Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Luka dari Alex



Alex baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu mengangkat panggilan yang masuk. "Ya dengan saya sendiri." Ucap pria itu sambil menumpuk Map yang sempat yang di tandatangani nya. "Baik." Jawabnya kemudian segera bergegas pergi.


Sebuah mobil terparkir mulus di depan kantor polisi setempat. Sosok pria turun kemudian mulai berjalan masuk dengan langkah tegapnya. "Pak Alex." Ucap seorang polisi menyambut kedatangan Alex dan mempersilahkan pria itu untuk duduk di samping putranya. "Ada apa pak?" Tanyanya meminta penjelasan. Pria berseragam itu menjelaskan Jika Askar telah terjaring razia balap liar beberapa kali. Alex mengangguk. Ia tampak santai tapi berbeda dengan gejolak emosinya di dalam hati.


Alex memasuki rumah diikuti putranya yang berjalan di belakang. "Duduk." Tegas pria itu membuat anaknya hanya menurut. "Ada apa Mas?" Tanya Al melihat suaminya sudah dengan wajah marah. "Lihat anak kamu itu. Sudah jadi berandalan. Ikut ikutan balap liar. Mau jadi apa kamu?" Bentak Alex memenuhi ruangan. "Mas. Bicarakan baik baik." Alesya berusaha meredam emosi suaminya yang sudah sampai puncak. Pria itu sebenarnya sudah berulang kali mendapat laporan tentang kekacauan anaknya namun selalu saja sang Istri yang datang karena Ia tak peduli. "Ini didikan kamu selama ini? Lihat dia. Buat malu saja. Contoh adik kamu itu. Belajar yang benar. Cukup sudah dengan kehidupan liarmu itu." Alex menyalahkan istrinya juga. "Ayah. Ini bukan salah Bunda. Bunda sudah mendidik Askar dengan baik." Ucapnya menggenggam erat tangan wanita yang begitu dicintainya itu. "Diam. Kalian sama saja." Ucap Alex dengan nada tingginya. "Ayah. Seharusnya ayah sadar jika Ayah juga bersalah disini. Ayah tidak pernah peduli denganku. Ayah sibuk sendiri dengan anak perempuan kebanggaan ayah itu. Ayah selalu membandingkan kami dan menyuruhku untuk sama seperti nya. Ayah, kami berbeda. Disini yang peduli dengan Askar hanya bunda." Ucap Askar dengan lantang mengeluarkan semua isi hatinya. "Aku tidak yakin kamu itu anakku. Dasar kurang ajar." Alex hendak menampar putranya lalu di halangi oleh Al. "Bunda." Askar memeluk Bundanya yang baru saja tertampar kencang beberapa detik yang lalu. "Kamu bilang apa Mas? Baiklah jika kamu tidak mengakui darah daging mu sendiri. Kini aku jadi tau seperti apa kamu itu." Ucap Al menatap nanar suaminya. "Sayang. Aku....Aku salah bicara. Aku hanya emosi. Aku tidak bermaksud. " Ucapnya penuh penyesalan. "Ayah keterlaluan." Teriaknya segera membawa Sang Ibu pergi dari sana.


Askar dan Sang Ibu kini sudah berada di salah satu unit apartemen. "Kita disini dulu Bun. Biar bunda tenang." Ucapnya memeluk wanita itu. "Maafkan Askar selalu membuat masalah. Maafkan Askar karena membuat Bunda kesulitan dan terluka." Ucapnya penuh penyesalan. "Sudah sepatutnya seorang Ibu itu melindungi anaknya nak." Jawab Al mengusap pipi Anaknya yang tampak basah.


Alex berhasil membawa istri dan putranya pulang. "Kamu langsung tidur ya." Ucap Al mengecup pelan kening Askar. "Bunda juga." balasnya kemudian bergegas masuk ke kamar. "Bunda darimana?" Tanya Bila menghampiri Ibunya. "Bunda sedang ada urusan bersama Kakak. Kamu tidur ya. Ini sudah malam." Bila mengangguk kemudian segera pergi ke kamarnya setelah mendapat pelukan dan kecupan dari Sang Ibu.


Al tidur memunggungi suaminya. Ia tak peduli pria itu memeluknya dengan erat sambil menggoda. "Aku minta maaf." Ucap Alex ke sekian kalinya namun tetap tidak mendapat jawaban dari sang istri. Tangan Alex mulai masuk ke baju tidur Alesya. "Kamu apaan sih." Kesal Al menyingkirkan tangan suaminya yang sudah masuk ke bawah sana. "Aku minta maaf." Ucapnya lagi. "Ya. Jangan menggangguku." Ucap wanita itu sambil memejamkan matanya.