
Alex celingukan mencari keberadaan putrinya di kamar. Ia menyuruh Al untuk mandi dan berganti baju sebelum makan siang. "Sayang. Kamu kok belum mandi sih." Alex menghela napas melihat Al baru kembali dari balkon dengan pakaian yang sama. "Mandi dulu. Daddy tunggu. Kita makan siang." Tuturnya sembari memeluk sang putri. "Nanti saja ya Dad. Al lapar. Kita makan dulu saja." jawabnya mencoba bernegosiasi. "Baiklah. Daddy nggak tega kalau kamu kelaparan. Ayo makan. Daddy gendong." Katanya membuat Al menyipitkan mata. "Daddy capek nanti." Alesya mencoba menolak. Ia kasihan pada Alex. "Kamu meragukan Daddy. Tiap hari kalau kamu ketiduran waktu nonton kan juga Daddy gendong kamu." Alesya mengangguk membenarkan. "Gendong belakang." Kata gadis itu sambil tersenyum. "Baiklah. Ayo."
"Daddy. Kenapa tidak pakai lift saja. Kan capek harus turun tangga." Al heran dengan Daddynya. "Daddy nggak capek Sayang." Pria itu tersenyum karena sedaritadi Alesya mengomel. "Dad. Hati hati. Nanti jatuh." Tuturnya saat mereka berada di tengah tengah. "Iya Sayang. Jangan khawatir." Alex mencoba meyakinkan putrinya.
Sampai di ruang makan Pria itu mendudukkan Al dengan hati hati di kursi. Ia bergegas menyiapkan makan di piring besar karena seperti biasa keduanya akan makan dalam satu piring. "Karena Daddy sudah gendong Al. Kali ini biar Al yang suapi Daddy." Kata Gadis itu sambil tersenyum. "Baiklah. Ayo suapi Daddy." Al mengangguk mulai menyuapi Daddynya dengan telaten. Ia juga menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri bergantian dengan Alex. "Dad. Al pengen mangga." Kata Alesya. "Di kulkas sepertinya ada. Nanti coba tanya Bibi." Jawab Alex dan Alesya mengangguk.
"Ini mangganya Non." Bibi menaruh sekeranjang mangga di depan Al dan Alex yang sedang duduk bersama di dapur. Al menyentuh mangga yang tampak dingin itu. "Bukan begini Bi. Yang masih keras. Yang di makan pakai sambal gula itu." Alex tersenyum. Pada intinya Alesya ingin rujak. "Yang di buat rujak itu Non?" Tanya Bibi. "Hah?" Al bingung. Ia belum tau rujak. Tinggal lama di luar membuatnya tidak cukup familiar dengan makanan disini. "Iya Sayang. Buah yang dimakan pakai sambal gula itu namanya rujak." Ucap Alex sambil mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Kalau itu mangga mengkal Non. Mangga setengah matang yang masih keras. Kebetulan tidak ada." Alesya mengangguk. "Bibi beli mangga dimana?" Tanya Al. "Di supermarket Non." Jawabnya. "Ayo beli Dad. Aku pengen pilih sendiri." Alex menggeleng. "Biar dibelikan Bibi saja" Jawab Alex mencoba memberikan pengertian Alesya. Pria itu cukup takut membawa gadis itu keluar karena kejadian yang lalu. "Ayolah Dad. Al pengen pilih sendiri." Rengeknya membuat Alex menghela napas panjang. "Baiklah Sayang. Cium dulu." Katanya memanfaatkan kesempatan. Al langsung mencium Daddynya sesuai permintaan pria itu. "Bibi catat bahannya ya. Al pengen makan rujak." Alesya begitu antusias. "Baik Non."
"Mami kenapa?" Tanya Alvin melihat wanita itu pulang dengan mata sembab. "Mami ketemu Alesya Vin. Adikmu. Dia sangat cantik." Mami menangis lagi dalam pelukan putranya. "Dimana Mami bertemu?" Tanya Alvin sembari mengusap punggung Maminya dengan lembut. "Di supermarket. Dia sedang berbelanja dengan Alex." Jawabnya sambil sesenggukan. "Hati Mami terasa sakit ketika berada di dekatnya namun tak bisa memeluk. Ia begitu dekat dan menyayangi orang lain yang telah merawatnya. Dia tak mengenali Mami sebagai Ibunya Vin." Alvin menghela napas. "Semuanya butuh waktu Mam. Kita akan segera berkumpul lagi." Tuturnya berharap bisa membuat wanita dalam dekapannya itu lega.
"Nggak pedas kan?" Tanya Alex memastikan saat Bibi menyajikan sambal rujak di depan keduanya. "Tidak Pak. Seperti kemauan Bapak." Alesya mengangguk. "Terimakasih ya Bi." Gadi itu tersenyum sangat manis. "Sama sama Non. Bini permisi dulu." Jawabnya kemudian undur diri setelah mendapat anggukan. "Ayo makan." Al dengan semangat mengambil potongan buah dan mencocolkan ke sambal. "Jangan banyak banyak pakai sambal nya sayang. Perut kamu sakit nanti." Tutur Alex dan putrinya hanya mengangguk. "Daddy mau?" Tanyanya. Alex mengangguk kemudian membuka mulut untuk minta disuapi. "Asem banget. Nggak usah dimakan." Alex menyipitkan matanya merasakan mangga yang asam. "Enak Dad. Al masih mau lagi." Katanya. "Boleh ya?" Gadis itu memohon. "Jangan banyak banyak." Alex menuruti keinginan putrinya sambil mengelus kepala Al dengan lembut.