
Semuanya tersenyum melihat Al kini sudah mau keluar dari kamarnya. Ia tampak berjalan menuju ruang makan sembari diikuti suaminya. "Selamat pagi sayang." Sambut mereka kemudian mencium Al bergantian. "Pagi." Jawabnya sembari tersenyum. "Pagi Mi. Pi." Sapa Alex mencoba untuk akrab. "Pagi. Ayo duduk. Kita sarapan sama sama." Ajak Mami memecahkan kecanggungan.
"Mau sarapan pakai apa?" Tanya Alex lembut pada sang istri. Al tidak menjawab. Ia hanya menunjuk nasi goreng dan Alex bergegas menyiapkannya. Semua perhatian pria itu yang diberikan pada Alesya tak luput dari pengamatan orang orang. "Sayang. Nanti jalan jalan sama Mami ya?" Alesya mengehentikan makannya sejenak. "Kemana?" Tanyanya sembari menatap sang Mami. "Ke Mall. Ada beberapa barang yang harus Mami beli. Kamu temani Mami ya." Jawabnya dan Alesya mengangguk.
Semuanya sudah membubarkan diri. Hanya tersisa Alex dan Alesya yang masih berada di ruang makan. Pria itu menatap istrinya. "Pakai ini untuk membeli apapun yang kamu suka." Alex meyerahkan black card untuk istrinya. "Tidak perlu." Jawabnya dingin. "Aku mohon. Terimalah. Aku berangkat dulu. Baik baik di rumah. Aku mencintaimu." Alex berdiri kemudian mencium kening istrinya sekilas sebelum pergi.
Al dan Maminya kini sudah berada di Mall. Keduanya tampak asyik berbelanja berbagai kebutuhan. Mami senang akhirnya anaknya bisa tersenyum dan mulai berdamai dengan keadaan. "Kita beli apalagi sayang?" Tanyanya. "Eskrim Mi. Al pengen." Katanya langsung mendapat anggukan.
Alex sekarang sedang berbicara dengan Bram di ruangannya. Kedua pria itu nampak hanyut dengan obrolan mereka hingga seorang pria datang. "Nyonya masih berada di Mall bersama Maminya Tuan." Lapor pria itu langsung mendapat anggukan dari Alex. "Sudah mau keluar?" Tanya Bram saat bodyguard Alex pergi. "Iya. Hari ini sudah mau keluar." Jawabnya. "Ada rencana tinggal di rumah sendiri atau tetap bersama mertua?" Tanyanya membuat Alex menggeleng pelan. "Aku juga bingung. Aku ingin tinggal hanya berdua dengan istri. Namun entah mertuaku rela atau tidak." Jawabnya. "Coba bicarakan. Tinggal bersama mertua itu tidak enak. Banyak canggungnya." Kata Bram dan Alex mengangguk setuju.
Malam hari Alex dan Al sudah sampai di rumah mereka. Pria itu menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam. Alesya membiarkan itu terjadi. Bagaimanapun Alex sudah menjadi suaminya sekarang. "Tunggu." Kata Al menghentikan langkah suaminya. "Ada apa? Kamu mau sesuatu sayang?" Tanyanya dengan lembut seperti biasa. "Aku mau mie ayam." Jawabnya cepat. "Ini sudah malam lo. Sudah jam sembilan. Besok saja ya. Lagipula tadi kamu sudah makan kentang girang dan burger." Tutur Alex sembari menangkup wajah sang istri. "Tidak mau. Maunya sekarang." Kata Al tidak bisa di bantah lagi. "Baik. Aku suruh orang belikan." Jawabnya sambil tersenyum.
Alex mengahmpiri Al yang sedang duduk sembari menonton TV. Pria itu sangat bahagia karena perlahan Alesya mulai menerima dirinya. "Ayo makan." Kata Alex sambil mendudukkan diri di samping sang istri. "Aku suapi." Lanjutnya membuat Al pasrah. Pria itu menggulung mie dengan garpu kemudian meniupnya hingga dingin sebelum di siapkan pada Alesya. "Tambahkan saosnya. Ini hambar." Protes Al. "Jangan. Nanti perut kamu sakit." Alex menolak dengan cepat. "Sedikit saja." Al memohon. "Baiklah."
Sepasang pengantin baru itu sedang tidur bersama. Alex mendekap tubuh Al dengan hangat. Membawa wanita itu tenggelam dalam pelukannya. "Tidak bisa tidur ya?" Tanya Alex dan Al mengangguk lemah. "Maaf." Kata Alex membuat Alesya mendongak menatap suaminya. "Sudah terlanjur terjadi. Mau di sesali juga tidak akan ada yang berubah." Jawabnya membuat hati Alex tertohok. "Aku tidak bisa mengendalikan diri karena terlalu lama menahannya. Aku minta maaf." Kata pria itu jujur. Alesya mengangguk lemah membuat Alex tersenyum. Setelah sekian lama menanti maafnya di terima dan malam ini terjadi. "Terimakasih Sayang." Pria itu mencium bibir Al yang begitu menggoda.