Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Satu Aja Cukup



Hari ini Alesya mengunjungi rumah orang tuanya di temani sang suami dan juga anak untuk mengantar oleh oleh. "Sayang." Mereka yang tadinya duduk langsung berdiri dan memeluk Al ketika melihat kedatangan wanita itu. "Lama banget ke puncaknya. Mami kangen tau." Al tersenyum. "Ini oleh olehnya." Kata Alex memberikan pada Iparnya. "Makasih ya." Pria itu mengangguk sembari tersenyum. "Ikut Opa yok sayang." Papi hendak meraih cucunya namun Askar merengek. "Lagi rewel Pi. Badannya masih anget. Kemarin panas dia." Jelas Al membuat Papinya mengurungkan niat. Daripada membuat cucunya tak nyaman Ia lebih memilih tetap membiarkan Askar nyaman dalam gendongan Ibunya. "Kamu sakit sayang. Kalo sakit di rumah saja dong. Biar kami yang kesana." Kata Mami khawatir. "Nggak papa Mi." Jawab Al.


Mereka duduk sembari mengobrol di ruang keluarga. Askar merengek lagi. "Kenapa? Mau kemana?" Tanya Al sembari berdiri. "Ke depan mau?" Wanita itu berjalan untuk menenangkan putranya yang sedang rewel. "Repot banget ya Lex istri kamu." Kata Mami. "Hm...Iya Mi. Askar nggak mau diajak orang lain selain Ibunya. Sama aku ada juga begitu." Jawab Alex sembari terkekeh. "Kok balik lagi? Nggak mau di luar ya?" Tanya Papi melihat kedatangan putrinya. "Mau minta kunci mobil Pi. Mau ambil biscuitnya Askar." Jawab Al. "Biar aku yang ambilkan. Kamu duduk aja." Alex bergegas pergi.


Beberapa saat pria itu kembali sembari membawa dus kecil dan di berikan pada sang istri. "Makasih Mas." Al langsung membuka dan membagikan kepingan biscuit pada anaknya. "Sama sama." Balas Alex sembari tersenyum. Baby Askar begitu lahap makan di pangkuan Ibunya. "Nggak pakai susu?" Tanya Alvin pindah duduk di samping adiknya hingga membuat Mami tergeser. "Nggak kak. Begini dia sudah suka." Al membersihkan pipi anaknya beberapa kali agar tidak berantakan. "Kamu kenapa sih Vin. Pindah Sana." Kesal mami sembari memukul lengan anaknya. "Mami sudah daritadi disini. Ngalah dikit dong." Jawabnya membuat wanita itu kesal.


Baru saja selesai makan siang. Askar sudah menangis. Al sudah membawanya berkeliling sampai lelah tapi tidak kunjung tenang juga. "Kenapa hm? Kasian Bunda. Berhenti nangis ya." Kata Alex kasihan melihat istrinya yang kerepotan. "Mau pulang apa?" Tanya Al. "Kayanya mau pulang Mi. Kita pamit dulu ya." Lanjutnya berpamitan. "Tidak menginap?" Tanya Mami dengan sedih. "Maaf Mi. Lain kali mungkin. Askar nggak mau tenang soalnya." Mereka hanya mengangguk pasrah. Tidak bertemu Al berhari hari tentunya rindu. Mereka mengira hari ini Putrinya akan menginap tapi ternyata tidak. "Hati hati ya." Mami memeluk Al diikuti suami dan putranya.


Al menurunkan anaknya di karpet menitipkan pada Bayu dan Bima karena Ia akan ke dapur sebentar untuk membuat minum. "Istri Om mana?" Tanya Alex duduk bersama Bram. "Lagi bikin minum di dapur Om." Jawab keduanya kompak.


Al melangkah dengan cepat karena mendengar tangisan anaknya. Wanita itu buru buru meletakkan nampan di atas meja dan meraih Askar dari gendongan sang Ayah. "Kenapa hm?" Tanya Al sembari menepuk punggung putranya dengan lembut. "Cariin kamu." Jawab Bram. "Kayanya ngantuk. Aku bawa ke kamar dulu. Itu minuman sama kuenya Om. Bayu sama Bima juga." Kata Al dan mereka mengangguk. Bayu dan Bima meraih gelas orange jusnya kemudian mengikuti Al. "Ngapain kesini?" Tanya Alex. "Mau bilang terimakasih oleh olehnya. Tadi kan belum sempat." Jawab Bram membuat Alex melengos. "Punya anak satu aja repot. Gimana kalau 2, 3, atau 4." Kata pria itu sembari terkekeh. "Nggak. Satu aja cukup. Nggak mau nambah." Jawabnya dengan cepat. "Eh...Nanti kalau Al pengen anak cewek gimana?" Bram menyipitkan matanya membuat Alex sebal. Tawa Bram meledak ketika sahabatnya itu melempar bantal dengan kesal.