
New York.
Satu minggu kepulangan Kim ke New York. Tidak satu pun pekerjaan yang dapat di kerjakan olehnya, di satu sisi Bosnya tidak memberikan sesuatu untuk di kerjakan, tidak ada perintah, tidak ada yang mengganggu Kim saat malam hari dengan mengiriminya sebuah pesan yang biasanya setiap malam membangunkan Kim dari tidurnya, kini Kim merasa ada yang hilang.
Sepertinya Kim mulai merindukan sosok Ken tanpa dia sadari. Sejak kejadian di Prancis Kim merasa Bosnya itu bersikap lebih dingin lebih biasanya, Kim bisa merasakan betapa dinginnya nada suara Ken berbicara padanya saat di Prancis.
Jika Ken sudah bersikap dingin terhadap seseorang, akan sulit bagi orang itu berada di dekatnya. Kim merasa tertekan karena bagaimana bisa dia bekerja dengan keadaan seperti itu. Dia tahu jika Bosnya adalah orang yang sangan dingin dan cuek tetapi tidak seperti itu juga karena kenyamanan adalah hal yang utama baginya dalam bekerja jika tidak merasa nyaman untuk apa dia bekerja, Pikir Kim.
🌺🌺🌺
Kim berjalan keluar untuk membeli persediaan makanan di rumah, tetapi saat dia baru keluar dan menutup pintu ada pria separuh baya menghampirinya. Pria itu adalah pemilik gedung yang ditinggali Kim dan Linsy.
“Apakah Linsy ada di rumah?” tanya pria pemilik gedung seraya melihat ke arah pintu rumah Kim.
“Ada apa Tuan?” tanya Kim balik.
“Ada yang ingin aku beritahukan padanya.” jawab pemilik gedung.
“Katakan saja Padaku, nanti aku sampaikan padanya.” ujar Kim seraya mengunci pintu rumahnya.
“Besok adalah akhir dari Kontrak, jadi kalian harus pindah dari sini besok, karena aku sudah menjual gedung ini dan pemiliknya akan menghancurkan tempat ini setelah kalian pindah besok.” kata pria pemilik gedung.
Kim sangat terkejut saat mendengarnya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Waktunya terlalu mendadak bagi Kim untuk mencari tempat tinggal baru, sedangkan tidak mudah mendapatkan tempat tinggal dengan cepat.
“Baiklah Tuan kami akan pindah, tapi beri waktu pada kami untuk berkemas setidaknya dua hari.” pinta Kim pada pemilik gedung.
“Bukannya tidak mengizinkan tetapi pemilik barunya tidak memiliki waktu untuk menunggu.”
“Baiklah Tuan, besok sore kami akan pindah dari sini.” kata Kim seraya melihat pria pemilik gedung itu pergi meninggalkannya.
🌺🌺🌺
Prancis.
Pekerjaan adalah hal yang utama bagi Ken, jika tidak bekerja tidak ada kehidupan baginya. Sudah menjadi kebiasaannya bekerja dapat mengalahkan dan melupakan semuanya, apa pun yang terjadi dia tidak akan gentar jika sebelum semua pekerjaannya selesai dengan sempurna.
Standar kerja yang tinggi adalah pilihan Ken untuk menjalani kehidupannya. Menjadi orang yang harus serba sempurna Ken membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dan takut padanya, akan tetapi dia tidak peduli bagaimana pun orang berpendapat tentang dirinya asalkan orang tersebut tidak membuat masalah terhadapnya.
Ken yang bekerja keras akhirnya dia menyelesaikan semua pekerjaannya. Dan waktunya untuk dia menikmati kehidupan setelah bekerja keras. Ken berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mengitari meja kerjanya, dia melihat permen lolipop yang terbela menjadi dua di dalam saku jasnya, benar sekali itu adalah lolipop miliki Kim yang terlepas dari tangannya. Ken yang melihat lolipop itu terlepas dari tangan Kim saat dia mendorong Rose, kemudian lolipop itu di pungut olehnya.
Sesaat Ken tenggelam dalam lamunannya seraya menatap lekat lolipop tersebut, kemudian meletakkan permen tersebut di atas meja lalu pergi keluar dari kamar Hotelnya. Karena hari ini adalah hari terakhir dia berada di prancis, dia menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan sendirian.
Berjalan sendirian membuat Ken merasa bosan, dia mengganti rencana untuk kembali ke New York secepatnya. Dalam 6 jam Ken sudah tiba di New York.
🌺🌺🌺
Kim yang sibuk mengemasi barang-barangnya, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan pesan masuk.
Nona Kim besok pagi lakukan seperti biasa yang aku perintahkan,
Tidak boleh ada yang tertinggal sedikit pun.
Kenley Ellieston.
Pesan tersebut menandakan jika Ken sudah kembali, tetapi kembalinya Ken tidak tepat bagi Kim karena jika Bosnya itu kembali dia tidak memiliki waktu untuk mencari tempat tinggal.
Kim terus berpikir, dan akhirnya dia terpikir menghubungi sahabatnya Grece Gisella.
“Hallo.” terdengar suara perempuan.
“Grece, ini Kim.” saut Kim langsung.
“Tentu saja aku tahu kalau kamu itu Kim, dasar Polos.” jawab Grece terdengar sangat jauh.
“Kali saja kamu tidak mengenali suaraku.” kata Kim seraya tertawa yang di buat-buat.
“Katakan padaku, ada apa?” tanya Grece langsung.
“Sebenarnya, apakah aku boleh menginap di tempatmu untuk beberapa hari.”
“Tentu saja boleh, tapi sebelum kamu tutup telepon ini aku ingin bertanya padamu, apa boleh?” tanya Grece yang sedikit curiga padanya.
“Apakah kamu sedang tidak punya tempat tinggal sekarang?” tanya Grece yang sedikit membuat Kim jengkel.
“Iya, boleh atau tidak aku tinggal bersamamu untuk beberapa hari sampai aku mendapatkan tempat tinggal yang baru.” jawab Kim.
“Sudah aku duga.” ujar Grece seakan mengetahui jika ini akan terjadi.
“Grece kamu berbicara seperti mengetahui jika aku akan di depak keluar dari rumahku?” tanya Kim yang merasa curiga padanya.
“Sudah tidak usah di bahas lagi, kapan kamu akan datang ke rumahku?” tanya Grece seraya mengganti topik pembicaraan.
“Kalau bisa malam ini boleh?”
“Tentu saja boleh, apa sih yang tidak buat kamu.” ucap Grece yang sedikit berlebihan.
“Grece apa boleh aku meminta pertolongan padamu?”
“Katakan saja.” cetus Grece terdengar sangat jauh.
“Tolong kamu jemput aku sekarang, soalnya banyak Koper yang di bawah, aku tunggu.” ujar Kim seraya menutup teleponnya dengan tiba-tiba karena dia takut jika Grece akan menolaknya.
🌺🌺🌺
Setelah di jemput Grece, kini Kim sudah berada di rumahnya Grece. Terlihat sangat besar dan mewah rumah yang di miliki Grece.
“Rumahmu sangat bagus ya.” kata Kim seraya melihat-lihat isi apartemen Grece.
“Tentu saja, karena apartemen ini adalah hasil kerja kerasku selama dua tahun bekerja sebagai sekretaris.” jawab Grece seraya memegang koper Kim.
“Memang, tempat tinggal yang di dapat dengan kerja keras sendiri terlihat sangat bagus.” gerutu Kim yang takjub dengan apartemen yang di miliki Grece.
“Eh.... katanya kamu sudah bekerja?” tanya Grece yang berdiri di samping Kim.
“Iya.” jawab singkat Kim yang masih takjub.
“Bekerja sebagai apa dan dimana?” tanya Grece kembali.
Tanpa ragu-ragu kim menjawab “Sebagai asisten di perusahaan Ellieston.”
“Ellieston” cetus Grece yang terkejut dengan mulut yang terbuka lebar.
Saat melihat sahabatnya itu Kim berkata padanya “Kamu kenapa terkejut begitu?” tanya Kim seraya duduk di kursi empuk yang di miliki Grece.
“Kamu tahu, Ellieston adalah tempat kerjaku juga.” kata Grece yang tiba-tiba.
“Kamu bilang apa?” tanya Kim yang sedikit terkejut dan mendekati sahabatnya itu.
“Aku juga bekerja di Ellieston, sebagai sekretaris CEO.” kata Grece yang semakin mengejutkan Kim.
“Kamu bilang sekretaris CEO?”
“Em...” Grece menganggukkan kepalanya.
Kim yang kehilangan kata-kata, berbisik di telinganya Grece. “Apa kamu tahu, gara-gara kamu selama aku bekerja tidak memiliki meja kerja.” teriak Kim dengan keras di telinganya Grece.
Grece yang terkejut karena suara Kim yang terlalu besar di telinganya, dan menggosok-gosok telinganya dengan tangannya dan berkata “Apa maksudmu?”
“Gara-gara kamu cuti terlalu lama aku tidak memiliki meja kerja, dan harus duduk di kursi pajang di depan ruangan Tuan Kenley.”
“Jangan bilang, kamu adalah asisten barunya Tuan Ken?” kata Grece yang tidak percaya.
Kim hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, dengan perlahan Grece mendekati Kim yang terkesan marah dengan wajah yang menahan tawa berkata padanya “Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama, kamu tenang saja dua minggu lagi aku akan kembali bekerja, dan ngomong-ngomong kamu bertahan ya selama dua minggu meja kerjamu baru di sediakan.” kata Grece yang tertawa bahagia karena sahabatnya itu satu kantor dengannya.
.
.
Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.❤🧡💛💚💙💜🤎🖤🤍