Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Tak Berjudul



Tak terasa sudah tujuh belas tahun Alesya menjadi seorang Ibu. Askar tumbuh menjadi remaja yang tampan dan kini tengah duduk di bangku kuliah semester awal. Semenjak kelahiran adik perempuannya Abila sikap Askar menjadi dingin. Ia hanya bersikap hangat pada Ibunya saja. Menurut Askar kini semua perhatian hanya tercurahkan pada sang adik. Ia merasa tersisihkan sebagai anak pertama. Hanya Bundanya lah yang bersikap adil dan selalu menyayanginya.


"Sayang. Sudah jam setengah tujuh. Bersiaplah kamu ada kuliah pagi." Suara lembut itu membuat Askar tersenyum saat mendengarnya setiap pagi. "Beri aku ciuman Bun." Katanya sambil mendudukkan diri. Alesya menghampiri putranya kemudian duduk di tepi ranjang sembari memeluk putranya yang sudah merentangkan tangan. Wanita itu mengecup kedua pipi dan kening Askar bergantian. "Sudah. Bergegaslah mandi. Bunda tunggu di bawah untuk sarapan." Pesannya sebelum pergi hanya di jawab anggukan.


"Pakaikan dasiku Yang." Alex menghampiri istrinya yang sudah siap di meja makan bersama Abila. "Daritadi belum siap juga." Kata Wanita itu berdiri kemudian segera mengikat dasi suaminya. "Bun. Nanti Bila pulangnya agak sorean ya. Bila ada kerja kelompok." Kata Gadis cantik itu. "Kerja kelompok dimana?" Al memastikan. "Di rumah teman Bila yang dekat sekolah." Jawabnya. "Al mengangguk. Nanti kalau sudah pulang segera hubungi biar di jemput." Pesannya pada sang anak.


Askar ikut bergabung duduk di dekat Bundanya seperti biasa. "Kamu berangkatnya sekalian antar Adek kamu ya." Kata Sang Ayah mencoba lagi meskipun tau jawaban putranya akan seperti apa. "Nggak ah. Askar mau cepat cepat. Askar naik motor Yah." Ucapnya membuat Bila menunduk. Gadis itu juga menyadari jika sang kakak tidak menyukainya. Al mengelus pundak anaknya membuat Bila mengangkat pandangan dan tersenyum.


Alesya duduk di sofa setelah mengantar suaminya berangkat sampai ke depan. Ia menghela napas berkali kali memikirkan bagaimana cara menyatukan dua anaknya. Bukan tidak berusaha. Ia bahkan sudah mencoba berkali kali tapi hasilnya nihil. Askar malah semakin dingin pada adiknya. "Ouh astaga. Kenapa jadi begini." Keluh wanita itu sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Bukan hanya itu yang menjadi beban. Putranya semakin hari semakin kelewatan. Askar selalu pulang malam entah darimana dan sering membantah juga pada sang Ayah. Perubahan sikap itu sangat ketara saat Askar beranjak remaja.


Al baru saja pulang mengantarkan makan untuk suaminya di kantor. Wanita itu cukup terkejut karena ada beberapa motor parkiran rumah. "Bunda." Askar langsung memeluk ibunya begitu wanita itu masuk ke dalam. "Eh Sayang. Sudah pulang." Tanyanya dan Askar mengangguk. "Bunda kamu Kar? Bunda atau kakak?" Bisik salah satu temannya membuat Al tersenyum. "Tante Bundanya Askar." Kata Al. Mereka tersenyum kemudian mencium tangan Alesya sambil memperkenalkan diri satu persatu. "Oh. Bayu, Yuda sama Rendra ini satu kelas?" Tanya Jihan dan ketiganya mengangguk. "Rendra tidak satu kelas Tan. Tapi dia sering main sama kita." Jawab Bayu. "Ayo makan siang dulu. Tante masak banyak tadi." Ajaknya. "Ayo." Askar mengikuti langkah bundanya.


Mereka makan sambil mengobrol ringan. Al tampak antusias mendengar cerita teman putranya. Teman teman Askar begitu santai dan nyaman dengan Al yang ramah serta enak diajak bicara. Wanita itu sangat mengerti dengan dunia remaja dan bagaimana cara membuat merek terbuka. "Jadi Tante ini nikahnya dulu masih muda? Pantas saja lebih cocok jadi kakaknya Askar." Al mengangguk. "Tante dulu menikah usia tujuh belas setelah lulus kuliah. Jarak usia Tante dan Ayahnya Askar jauh." Jelasnya membuat mereka semua mengangguk paham.