
"Capek?" Tanya Alex sembari mengecup kening putrinya yang sedang duduk di sofa. Al menggeleng pelan. "Ayo ke rumah Om Bram Dad. Sekalian antar oleh oleh." Ajak gadis itu dengan semangat. "Tidak. Nanti biar diantarkan. Kita istirahat di rumah saja." Jawab Sang Ayah membuat Al cemberut. "Ayolah Dad...." Rengeknya sembari mengguncang lengan kekar sang Ayah. "Baiklah. Nanti setelah tidur siang." Putus Alex menuruti keinginan anaknya. "Kenapa nggak sekarang saja?" Tanya Al tidak sabaran. "Astaga sayang. Kita baru sampai. Nanti saja. Kalau tidak mau tidak jadi pergi." Tegasnya membuat Alesya akhirnya menurut.
Alex memasuki kamar Alesya. Gadis itu sudah tertidur pulas dengan TV yang masih menyala. Ia tersenyum mengamati tidur malaikat kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik dengan berjuta pesona. Pria itu mematikan TV kemudian ikut naik ke ranjang. Memeluk tubuh indah itu dengan sangat hangat hingga Al menggeliat dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sang Daddy. "Sayang. Taukah kamu jika Daddy sangat mencintai kamu. Kamu adalah segalanya bagi Daddy. Semuanya rela Daddy lakukan untuk membuat kamu tetap bersama Daddy. Cinta Daddy untuk kamu sangat besar. Bahkan tidak tersisa untuk diri Daddy sendiri. Tetaplah bersama Daddy sampai kapanpun." Gumam Alex pelan sembari mengelus rambut Alesya yang lembut.
Seorang gadis terbangun dari tidurnya kemudian mendudukkan diri dengan malas di ranjang. "Jadi tidak ke rumah Bram?" Tanya Alex menghampiri putrinya. Alesya mengangguk kemudian beranjak dari ranjang. Tubuh Alesya terhuyung karena tersandung selimut. Dengan cepat Alex menangkapnya sebelum terjatuh di lantai. "Hati hati sayang. Untung nggak jatuh." Kata Alex khawatir. "Maaf Dad. Terimakasih." Jawab Al sambil tersenyum membuat Alex gemas. "Kamu. Ayo Daddy gendong biar nggak jatuh lagi." Pria itu mengangkat tubuh Al dan membawanya ke kamar mandi. Alex meletakkannya di bathup dengan hati hati. "Daddy tunggu sambil suruh orang siapkan mob. Mandinya jangan lama lama." Tuturnya dan Alesya mengangguk.
"Sudah Siap?" Tanya Alex melihat Al sudah tampil cantik dengan pakaian casualnya. "Sudah. Ayo berangkat." Alesya menarik tangan Daddynya dengan semangat agar segera berangkat. "Pelan pelan Sayang. Jatuh kamu nanti." Tutur Alex mengimbangi langkah cepat Al.
Mobil berhenti di sebuah rumah minimalis yang begitu sejuk. Al turun dan disambut pelukan dari Bram membuat Alex langsung memisahkan keduanya. "Kenapa Sih?" Goda Bram sengaja karena tau kecemburuan sahabatnya itu. "Pikir sendiri." Kesal Alex langsung masuk tanpa dipersilahkan. "Kakak." Bayu dan Bisma langsung berlari memeluk Alesya. "Kakak. Kita kangen." Ungkap keduanya bersungguh sungguh karena sudah beberapa hari tidak bertemu Al. "Kakak juga kangen. Ini kakak bawain oleh oleh dari Bali." Al mengangkat paper bag yang dibawanya. "Makasih." Ucap keduanya sambil memeluk Alesya lagi. "Sudah pelukannya. Ayo masuk kedalam." Ajak Bram dan ketiganya mengangguk.
"Al pulang dulu ya Om." Pamit gadis itu sembari membalas pelukan hangat Bram. "Hati hati." Tuturnya dan Alesya mengangguk. Ia kemudian memeluk Bayu dan Bima bersamaan. "Besok kita ketemu lagi ya kak." Pinta kedua bocah itu. "Hm...Ok. Datang aja ke rumah. Kakak tunggu." Jawab Alesya sembari tersenyum. "Sudah. Ayo pulang." Alex bergegas menarik tangan Al untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu tak ingin berlama lama melihat kedekatan mereka.
"Dad. Mampir beli macaroon dulu ya. Al pengen." Kata Alesya saat mereka dalam perjalanan pulang. "Makan manis terus kamu. Nanti giginya rusak." Alex mencubit gemas hidung putrinya. "Ya Dad..." Tanya Alesya lagi dan Alex mengangguk. "Makasih Dad." Gadis itu begitu senang memeluk lengan Daddynya. "Cium." Tutur Alex tak mau membuang kesempatan. Al mengangguk kemudian mencium kedua pipi Alex bergantian.
Pria itu menggandeng tangan Alesya. Mengikuti kemanapun putrinya pergi. Alex tak mau berpisah lagi dengan Al. "Tuan Alex." Sapa seorang pemuda menghampiri keduanya yang sedang duduk menunggu pesanan. Napas Alex tercekat. Namun sebisa mungkin Ia menetralkannya. "Tuan Alvin." Balas pria itu ketika mendapati ancamannya sudah duduk bergabung. "Alesya apa kabar?" Tanya Alvin tersenyum ramah. "Baik. Om sendiri?" Tak ingin dianggap tidak sopan Al balas bertanya. "Baik. Jangan panggil Om. Panggil Kakak saja. Usia kita hanya terpaut empat tahun." wajah Alex memucat seketika mendengar apa yang baru saja pemuda itu ucapkan. Alesya mengangguk sambil tersenyum. "Kakak sama siapa?" Tanya Al. "Sendiri. Beli macaroon buat Mami. Mami kakak suka banget sama Macaroon." Alex hanya memperhatikan keduanya yang sedang mengobrol. Ia tak ingin memancing kecurigaan. Bersikap biasa saja adalah jalan yang paling baik. "Al Juga suka. Suka banget malah. Paling suka sama yang coklat dan cream cheese." Alvin menatap gadis di depannya. Seleranya sama dengan Mami. "Sayang. Ayo pulang. Pesanan kita sudah sampai." Alex berdiri sembari meraih paper bag yang diantarkan pelayan. "Kami duluan Tuan." Alex berpamitan. "Kita pulang dulu kak." Kata Al. "Ah iya. Hati hati." Balas Alvin sambil memandang kepergian keduanya.