Protect My Heart

Protect My Heart
Part 22



Kim beruntung saat dia sampai di apartemen Ken belum pulang. Kekhawatiran Kim menghilang saat tiba di apartemen ternyata Ken belum pulang.


Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan yang ke sekian kalinya setiap Kim menjalani pemeriksaan. Setelah melakukan pemeriksaan Kim selalu murung dan tidak bersemangat dengan menghabiskan seluruh waktunya berhari-hari di dalam kamar.


Saat Ken pulang dari kerja, dia langsung menemui Kim di dalam kamarnya. Saat membuka pintu kamar, Ken melihat Kim sudah tertidur lelap dengan wajah yang pucat dan keadaan rambutnya setengah basah.


Dia tertidur tanpa mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Batin Ken seraya duduk di samping Kim yang tertidur. Ken membelai rambutnya Kim yang setengah basah, lalu dia mencium keningnya Kim dengan lembut. Kim yang tertidur terbangun saat keningnya di cium oleh Ken.


"Kau sudah pulang." Seru Kim saat terbangun.


"Emm...." Ken menganggukkan kepalanya.


"Apakah kau sudah makan?" tanya Kim dengan suara pelan yang hampir tidak terdengaran.


"Sayang apakah kau sakit?" tanya Ken seraya menatap keningnya Kim untuk memastikan suhu tubuhnya Kim panas atau tidak.


Saat menyentuh keningnya ternyata suhu tubuh Kim tidak panas sama sekali, tetapi wajahnya terlihat sangat pucat.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku perlu istirahat sekarang." ucap Kim dengan menatap matanya Ken.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" seru Ken memastikan jika benar-benar wanita yang dia cintai tidak apa-apa.


"Emm.." Kim menganggukkan kepalanya secara perlahan.


"Baiklah kalau begitu, kamu lanjutkan tidurnya." ucap Ken seraya membantu Kim berbaring kembali dan menyelimuti Kim dengan selimut.


🌺🌺🌺


Jam 08:30 pagi.


Ken masuk ke kamarnya Kim, saat membuka pintu ternyata wanita itu masih terlelap. Ken mencoba membangunkan Kim beberapa kali tetap saja Kim tidak terbangun dari tidurnya.


Setelah mencoba membangunkan Kim dari tidurnya, Ken memutuskan untuk membiarkan wanita itu tertidur dengan meninggalkan sebuah kertas memo berwarna kuning kecil.


Aku sudah berusaha untuk membangunkanmu.


Aku harap kamu tidak marah.


Hubungi aku saat kamu terbangun.


I Love You.


Kenley Ellieston.


Sudah tiga jam berlalu semenjak Ken meninggalkan memo untuk Kim, tetapi wanita itu tidak juga terbangun dari tidurnya, sedangkan Ken menunggu telepon darinya. Kenapa dia tidak juga menghubungiku. Batin Ken.


Ken terus bekerja seraya menunggu telepon dari Kim, tetapi tetap saja wanita itu tidak menghubunginya, hingga Ken hendak pulang dari kerja Kim tidak menghubunginya.


"Dia pergi ke mana saja sehingga tidak sempat menghubungiku." Gerutu Ken di dalam mobil menuju pulang.


Saat tiba di apartemen Ken langsung menuju kamarnya Kim, dia membuka pintu kamar dengan keras. "Kau__" kata-kata Ken terhenti ketika melihat Kim yang tertidur dengan posisi dan menggunakan pakaian yang sama semenjak tadi malam.


"Apakah dia belum bangun sama sekali semenjak dari pagi?" seru Ken seraya duduk di samping Kim yang tertidur.


"Kim...Kim sayang." panggil Ken seraya mengguncang-guncang tubuh Kim dengan lembut untuk membangunkannya.


Sesaat Kim membuka matanya secara perlahan seraya mengucak-ngucak matanya yang kabur.


"Ini sudah jam berapa?" tanya Kim yang beranjak duduk dari tidurnya.


"Ini sudah jam sembilan malam." Saut Ken yang membenarkan rambut Kim yang berantakan.


"Apa!!!" teriak Kim yang terkejut.


"Pelankan suaramu, ini sudah tengah malam." Seru Ken seraya menutup mulutnya Kim dengan menggunakan tangannya.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku!" seru Kim kesal pada Ken.


"Coba kau lihat pesanku di sampingmu." Ucap Ken seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah memo yang dia tinggalkan di atas meja di samping Kim tertidur.


Saat melihatnya Kim tertawa kecil karena merasa tidak enak hati telah marah pada Ken.


"Maafkan aku." ucap Kim menyesal pada Ken.


"Tidak apa-apa." Jawab Ken tersenyum melihat wajah Kim yang memerah.


Kemudian Ken memeluk Kim dengan erat dan berkata. "I Love you." Kim tersenyum mendengarnya dan dia berkata balik pada Ken. "I Love you too."


"Ganti bajumu sekarang." suruh Ken pada Kim.


"Malam ini kita pergi berkencan." Ucap Ken yang tiba-tiba.


"Kencan?"


"Tidak mau?" seru Ken menatap Kim.


"Aku mau." Jawab Kim yang langsung berdiri menuju kamar mandi untuk berganti baju.


Ken tersenyum melihat tingkah Kim yang kikuk di hadapannya. "Sepuluh menit lagi kita berangkat." Teriak Ken yang hendak keluar dari kamarnya Kim.


"Baiklah" teriak Kim di dalam kamar mandi.


🌺🌺🌺


Diner di restoran mewah dan hanya berduaan saja, di seluruh dalam restoran tersebut banyak sekali lilin-lilin yang menyalah dan bunga mawar merah di atas meja makan berserta Wine merah tahun 1980.


"Kapan kau menyiapkan semua ini?" tanya Kim yang takjub apa yang dia lihat, seakan tidak percaya Ken melakukan semuanya hanya untuknya.


"Hanya dengan satu kali telepon dan semuanya siap." Jawab Ken yang sombong.


"Dasar pamer." Cetus Kim seraya memutar bola matanya karena dia tidak percaya apa yang di katakan Ken padanya.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Ken dengan mata yang terbuka lebar menatap Kim.


Kim menelan ludahnya seraya berkata "Tidak ada." Kim menghindar.


Saat mereka berdua hendak duduk tiba-tiba Drttt...Drttt...Drttt suara ponsel Ken berbunyi.


"Tunggu sebentar aku angkat telepon dulu." Ucap Ken pada Kim.


Kim menatap Ken yang sedang menerima telepon dari seseorang, tiba-tiba raut wajah Ken berubah matanya memerah, tangannya bergetar sehingga ponsel yang ada di tangannya terlepas begitu saja. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi, sepertinya ada hal yang buruk telah terjadi.


Kim berjalan menghampiri Ken yang berdiam diri seperti patung dengan wajah yang terlihat sangat sedih dan kacau.


"Kamu kenapa?" tanya Kim seraya meraih jari jemarinya Ken.


Ken hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan dari Kim. beberapa saat Ken mematung kemudian dia berkata "Kim maafkan aku, kita tidak bisa melanjutkan kencan kita malam ini." Ucap Ken dengan suara yang bergetar.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Kim yang bingung.


"Maafkan aku, kamu pulang saja nanti sopirku akan mengantarmu pulang." ucap Ken yang hendak meninggalkan Kim sendirian.


"Kamu mau pergi ke mana?" seru Kim seraya menahan tangan Ken.


"Ada yang harus aku kerja sekarang, kamu tunggu sebentar di sini nanti sopirku akan menjeputmu." Kata Ken yang langsung pergi begitu saja.


Tidak percaya Ken meninggalkannya sendirian begitu saja, Kim berlari mengejar dan menghentikannya dengan berkata "Kamu kenapa?"


"Aku mohon lepaskan aku." Ucap Ken dengan nada datarnya.


"Tidak mau sebelum kamu menjawab pertanyaanku." Cetus Kim yang keras kepala.


Dengan kasar Ken melepaskan genggaman Kim dari tangannya dengan berkata "Tolong jangan bertanya padaku lagi."


Ken meninggalkan Kim sendirian dan langsung mengendarai mobilnya, pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa pun pada Kim.


Kecewa dengan perlakukan Ken padanya tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit, sehingga tubuh Kim ambruk ke lantai. Dengan perlahan Kim menopang dadanya dengan menggunakan tangannya karena rasa sakit yang di rasakannya.


Dengan menangis Kim menahan rasa yang amat sangat sakit di dadanya.


Kim mengambil ponselnya dan mencoba untuk menelepon Ken, tetapi Ken malah mematikan teleponnya begitu saja. Kim semakin meneteskan air matanya karena sedih dan tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang seakan merengut nyawanya.


"Nona apakah kamu baik-baik saja?" tanya sopir Ken yang baru saja tiba di depan restoran.


Dengan lemah Kim menjawab "Tolong bawah aku ke Rumah sakit sekarang." pinta Kim seraya menahan sakit.


"Baiklah Nona." Saut sopir itu seraya membantu Kim masuk ke dalam mobil.


.


.


.


Hallo semuanya, terima kasih sudah membaca Protect My Heart. kepada pembaca jangan lupa dukungannya dengan memberi Vote dan like ya, terima kasih.β€πŸ§‘πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œπŸ€ŽπŸ–€πŸ€