
Dua jam setelah insiden Kim mengalami serangan jantung. Kini Ken duduk di samping Kim yang berbaring tak sadarkan diri, dengan menggenggam erat tangan istrinya Ken merasa sangat bersalah telah menyebabkan kondisi Kim memburuk. Menyesal adalah satu-satunya yang dapat Ken lakukan saat ini. Menduduk sembari menggenggam erat tangan istrinya, Ken berharap istrinya cepat membuka matanya secepatnya.
“Apakah kau menangis?” tanya Kim dengan suara yang sangat lemah sekali.
Mendengar suara Kim Ken langsung mengangkat kelapanya. “Sayang, kau sudah bangun?” seru Ken.
“Em…” angguk Kim pelan.
Setelah Kim sadar, kini Ken bisa bernafas lega. Selama dua jam terakhir ini tak sedetik pun Ken bisa tenang.
“Sayang maafkan aku,” ucap Ken tiba-tiba. Terlihat jelas di wajahnya jika pria ini sangat menyesali apa yang telah terjadi pada istrinya.
“Aku akan memaafkan mu, tapi dengan satu syarat.” Kata Kim dengan tersenyum.
“Syarat?”
“Em, aku akan memaafkan mu dengan satu syarat.” Jawab Kim.
“Katakan apa syaratnya? Aku akan melakukannya apa pun itu asalkan kamu mau memaafkan aku.” Tanya Ken dengan wajah menyesalnya.
“Aku ingin pergi camping satu hari satu malam denganmu,” ucap Kim memanfaatkan kesempatan.
“Camping?”
“Ia, Camping.” Ucap Kim mengulangi kata-katanya.
Ken berpikir keras, hatinya berkata tidak ingin menuruti apa yang di inginkan istrinya itu. Namun, sebelum Ken menolak Kim terlebih dahulu berkata. “Kau tidak bisa menolak keinginanku,” ucap Kim.
“Kenapa seperti itu?”
“Karena ini juga keinginan dari calon anak mu.” Jawab Kim.
Ken menghelakan nafas lelahnya, tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak permintaan dari istrinya itu. “Baiklah, kita akan pergi camping bersama Andrew dan_”
“Tidak, hanya kita berdua saja. Tidak Andrew dan tenaga medis lainnya yang boleh ikut bersama kita.” Potong Kim.
“Tapi sayang,”
“Tidak ada tapi-tapian, hanya kita berdua. Jika tidak aku tidak ingin di rawat lagi.” Ancam Kim.
Dengan sangat terpaksa Ken menyetujui keinginan istrinya itu. “Baiklah, hanya kita berdua dan tidak ada orang lain yang ikut bersama kita. Namun, ada satu syarat.” Ucap Ken.
“Katakan apa itu?”
“Apa pun yang aku katakan kau harus menurut, termasuk kau harus menjalani perawatan secara rutin, oke.” Ucap Ken.
“Oke baiklah, aku setuju.” Saut Kim. “Ayo tunggu apa lagi kita berangkat sekarang,” ucap Kim tiba-tiba.
“Camping sekarang?” tanya Ken yang tidak percaya.
“Les’t wait no more, we go now I’ll hurry tonight.” Ajak Kim yang sedikit terburu-buru.
“Are you sure?” seru Ken tidak percaya.
“Yes, I am Very sure.”
“Baiklah, kita berangkat sekarang. Namun, sebelum itu beri aku waktu untuk mempersiapkan segala keperluan untuk camping dan juga persiapan lainnya.” Pinta Ken.
“Baiklah, aku beri waktu kamu tiga puluh menit untuk mempersiapkan segalanya.” Ucap Kim. “Mulai dari sekarang.” tambah Kim.
Apa yang di ucapkan Kim tersebut berhasil membuat Ken terburu-buru menghubungi sekretarisnya sembari berjalan keluar.
***
Kim POV
Aku duduk di sebuah kursi sembari menatap Ken yang sedang sibuk membangun tenda. Pandanganku tak lepas dari menatapnya, begitu juga dengannya yang selalu melihat ke arahku dengan tersenyum. Entah mengapa saat melihatnya tersenyum seperti itu membuat hatiku terasa sangat bahagia sekali. Aku harap dia akan selalu tersenyum seperti itu suatu saat nanti walaupun tidak ada aku di sisinya lagi.
Jujur saja selama satu bulan terakhir ini aku selalu gelisah dan khawatir akan terjadi sesuatu pada diriku sendiri sebelum melahirkan bayi yang ada di dalam perutku ini. aku tidak takut akan kematian, tetapi aku takut jika terjadi sesuatu pada bayi yang ada di dalam perutku ini, dan yang paling aku takuti adalah saat aku pergi nanti bagaimana dengannya? Aku harap dia selalu seperti ini suatu saat nanti. Selalu tersenyum seperti yang dia lakukan saat ini, dengan begitu aku tidak akan menyesalinya jika suatu saat nanti tuhan memanggilku.
“Sayang tendanya sudah jadi,” teriaknya dengan tersenyum girang. Aku tersenyum melihatnya yang sangat antusias sekali, baru kali ini aku melihatnya seperti itu saat melakukan sesuatu. Selama ini dia selalu serius dan sangat kaku sekali.
Tanpa berhenti tersenyum dia berjalan ke arahku dan berhenti tepat di depanku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa seluruh tubuhku terasa sangat tidak bertenaga sama sekali, dadaku terasa sangat sesak sekali dan detak jantung juga terasa sangat lambat sekali. Walaupun begitu aku masih bisa menahannya.
Di saat yang sama Ken mulai membungkuk mendekatkan wajahnya ke sisi telingaku. “I love you.” Bisiknya dengan lembut di telingaku. Aku tersenyum dan kemudian memintanya duduk di sampingku.
“Apakah kau menyukai pemandangan di sini?” tanyanya sembari duduk di sampingku.
“Em…aku sangat menyukainya.” Jawabku dengan melihat pemandangan hutan dari bukit tinggi. Ken hanya tersenyum dan merangkul bahuku mendekatinya.
“Sayang,” panggilku dengan sangat lemah. Aku mulai merasakan detak jantungku yang melemah.
Ken yang berada di sampingku menoleh. “Ada apa?” tanyanya dengan wajah khawatirnya dengan keadaanku. Aku berusa bergerak mencari posisi yang nyaman bagiku untuk duduk karena perutku yang besar.
“Aku ingin kau berjanji padaku sekarang,” ucapku yang semakin lemah.
“Jika suatu saat nanti aku melahirkan, kau harus berjanji. Apa pun yang terjadi saat itu kau harus menyelamatkan bayi kita terlebih dahulu, walaupun itu menyangkut nyawa ku.” Ucapku sembari mengulurkan jari kelingkingku ke arahnya. Namun, dia malah terlihat seakan tidak mendengarkan apa yang aku katakan padanya.
Ken membisu dan tidak berkata apa pun padaku, bahkan dia tidak ingin menatapku sama sekali. Aku bisa melihat jika saat ini dia marah padaku karena membuatnya berjanji akan hal yang tidak bisa dia lakukan.
“Sayang,” panggilku. Seketika dia menoleh ke arah ku dan memaksakan senyumannya.
“Baiklah aku berjanji,” ucapnya sembari merangkul jari kelingking ku dengan kelingkingnya. Aku berusaha tersenyum padanya, walaupun saat ini aku semakin merasakan tidak kuat lagi. Sebaliknya Ken hanya tersenyum kecut yang menyayat hati.
“Sayang ada satu lagi Yang aku inginkan darimu,” tambahku. Ken mengerutkan dahinya menatapku dengan bingung, dia kembali terlihat khawatir dengan apa yang ingin aku katakan padanya.
“Katakan apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya penasaran.
“Aku ingin kau menganggapku sebagai kunang-kunang.” Ucapku yang membuat Ken mengernyit kebingungan.
“Kenapa kunang-kunang?” tanyanya mengarut kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak mengerti kenapa aku ingin menjadi kunang-kunang.
“Karena kunang-kunang di beri kesempatan hidup hanya sebentar.” Jawabku yang semakin membuatnya mengarut-garut kepalanya kesal karena tidak mengerti sama sekali.
“Terus apa hubungannya dengan keinginanmu padaku?” tanyanya yang sangat kebingungan.
“Ada,” lirihku menahan sakit di bagian perutku.
“Apa?”
“Aku ingin kau membuat semua kenangan tentang diriku seolah terjadi di satu hari. Dengan begitu kau dapat melupakan semua tentang diriku dengan mudah, seperti kenangan yang hanya terjadi sebentar. Di mana hari itu kau hanya mengenalku di saat-saat terakhir kali aku bernafas.” Ucapku susah payah. Saat hendak menyambung kata-kataku tiba-tiba aku merasa ada cairan yang keluar dan mengali ke pahaku. Saat aku menunduk, cairan tersebut adalah darah. Aku membeku tanpa sadar aku langsung menggenggam erat tangan Ken yang berada di sampingku.
“Astaga…sayang kau pendarahan.” Ucap Ken panik saat melihat darah yang mengalir memenuhi pahaku. Dengan siap siaga Ken langsung menekan tombol darurat dari jam tangannya yang terhubung langsung ke tenaga medis. Kemudian dengan cepat Ken mengendongku menuruni bukti. Aku hanya membeku dan terpaku menatap perutku sembari membatin. Please…aku mohon biarkan bayiku selamat, aku rela kehilangan nyawaku demi keselamatan bayiku. Gelap semakin gelap dunia di penglihatanku saat ini, hingga akhirnya mataku lelah dan menutup secara perlahan.
***
Ken POV
Kedua tanganku bergetar hebat, aku tidak bisa mengendalikan diriku saat ini. Sudah hampir tiga puluh menit aku berdiri di depan pintu ruangan operasi, bolak-balik aku berjalan di depan pintu tersebut. Saking paniknya aku tidak sadar jika seluruh pakaiku penuh dengan darah.
Perlahan pintu otomatis ruangan operasi terbuka, dengan cepat aku menghampiri Andrew yang keluar dari pintu tersebut.
“Andrew bagaimana?” tanyaku langsung pada Andrew.
“Ken aku harus berbicara padamu sekarang,” ucap Andrew.
“Nanti saja kita berbicaranya, bagaimana keadaan Kim dan bayinya?” aku mendesak Andrew.
“Ken kita harus bicara sekarang,” ucap Andrew kembali yang membuat aku sangat kesal.
“Sudah aku bilang bicaranya nanti saja!” dengan keras aku membentak Andrew, aku kesal sekali padanya karena di saat seperti ini dia ingin berbicara. Aku sungguh kehilangan kendali saat ini, melihat Andrew rasanya ingin aku tonjok wajahnya itu. Sebaliknya Andrew juga terlihat kesal padaku.
“Ken tenangkan dirimu sekarang.” ucapnya yang menahan diri.
Aku semakin marah kepada Andrew, entah kenapa emosiku semakin memuncak melihatnya saat ini.
“Apakah kau sudah gila!” bentak ku kepada Andrew. “Aku tidak bisa tena_”
“Ken tolong dengarkan aku dulu!” bentak Andrew menghentikan ucapanku. “Aku harus berbicara serius dengan mu saat ini, Kim dan bayinya dalam keadaan bahaya.” Ucap Andrew yang berhasil menyadarkan aku.
“Apa maksudmu Kim dan bayinya dalam keadaan bahaya?” kedua tanganku bergetar hebat.
“Saat ini Kim mengalami pendarahan hebat, dan kemungkinan besar Kim akan mengalami serangan jantung selama operasi.” Ucap Andrew. Aku syok mendengarnya.
“Ken kami ingin kau memilih salah satu dari mereka, siapa yang ingin kau selamatkan? Aku butuh keputusanmu saat ini juga, karena waktu yang kau miliki hanya tersisa lima menit untuk memutuskan, jika tidak kami tidak bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.” Kata Andrew yang semakin membuatku gila.
Jujur saat ini aku tidak bisa memutuskan untuk memilih siapa yang ingin aku selamatkan. Jujur saja aku ingin sekali menyelamatkan Kim, tetapi aku tidak bisa melakukan itu. Jika aku memilih menyelamatkannya, Kim akan sangat marah sekali padaku saat dia sadar nanti. Dia tidak akan pernah bisa memaafkanku, aku tidak bisa melakukan semua itu.
“Selamatkan bayinya, apa pun yang terjadi kau harus selamatkan bayinya.” Ucapku dengan menutul kedua mataku.
Setelah mendapatkan jawaban dariku Andrew langsung masuk kembali ke dalam ruangan operasi. Saat membuka mata, aku melihat pintu operasi tertutup kembali dan membuat kedua lutut ku sangat lemas sehingga tidak sanggup lagi untuk berdiri.
Setelah hari itu, aku kehilangan orang yang sangat aku cintai. Semenjak hari itu aku mengalami kesedihan yang tak kunjung berakhir. Setelah hari itu aku tidak pernah melihat wajah putraku sendiri selama berbulan-bulan. Aku takut jika melihatnya akan membuatku mengingat keputusan yang telah aku ambil pada hari itu. Aku tidak ingin menyesali apa yang telah aku putuskan setelah sekian lama aku berusaha untuk melupakannya.
Sejujurnya jika bukan karena putraku Dean, mungkin aku masih terpuruk dalam kesedihan yang tiada akhir. Pertama kali aku melihat Dean secara tidak sengaja aku teringat pada Kim, mata Dean mengingatkan aku dengan mata Kim, mata seperti lautan biru yang di miliki Dean sama persis dengan mata yang di miliki Kim. Semenjak itu aku kembali bersemangat untuk menjalani hari-hariku. Bersama Dean aku bisa merasakan kehadiran Kim di dalam dirinya.
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa aku sadari aku mulai menjalani kehidupan normalku kembali berkat kehadiran Dean di sisiku, walaupun sejujurnya aku tidak bisa keluar dari kesedihan kehilangan sosok orang yang sangat aku cintai. Bertahun-tahun aku berusaha sebisa mungkin agar tidak memperlihatkan kesedihanku karena tidak bisa melupakan sosok Kim dalam kehidupan ku saat ini. hari demi hari aku jalani dengan merindukannya, dan setiap hari pula aku berkata. “I will always protect my heart for you.”
.
.
SELESAI.
.
Teimakah semuanya......telah membaca Protect My Heart sampai selesai. ❤ buat kalian.