Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Masih di Puncak



Pagi hari cuaca begitu cerah dan sejuk. Al dan suaminya berjalan jalan di sekitar Villa setelah selesai sarapan. Keluarga kecil itu beberapa kali berhenti karena banyak para pemetik teh yang menyapa mereka. "Wah anaknya ganteng. Ibunya cantik." Kata ketiga ibu ibu menggoda Baby Askar. "Terimakasih Bu." Jawab Al sembari tersenyum ramah. "Kami ke kebun dulu ya." Pamitnya setelah ngobrol sebentar. "Iya Ibu. Hati hati." Alesya menggerakkan tangan anaknya. "Ayo ke kebun teh Mas." Ajak Al namun suaminya dengan cepat menggeleng. "Jalannya licin Yang. Nanti kamu jatuh. Apalagi sedang gendong Askar begini." Jelas Alex membuat istirnya mengangguk.


Alex menggenggam tangan istirnya di sepanjang perjalanan. Pria itu tak mau melepaskan tangan lembut Al padahal Istirnya sudah protes berkali kali. Mata Al berbinar ketika melihat sungai jernih yang begitu dangkal di samping jalan. "Ayo kesana Mas." Ajaknya dan kali ini Alex setuju. Ia menuturi Istrinya agar hati hati sembari berjalan menuju kesana.


Alesya berdiri di tepian menikmati udara begitu sejuk yang jauh dari polusi dan kebisingan Ibu kota. Liburan disini begitu menenangkan. Suaminya begitu perhatian hingga menyiapkan tempat jika sewaktu waktu bisa dirumah bisa berlibur kesini. "Makasih Mas." Kata Al berbalik kemudian membalas pelukan suaminya. "Untuk...?" Tanya Alex sembari mengangkat kedua alisnya. "Terimakasih sudah ajak aku sama Askar berlibur kesini. Aku seneng." Al menatap suaminya kemudian mencium pipi pria itu sambil berjinjit membuat Alex tersenyum. "Sama sama Sayang. Asal kamu bahagia apapun aku lakukan." Ungkap Alex dengan tulus sembari mengecup bibir Istrinya berkali kali.


Siang hari Al sedang menemani suaminya berenang. Ia duduk di tepian sembari memangku Askar yang begitu antusias dengan air. "Nggak dingin Mas?" Tanya Al ketika pria itu muncul di depannya. "Enggak. Airnya nggak dingin kok." Jawab Alex. "Mau ikut berenang? Sini." Ia hendak meraih tubuh putranya namun dengan cepat di jauhkan oleh sang istri. "Nanti kedinginan." Al berlalu pergi meninggalkan suaminya untuk duduk di bangku yang tak jauh dari sana. Ia membiarkan Askar merangkak di rerumputan sembari mengawasi dengan cermat kalau kalau putranya itu mendekati kolam. "Hey...Jangan di makan rumputnya." Alesya langsung menggendong bayi itu dan membuang beberapa helai rumput yang dicabut Askar. "Mas. Berenangnya udahan dulu. Kamu demam nanti." Tutur Al dan pria itu langsung melaksanakan titah Istrinya.


"Tidur Mas. Kamu kecapean." Kata Al sembari mengusap punggung suaminya dengan lembut.


Sejak tadi Askar begitu rewel karena badannya panas. Al sudah memberi obat sirup dan plester demam pada putranya. "Belum turun juga panasnya?" Tanya Alex ikut susuk merangkul sang istri. "Sudah lumayan. Kamu makan dulu gih. Aku sudah siapkan." Alex menggeleng. "Aku makan nanti sama kamu." Jawab pria itu. Alesya hanya diam sambil mengelus punggung anaknya agar tidur.


Sepasang suami istri itu baru bisa makan bersama setelah anaknya benar benar tidur dengan pulas. "Tumben masak kentang Yang. Biasnya nggak pernah." Alex berkata dengan mulut penuh. "Iya. Lagi pengen aja. Lagian bahannya juga ada. Kenapa nggak enak ya?" Tanya Al. "Enak kok. Enak banget. Masakan kamus semuanya enak." Jawab Alex dengan jujur. "Mas. Om Bram nggak ada niat pengen nikah apa?" Alex menggeleng. "Nggak tau. Kalau aku tanya sih katanya nggak mau nikah lagi. Kamu kenapa tanya begitu?" Alex cemburu istrinya menanyakan pria lain meskipun itu sahabatnya sendiri. "Nggak. Dia kan sudah menduda lama. Kali aja mau nikah." Al memasukkan sesendok makanan ke mulut suaminya. "Istrinya Om Bram orang mana sih Mas? Nggak pernah cerita." Alex menelan makanannya. "Istri Bram itu teman kuliah kita dulu. Bram lama pacaran akhirnya nikah hingga mereka dikaruniai dua anak. Suatu ketika Bram tau Istrinya selingkuh dan ternyata perselingkuhan mereka sudah lama bahkan sebelum adanya Bayu. Bram sangat kecewa lalu menceraikan istrinya. Tak lama kemudian mantan istrinya itu menikah sama selingkuhannya dan pergi entah kemana tidak bertanggung jawab pada anaknya." Jelas Alex membuat Alesya merasa kasihan.