelusuri mata itu supaya wanita yang dia cintai mengubah keputusannya setelah dia menatapnya.


“Begini saja, aku janji akan terus bersamamu tetapi setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu di New York.” ucap Kim yang tidak menyerah atas keputusan yang telah dia ambil.


Dengan menghelakan nafasnya Ken berkata. “ Baiklah, kau haru janji dengan yang kau katakan saat ini.” Ken benar-benar menyerah untuk kali ini.


Pelukan hangat adalah perpisahan yang paling ampuh untuk melepaskan orang yang di cintai untuk pergi jauh. Rasa berat melanda hati Ken karena dia takut selama dia pergi akan terjadi sesuatu yang akan dia sesali untuk selamanya. Setelah beberapa menit berpisah kini Ken tengah berada di dalam mobilnya menuju bandara untuk pergi ke New York.  Sedangkan Kim terus berdiri di pintu keluar Rumah Sakit menatap langit-langit senja sore hari. Aku harap memiliki waktu untuk melakukan perpisahan dengannya. Aku ingin memberikan perpisahan yang terindah dan tidak pernah dia lupakannya. Batin Kim.


.


.


.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍