
Al menghampiri suaminya. Wanita itu menitipkan putranya sebentar pada Alex karena Ia pergi ke dapur untuk mengambil makanan untuk Askar. "Askar mana Mas?" Tanya Al tidak mendapati sang buah hati. "Coba tebak dimana?" Alex malah balik bertanya seakan memberikan teka teki pada Alesya. Wanita itu menggeleng pelan hingga tangisan seorang bayi terdengar di sekitanya. "Astaga." Alex membuka lemari meja dan muncullah Askar yang merangkak keluar dengan tangisannya. "Keterlaluan kamu." Kesal Al langsung meraih tubuh Askar dan menggendongnya. Ia menimang anaknya itu sampai akhirnya terdiam. Mengusap lembut kedua pipi gembul itu untuk menghapus air mata. "Maaf Sayang." Alex merengkuh tubuh Istrinya. "Maafkan Ayah nak." Kata Alex sembari mengelus lembut kepala Askar.
"Pinter." Kata Al karena Askar menghabiskan makanannya. "Tambah berat ya." Alex mengangkat tubuh putranya tinggi tinggi membuat Askar tertawa. Al hanya tersenyum. Ia melangkah menuju dapur untuk mencuci bekas tempat makan Askar.
"Biar saya saja Non." Kata Bibi melihat Al sibuk dengan kegiatannya. Ia takut nanti Alex akan marah karena membiarkan Al mengerjakan pekerjaannya. "Nggak papa Bi. Cuman sedikit." Jawabnya sambil tersenyum. "Bi. Bibi tau gethuk nggak?" Tanya Al. "Tau dong Non. Itu makanan daerah Bibi. Dari singkong sama gula. Non mau?" Tanyanya dan Al mengangguk semangat. "Tapi sudah izin Pak Alex belum?" Bibi tak mau mengambil resiko karena Alex sangat menjaga makanan istrinya. "Sudah. Boleh kok." Bibi mengangguk mendapat jawaban dari Al.
Al menghampiri suami dan anaknya dengan senyum yang mengembang. Wanita itu tiba tiba saja memeluk suaminya dengan erat membuat Alex sedikit terkejut sekaligus senang. "Ada apa hm?" Tanyanya sembari mengecup pipi Al dengan gemas. "Mau izin ke pasar. Boleh ya Mas?" Tanyanya dengan wajah di buat seimut mungkin. "Enggak." Jawab Alex tegas sembari memalingkan wajahnya karena takut terjerumus dalam pesona sang istri. "Ayolah Mas." Kata Al terus merengek sembari memeluk lengan suaminya. "Memangnya mau beli apa sih?" Tanya Alex. "Mau beli singkong. Kan kalau mau bikin gethuk bahannya itu. Boleh ya?" Alex mengangguk pasrah. "Aku ikut." Tegasnya dan Al mengangguk kemudian mengecup pipi suami dan anaknya bergantian.
Askar sedaritadi merengek dalam gendongan Ayahnya. Bayi itu ingin di gendong oleh Al tapi Al sendiri sedang sibuk berbelanja. "Duh Sayang. Sini sini." Al meraih tubuh anaknya membuat bayi tampan itu tenang. "Gula merah sama daun pandan sudah. Singkongnya yang mana sih Mas?" Tanya Al tidak mengerti. "Yang itu." Tunjuknya pada salah satu pedagang yang ada di sekitar mereka.
Al kini sedang memijit kepala suaminya sembari memangku Askar. Sampai di rumah pria itu mengeluh pusing dan langsung muntah muntah. "Sudah enakan?" Tanya Al dan suaminya mengangguk lemah. Alex memiringkan posisi tubuhnya kemudian memeluk pinggang sang istri. "Aku nggak mau ke pasar lagi. Bau." Keluhnya. Al hanya bisa menghela napasnya. Ia mengelus kepala suaminya dengan lembut "Mas. Kamu sudah nggak papa kan? Aku ke dapur dulu ya." Tanya Al namun pria itu malah mengeratkan pelukannya. "Kamu disini aja. Temani aku. Aku masih pusing." Alesya menghela napas. "Agak geser kalau gitu. Biar Askar ikut tidur sekalian." Alex dengan malas melepaskan pelukannya di pinggang Al. Ia menggeser tubuhnya. Alesya membersihkan tangan dan kaki Askar dengan tissue basah. Ia kemudian menyusui sambil tiduran di samping suaminya. "Enak ya kamu. Tiap hari minta nennen mulu." Alex dengan usil mencabut cucu dari mulut anaknya membuat Askar menangis. "Mas." Tegur Al kesal karena Alex selalu saja usil. "Ya. Teruskan saja. Bunda sekarang malah sering omelin Ayah karena bela kamu." Pria itu berkeluh kesah saat anaknya sudah tenang dengan mulut yang tak berhenti menyesap. "Kontraknya habis kapan Yang?" Tanya Alex membuat Al mengangkat kedua alisnya karena bingung. "Maksudnya. Askar nanti minum ASI sampai kapan? Masa Ayahnya selalu bekas dia terus." Katanya sambil cemberut. "Entah. Sampai ASI-nya nggak keluar lagi. 5 tahun mungkin." Al menjawab dengan Asal membuat pria itu melotot. "Masa aku harus berbagi dengannya selama itu." Katanya sambil mendengus sebal.