Protect My Heart

Protect My Heart
Part 44



“Apakah kau sungguh ingin pergi meninggalkan aku sendirian?” Ken kembali bertanya pada wanitanya itu. “Apakah kau tidak memikirkan apa yang aku rasakan saat kau pergi meninggalkanku. Apa yang harus aku lakukan jika kau benar-benar pergi meninggalkan aku sendiri. Tidak bisakah kau pikirkan bagaimana aku bisa hidup jika kau tidak ada di sampingku, aku akan hancur jika kau tidak ada.” Ken menyuarakan isi hatinya. Ken menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya.


Mata hitam Kim membesar, dia syok saat mendengarkan apa yang di rasakan pria yang dia cintainya. Dia melupakan apa yang di rasakan Ken. “Jika kau ingin pergi, aku juga akan ikut denganmu. Ke mana pun itu aku akan tetap ikut denganmu.” Ken membuat Kim menangis. “lebih baik aku ikut denganmu dari pada aku hidup dengan penderitaan karena tidak bisa melupakanmu.” Ken terus mengatakan apa yang dia rasakan. Kali ini dia akan mengatakan semua apa yang dia pendam dalam hatinya hingga tidak bersisa lagi.


“Maafkan aku, karena tidak memikirkanmu.” Kim memeluk erat prianya itu dengan erat dan matanya basah karena rasa sedih melanda dirinya. “Aku harus bagaimana supaya kau tidak bersedih. Aku tidak ingin melihatmu hancur karena diriku. Apa yang harus aku lakukan?” Kim menangis dalam diam. Begitu juga dengan Ken, Keduanya tidak bisa menahan air matanya karena tidak ada yang bisa mereka lakukan pada takdir yang hendak memisahkan mereka dari orang yang di cintainya.


“Aku mohon rubah keputusanmu demi diriku.” Ken memohon dan menangis terseduh di dalam pelukan Kim.


Hati Kim terasa hancur karena baru pertama kalinya dia melihat prianya menangis dan memohon dalam pelukannya. Dia tak bisa melihat pria yang dia cintai sedih karena dirinya, sedangkan hati, jiwa dan raganya sudah dia relakan untuk pria yang sedang menangis di dalam pelukannya saat ini.


“Aku tidak bisa jika kau meninggalkan aku sendirian, aku bisa gila jika kau tidak ada. Hidupku tidak lengkap tanpa dirimu.” Ken tersiksa, nafasnya tersendat-sendat karena tangis yang di rasakannya terlalu pedih di dalam hatinya.


Hiks, Hiks. Tangis Kim. Hatinya tersayat pedih karena pria yang dia cintai tak ingin melepaskannya untuk pergi. Dia tidak bisa melihat prianya hancur ketika suatu saat dia tidak bisa bertahan, membanyakkannya saja dia tidak bisa. Melihat Ken menangis saja dia tak sanggup, apalagi melihat pria itu hancur karena dirinya.


“Sayang kau jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis begini.” Kim mengeratkan pelukannya seerat-eratnya, seakan dia tidak ingin melepaskan pria itu sampai kapan pun.


“Aku mohon tetaplah bersamaku, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Hiks, Hiks.” Ken terus menangis. Dia sungguh tidak rela membiarkan wanitanya pergi meninggalkannya.


“Baiklah aku akan melakukannya, aku akan melakukannya demi dirimu. Jadi aku mohon berhentilah menangis.” Suara Kim serak. “Aku mohon berhenti menangis, aku tidak bisa melihatmu seperti ini.” Kim terus menangis, matanya merah dan bengkak karena terlalu lama menangis.


“Apakah kau sungguh-sungguh?” Ken melepaskan pelukannya. Dengan kasar dia menghapus air matanya.


“Ya, aku sungguh-sungguh ingin melakukannya. Tolong berhentilah menangis.” Kim menghapus sisa air mata di wajah Ken.


Tidak ada kata-kata yang bisa menyampai rasa bahagia Ken saat mendengar wanita yang dia cintai setuju dengan apa yang dia inginkan. Hanya pelukan hangat yang erat bisa menggambarkan perasaan Ken saat ini, dan air mata bahagia mengalir di wajah Ken.


“Kenapa kau tambah menangis?” Seru Kim. “Bukannya aku memintamu untuk berhenti menangis.” Kim mengusap air mata Ken yang terus membasahi pipinya.


“Aku tidak bisa menghentikan, air mata ini keluar dengan sendirinya.” Ken tersenyum dengan air mata membasahi pipinya.


“Sejak kapa kau begitu cengeng, mana CEO dingin dan kaku yang aku kenal dulu?” goda Kim seraya tersenyum.


“Entah aku tidak peduli lagi,” Ken kembali memeluk Kim dengan erat dalam pelukannya. Kali ini dia memeluk Miki seerat-eratnya, tanpa melepaskannya.


***


Rumah Sakit, Kim mulai menjalani pengobatan yang di yakini akan menambah tali kehidupannya yang hampir putus.


Selama dalam perjalanan menuju ruangan operasi Kim hanyut dalam pikirannya, dia mengingat hal yang sama yang di lalu oleh sang ayah di masa lalu.


Daddy maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku harus lakukan ini demi orang yang aku cintai, seperti Daddy yang rela berkorban demi Kim. Kali ini aku akan mengambil jalan yang sama denganmu. Batin Kim.


Setelah berbaring di meja operasi Kim terus menggenggam tangan Ken, dia tidak ingin melepaskan tangan pria itu. Dia takut jika dia tidak bisa bangun lagi dan tidak bisa bertemu dengan wajah yang dia lihat saat ini.


“Kim sayang, kau tenang saja operasi ini akan berhasil.” Ken meyakinkan Kim yang terbaring di meja operasi.


“Sebentar saja, biarkan aku melihat wajahmu sedikit lebih lama. Aku ingin mengingat wajahmu untuk terakhir kalinya.” Pinta Kim dengan meneteskan air matanya.


“Tuan Ken sudah waktunya Anda keluar.” Pinta dokter pada Ken.


“Kim saya, aku akan menunggumu di luar. Kau tidak perlu khawatir aku akan selalu ada di sampingmu.” Ken melepaskan tangannya dari genggaman Kim.


Setelah Ken keluar, pintu ruangan operasi di tutup dengan rapat. Lampu merah menyalah menandakan jika operasi sudah di mulai.


“Dalam hitungan ke sepuluh kau akan tertidur setelah kami menyuntikan cairan anestesi padamu,” terdengar suara dokter menghitung mundur.


Kim bisa mendengarkan hitungan mundur yang di lakukan dokter setelah obat yang di suntikan mulai membuat Kim tidak bisa merasakan apa-apa. Semakin kecil angka yang di ucapkan semakin kim tidak sadarkan diri.


Selama operasi berjalan Ken terus berdoa di dalam hatinya. Tak satu detik pun Ken tidak berdoa untuk keselamatan wanita yang sedang berjuang di dalam sana. Memohon keselamatan wanita yang dia cintai.


Sedangkan di balik pintu ada Kim yang sedang berjuang melawan kematian yang sudah menantinya. Dengan mata tertutup Kim masih bisa mendengar suara bising monitor anestesinya yang hampir menghilang di telinganya. Rasa takut akan kematian, Kim meneteskan air matanya karena terus mengingat wajah pria yang sangat dia cintai.


Bagaimana jika dia tidak akan pernah bangun lagi setelah ini? Apa yang terjadi dengannya jika aku tidak bisa bersamanya setelah ini? Bisakah dia menghadapi semuanya setelah aku meninggalkannya? Bagaimana dia menjalani kehidupannya tanpa diriku?.


Pertanyaan inilah yang terus di pikir Kim. Dia tidak  tahu apa yang akan terjadi dengan pria itu jika dirinya tidak bangun setelah ini. Hanya air mata yang dapat berbicara, air mata kepedihan yang di rasakan Kim selama berada di meja operasi.


.


.


.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍