
Pagi Ini sepasang ayah dan anak itu telah berada di pesawat pribadi. Mereka akan terbang menuju ke pulau Dewata Bali. Berlibur untuk beberapa hari kedepan. "Selamat datang Tuan. Nona." Sapa pramugari dengan ramah sembari melembutkan suaranya untuk menarik perhatian Alex. Alesya menahan tawa melihat wajah Daddynya yang terlihat kesal. Pria itu tak menjawab buru buru membawa Al ke kamar pribadi yang telah tersedia.
Alesya melepas tawanya saat sudah sampai di kamar membuat Alex mendengus sebal. "Daddy. Kenapa setiap perjalanan Daddy selalu dia yang ditugaskan. Atau Daddy sendiri yang meminta?" Tanyanya tanpa berhenti tertawa. "Diamlah Sayang. Ini tidak lucu sama sekali." Kesal Alex memeluk putrinya dengan erat. Pria itu menggelitiki Alesya dan membawa gadis itu di ranjang. "Daddy tidak suka? Boleh Lo kalau Daddy mau menjadikannya Mommy Alesya." Katanya sambil mengedipkan mata menggoda. "Wah Kamu meledek Daddy. Daddy nggak sudi Sayang." Alex membuat Alesya tertawa lagi karena tangannya menggelitik perut Alesya. "Ampun Dad. Al capek." Keluhnya membuat Alex akhirnya berhenti. "Mau kemana Sayang?" Tanyanya melihat sang putri beranjak. "Mau ngemil." Ia membuka tas kecil di atas meja dan mengeluarkan beberapa coklat. "Sudah Daddy bilang jangan makan coklat banyak banyak." Sam menarik tangan Al untuk kembali ke ranjang. Alesya memakan coklat dengan lahap membuat Alex mengecup pipinya gemas. Pria itu tiba tiba mendorong tubuh Alesya dan mengapitnya dengan kedua kaki agar Al tidak memberontak. Ia tak peduli ketika Al terus makan dalam pelukannya.
Beberapa menit berlalu. Alesya sudah tertidur pulas sambil tangan yang masih menggenggam coklat. Alex tersenyum. Pria itu mengambil beberapa tissue basah. Membersihkan mulut dan tangan Al dengan lembut dan hati hati. "Selamat tidur Sayang." Gumam Alex ikut berbaring memeluk tubuh Alesya.
Mereka telah tiba di bandara. Alex menggendong tubuh Alesya dan masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan. Gadis itu masih tertidur pulas. Tak terusik dengan apapun. "Um...." Alesya tiba tiba terbangun. "Tidurlah lagi Sayang. Kita masih belum sampai di Villa." Kata Alex sambil mengusap kepala Al yang berada di pangkuannya. Gadis itu mendongak menatap Sang Ayah yang juga menatapnya. "Coklat Al mana Dad?" Tanyanya. "Sudah cukup. Gigi kamu rusak nanti kebanyakan makan coklat." Tegas Sam. "Dad..." Al mulai merengek. "No sayang. Sudah cukup." Jawab Alex tak goyah.
Alesya langsung berlari ke dalam dan merebahkan tubuhnya di sofa dengan nyaman. "Mandi dulu Sayang. Setelah itu makan." Alex menghampiri putrinya. "Nanti saja ya." Gadis itu mencoba bernegosiasi. "No. Sekarang sayang. Daddy bawakan baju kamu sampai ke kamar." Alex mulai menarik tangan putrinya dengan lembut.
Selesai mandi keduanya makan siang bersama sambil menikmati pemandangan pantai dari balkon. "Buka mulutnya." Alex mencoba membujuk Al yang sedaritadi tidak mau makan. "Aku masih kenyang Dad." Jawabnya. "Kenyang makan apa?" Kamu belum makan sedaritadi. Ayo buka mulutnya. Kalau tidak Daddy nggak kasih ijin kamu makan coklat lagi." Ancamnya membuat Al mau tidak mau menurut. "Kita nanti ke pantai kan Dad?" Tanya Alesya setelah menelan makanannya. "Iya. Itu di hadapan kita." Jawab Alex. "Kita surfing yuk Dad." Ajak gadis itu seketika Alex menolak. Ia tak mau putrinya menjadi pusat perhatian. "Ayolah Dad. Sudah lama." Pintanya sambil terus merengek membuat Alex menghela napas kemudian mengangguk. "Tidak gratis Sayang. Cium dulu." Katanya dan Alesya langsung mencium kedua pipi pria itu.
Tak terasa malam telah datang. Alex menuruti keinginan Alesya. Kini mereka tangah berada di night market Sanur. Pria itu tak berhenti menggenggam tangan Al karena takut keduanya terpisah di suasana yang ramai. "Dad. Al mau itu." Tunjuknya pada penjual kue. Alex mengangguk kemudian menggandeng tangan putrinya menuju kesana.
Alex tersenyum mengamati Al yang sedang sibuk makan. "Sebentar ya. Daddy angkat telpon dulu." Kata Pria itu dan Al mengangguk. Alex kemudian mencari tempat yang agak sepi.
"Bagaimana?" Tanya pria itu setelah berjalan cukup jauh. "Bagus jika mereka tidak curiga. Jika ada sesuatu lagi segera kabari aku." Perintah pria itu kemudian mengakhiri panggilannya.
Alex kembali lagi ke tempat semula. Pria situ panik karena Alesya tidak ada di bangku tempat keduanya duduk. "Sayang." Panggil Alex sambil mencari di sekitar. Ia sudah mencari kesana kemari namun tidak membuahkan hasil. Ponsel gadis itu tidak bisa di hubungi serta pelacak tidak berfungsi karen Al tidak menggunakan jam tangannya. Alex meneteskan air matanya. Buru buru Ia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari putri tercinta. "Kamu dimana Sayang.?" Gumamnya merasa sangat takut dan cemas.
Alex mondar mandir sambil menunggu kabar dari para bawahannya. sudah jam 11 malam namun putrinya belum juga ditemukan. "Bagaimana?" Tanyanya saat salah satu pria datang menghampiri. "Sudah kami cari tapi belum ketemu Tuan. Kami juga sudah memperluas tempat pencarian." Lapornya. "Kerahkan semuanya. Aku ingin putriku kembali secepatnya. Ini kesalahan kalian. Padahal aku sudah perintahkan untuk menjaga putriku dari jarak jauh tapi kalian lalai. Kalian harus menemukannya dalam kondisi baik. Jika tidak tanggung sendiri akibatnya. Aku tidak segan membunuh siapapun yang memisahkan aku dengan putriku." Tegas Alex membuat pria itu bergegas pergi.